3 Kelemahan Eden Hazard di Real Madrid

Football5star.com, Indonesia – Real Madrid telah resmi merampungkan proses kepindahan Eden Hazard dari Chelsea beberapa waktu lalu. Dengan mahar sebesar 100 juta euro atau setara dengan Rp 1,61 triliun, pemain timnas Belgia itu resmi angkat koper dari Stamford Bridge.

Sejumlah pihak menganggap kedatangan Hazard akan membawa era baru di Santiago Bernabeu pada musim depan. Melihat pencapaian Hazard di Chelsea musim ini, tentu tak salah anggapan tersebut.

Namun jika melihat Hazard secara keseluruhan, ada beberapa hal yang membuatnya bisa menjadi pemain tak berguna di Real Madrid pada musim depan. Berikut 3 kelemahan Eden Hazard di Real Madrid.

Tak punya daya juang

Sebagai seorang gelandang serang, Eden Hazard tak dipungkiri memiliki kapasitas dan skill yang diidam-idamkan banyak klub besar Eropa. Namun salah satu kelemahan Hazard yang bisa jadi masalah di Real Madrid ialah soal tak punya daya juang.

5 Bintang Real Madrid yang Terancam dengan Kedatangan Eden Hazard - 4RMAEVER

Asisten pelatih Chelsea, Gianfranco Zola mengatakan bahwa Hazard sempat frustasi karena harus memainkan sejumlah posisi berbeda. Menurut Zola, soal bekerja keras, Hazard tak memilikinya.

“Kami meminta Eden Hazard untuk bekerja keras meski tahu itu bukan kualitas terbaiknya,” ujar Zola seperti dikutip dari fourfourtwo, Senin (10/5/2019).

Ditambahkan Zola, Hazard tak suka jika harus memainkan sejumlah posisi berbeda dari kebiasaannya. Hal itu yang membuat Hazard pada awal musim 2018-19 sempat bersitegang dengan jajaran kepelatihan Chelsea.

“Saya yakin kami berusaha memberikan pengertian terhadap Hazard meski ia juga punya kewajiban untuk mengorganisasi lini serang dan pertahanan,” kata Zola.

Tidak haus gol

Real Madrid pada musim 2018-19 alami kondisi yang tak mengenakkan. Mereka gagal merengkuh satu piala pun di akhir musim. Sumber masalahnya dianggap banyak orang karena tak memiliki sumber mesin gol.

Datangnya Eden Hazard diharapkan bisa mengubah kondisi tersebut. Namun, jika melihat kondisi Hazard, sepertinya sulit untuk berharap Hazard bisa memainkan peran seperti Cristiano Ronaldo di Juventus.

Paul Scholes, sempat mengatakan bahwa salah satu yang jadi kelemahan Hazard dibanding pemain lain ialah soal urusan mencetak gol. Scholes melihat Hazard tak haus gol.

“Pemain-pemain itu memiliki rasa lapar yang menakutkan. Mereka tak pernah bisa dihentikan. Sementara itu di mata saya Hazard terlihat memiliki jiwa yang lembut, seseorang yang bahagia bisa melewati beberapa lawan hanya untuk memberikan umpan matang kepada rekan setim,” kata Scholes seperti dikutip dari bbc.

Selain itu kata eks pemain Man United tersebut, Hazard tak memiliki faktor kejut yang biasa dimiliki pemain berlabel bintang. Tak mengherankan menurut Scholes jika Hazard hanya jadi pemain bintang lapis kedua.

“Ia memang tidak terlalu unggul jauh dari pemain seperti Harry Kane, juga tidak memiliki “faktor-wow” seperti dua pemain hebat di Barcelona dan Real Madrid,”

Bukan tipikal pemimpin

Disadari atau tidak, hengkangnya Ronaldo ke Juventus membuat Real Madrid gamang. Kedatangan Hazard tentu jadi jawaban yang coba diberikan pihak manajemen terhadap kondisi tersebut.

Sosok Ronaldo sejak awal kedatangan ke Real Madrid, faktanya memang tidak sekedar jadi mesin pencetak gol. Ia juga dianggap mampu menjadi pemimpin di dalam tim, terbukti ia beberapa kali menjadi kapten Real Madrid.

Sayangnya jiwa pemimpin tak ada di dalam diri Hazard. Pemain timnas Belgia itu menurut pelatih Chelsea, Maurizio Sarri bermain hanya untuk dirinya sendiri.

“Dia bermain untuk dirinya sendiri, ia pemain yang memiliki insting alami” kata Sarri seperti dikutip dari mirror.

“Saat ini ia bukan seorang pemimpin, saya pikir ia harus berbuat lebih banyak.”tambah Sarri.

Karakter Hazard ini yang memang sempat membuatnya panen kritikan dari banyak pihak. Eks pemain Lille itu dianggap pemain egois yang hanya ingin menunjukkan skill seorang sendiri dan sulit untuk bekerja secara tim.

Hazard dianggap lemah untuk bisa memberi motivasi kepada rekan-rekannya. Sarri mengakui itu saat ia masih membela Chelsea. “Sangat sulit memotivasi mereka, namun bukan tak mungkin.”

Comments
Loading...