5 Momen Kontroversial Inter Milan vs Juventus

Football5star.com, Indonesia – Pertandingan dengan tajuk Derby d’Italia akan tersaji di pekan ke-34 Liga Italia, Minggu 28 April 2019, Inter Milan vs Juventus.

Meski Juventus sudah berstatus sebagi tim peraih gelar scudetto musim ini, laga kedua tim sangat sayang untuk dilewatkan. Alasannya tentu saja rekam jejak pertemuan kedua tim ini, utamanya di era 1980 hingga 1990.

Di era tersebut, pertandingan kedua tim selalu hadirkan cerita-cerita menarik baik di dalam ataupun di luar pertandingan. Penamaan derby d’Italia sendiri baru muncul di era 1960.

Ialah wartawan ternama Italia, Gianni Brera yang memberikan pertandingan kedua tim dengan tajuk tersebut. Alasan Brera karena pertandingan kedua tim merupakan pertemuan tim terbanyak peraih gelar scudetto.

Dari sekian banyak cerita dan momen seru pertandingan kedua tim, berikut football5star.com rangkumkan 5 momen kontroversial pertandingan Inter Milan vs Juventus:

Kemenangan Terbesar & Kontroversi Pertama

10 Juni 1961 menjadi hari tak terlupakan bagi Interisti. Di hari itu, Inter Milan merasakan kekalahan terbesar mereka di pertandingan melawan Juventus.

Bukan 4-0 atau 5-0 hasil akhirnya, tapi 9-1. Pertandingan pada hari itu sebenarnya laga ulangan pada April 1960. Pada lag April 1960, Inter Milan hingga menit ke-30 sudah unggul 2-0.

Mendadak para suporter Juventus melakukan invansi ke lapangan, mereka tak terima dengan hasil memalukan tersebut. Tentu saja wasit memutuskan untuk menghentikan pertandingan.

repubblica.it

Inter kemudian meminta bahwa hasil pertandingan tersebut dimenangkan oleh mereka. Federasi sepak bola Italia, FIGC tak mau buru-buru memutuskan.

FIGC malah baru memutuskan soal status pertandingan tersebut mendekati musim 1960-1961 berakhir. Di pimpin oleh presiden FIGC, Umberto Agnelli yang juga presiden Juventus, federasi putuskan laga April 1960 diulang kembali.

Tentu saja keputusan ini sangat kontroversial. Alasannya Inter Milan di musim itu tinggal membutuhkan 1 poin untuk mendapat gelar scudetto.

Sejumlah pihak menganggap keputusan itu hanya cara untuk gagalkan gelar Inter dan menyerahkannya kepada Juventus. Pelatih Inter saat itu, Helenio Herrera protes keras.

Sebagai bentuk protes pada keputusan itu, Herrera di laga ulangan melawan Juventus memutuskan menurunkan semua pemain mudanya. Skor telak pun tercipta dan gelar scudetto melayang ke Juventus.

Ronaldo vs Mark Iuliano

Pada musim 1997-1998, Inter Milan digadang-gadang jadi kandidat terkuat scudetto musim itu. Presiden Inter Milan, Massimo Moratti gelontorkan dana besar untuk membeli sejumlah pemain bintang.

Salah satu rekrutan yang paling menyita perhatian tentu saja mendatangkan I Fenomeno, Ronaldo Luiz Nazario de Lima dari Barcelona. Selain Ronaldo, Inter Milan juga berhasil datangkan Diego Simeone dari Atletico Madrid dan Alvaro Recoba dari Nacional.

Kedatangan ketiga pemain ini melengkapi skuat Luigi Simoni yang sudah diisi pemain tenar seperti Gianluca Pagliuca, Giuseppe Bergomi, Youri Djorkaeff, serta Ivan Zamorano.

Inter percaya diri di musim itu. 10 pertandingan awal, mereka mampu meraih 8 kemenangan tanpa terkalahkan. Petaka datang saat pekan ke-31 saat harus melawat ke Turin.

Pada pertemuan pertama, Inter sebagai tuan rumah sukses menang 1-0 atas Juventus. Namun, di laga kedua tersebut, Inter Milan menyerah 0-1.

Kekalahan ini kemudian menimbulkan pro kontra. Wasit yang memimpin pertandingan, Piero Ceccarini dianggap memihak kubu Nyonya Tua.

Utamanya di insiden antara Ronaldo dengan Mark Iuliano di dalam kotak penalti. Insiden bermula saat Inter mendapat kesempatan balik cepat.

Duet Zamorano-Ronaldo buat kocar kacir pertahanan Juventus. Liukan Ronaldo menghindari terjangan bek Juventus lainnya, justru berakhir dengan bodycheck antara dirinya dan Iuliano.

Cecccarini tak pedulikan protes pemain Inter. Ia justru memberi hadiah penalti kepada Juventus tak lama setelah insiden itu. Beruntung Pagliuca mampu patahkan sepakan Del Piero.

Pertemuan Pertama Setelah Calciopoli

Skandal Calciopoli buat geger sepak bola Italia. Juventus jadi salah satu korban dari skandal memalukan ini. Gelar juara dicabut dan mereka harus berkompetisi di Serie B musim 2006-2007.

Semusim berada di kasta kedua, Juventus kembali promosi ke Serie A musim 2007-2008. Mereka pun mengusung rasa dendam kepada Inter Milan, tim yang sangat diuntungkan dengan ketidakhadiran mereka di Serie A.

zimbio.com

Bukan saja gelar Scudetto musim 2005-2006 harus diserahkan kepadan Inter Milan, sejumlah pemain Juventus pun dibajak oleh La Beneamata. Zlatan Ibrahimovic dan Patrick Vieira ogah jika harus bermain di kompetisi kasta kedua.

Pertemuan keduanya pada 4 November 2007 pun sangat terasa aroma dendamnya. Roberto Mancini yang saat itu tukangi Inter Milan langsung menurunkan Ibrahimovic sejak menit pertama.

Tekanan datang bagi striker Swedia ini. Juventus sebagai tuan rumah memanfaatkan dukungan fans untuk lancarkan teror ke Ibrahimovic.

Hasilnya memang cukup positif. Juventus yang berstatus tim promosi mampu menahan imbang juara bertahan, Inter Milan 1-1. Gol dicetak oleh Julio Cruz dan Mauro Camoranesi.

Tindakan Rasial dan Kartu Merah The Spesial One

Pada musim 2009-2010, derby d’Italia juga sarat dengan drama. Pertemuan keduanya di markas Juventus berakhir dengan skor 2-1 untuk tim tuan rumah.

Keduanya menuliskan surat terbuka meminta suporter Juventus tidak melakukan tindakan rasial kepada Balottelli di laga itu. Nyatanya seruan itu hanya angin lalu bagi sejumlah suporter.

telegraph.co.uk

Sebelum laga berlangsung, sejumlah pihak kala itu mengkhawatirkan adanya dugaan tindakan rasial yang ditujukan kepada striker Inter, Mario Balotelli. Meski sebatas rumor, Jean-Claude Blanc dan janda dari legenda Juventus, Gaetano Scirea, Mirella Scirea, sampai bersuara untuk hal ini.

The Special One mendapat kartu merah karena protes kerasnya terhadap wasit. Pria Portugal menganggap Massimiliano Saccani terlalu berat sebelah.

Saat tiba di Turin, bus rombongan Juventus dilempari telur oleh suporter Juventus. Pertandingan ini sendiri berlangsung dengan tensi tinggi.

Sebanyak 6 kartu kuning dan 2 kartu merah keluar dari kantong wasit. Satu kartu merah diberikan kepada pencetak gol Juventus, Felipe Melo pada menit ke-86. Satu kartu lagi untuk pelatih Inter Milan, Jose Mourinho.

Pada Inter vs Juventus ini juga sempat terjadi insiden antara Gianlugi Buffon dengan gelandang Inter, Thiago Motta.

Kemenangan Pertama Inter Setelah 7 musim

Sejak menang di markas sendiri, Stadion Giuseppe Meazza pada 16 April 2010, Inter tak mampu lagi meraih kemenangan atas Juventus di Serie A meski berstatus tuan rumah. Setelah 7 musim tak mampu memetik kemenangan di markas sendiri atas Juventus, Inter mampu meraihnya lagi pada 18 September 2016.

Pada laga tersebut, wasit Paolo Tagliavento mengeluarkan 7 kartu kuning. 4 untuk tim tuan rumah, 3 untuk tim tamu. Kartu kuning kedua bagi gelandang Inter, Ever Banega, membuatnya terusir pada menit ke-90.

Dua gol kemenangan Inter pada laga tersebut dicetak oleh Mauro Icardi dan Ivan Perisic, sedangkan satu gol Juventus dicetak oleh Stephan Lichtsteiner pada menit ke-66.

Comments
Loading...