5 Penentuan Juara Paling Dramatis di Bundesliga 1

Football5Star.com, Indonesia – Penentuan juara Bundesliga 1 musim ini harus berlangsung pada pekan terakhir. Kegagalan Bayern Munich menang atas RB Leipzig pada pekan ke-33 membuat mereka hanya unggul dua poin atas Borussia Dortmund yang menang 3-2 atas Fortuna Duesseldorf.

Pada akhirnya, Bayern Munich kembali menjuarai Bundesliga 1 berkat kemenangan 5-1 atas Eintracht Frankfurt. Mereka unggul dua poin atas Dortmund yang menang 2-0 atas Borussia Moenchengladbach.

Penentuan juara hingga pekan terakhir sejatinya bukan hal baru pada kancah Bundesliga 1. Musim ini adalah kali ke-24 hal itu terjadi. Bagi Bayern Munich, ini adalah kali ke-13 mereka menjalani drama pekan terakhir.

Dari 23 musim terdahulu, ada beberapa penentuan juara yang diwarnai drama. Berikut ini, Football5Star.com menyajikan 5 penentuan juara paling dramatis di Bundesliga 1.

1. Schalke Juara Sesaat (2000-01)

Tendangan bebas patrik Andersson membuat Bayern Munich juara pada musim 2000-01.
abendzeitung-muenchen.de

Penentuan juara paling dramatis di Bundesliga 1 tentu saja musim 2000-01. Bayern Munich baru memastikan gelar lewat gol pada detik terakhir injury time pekan ke-34. Gol yang dicetak Patrik Andersson itu menyamakan kedudukan jadi 1-1 dan membuat mereka unggul satu poin dari FC Schalke 04.

Kubu Schalke sempat melakukan selebrasi juara setelah memastikan kemenangan 5-3 atas SpVgg Unterhaching. Pasalnya, di Volksparkstadion, Hamburg unggul 1-0 atas Bayern. Namun, pasta itu hanya berlangsung 4 menit 38 detik.

Gara-garanya, di Volksparkstadion, Bayern mendapatkan tendangan bebas di dalam kotak penalti karena kiper Matthias Schober menangkap back pass. Tendangan keras Andersson lantas merobek gawang Hamburg dan menghentikan pesta Schalke di Gelsenkirchen.

“Itu sedikit keajaiban. Momen itu akan selalu ada di kepala saya,” kisah Andersson pada 2017 seperti dikutip Football5Star.com dari Abendzeitung Muenchen. “Saat itu, Michael Tarnat dan Mehmet Scholl tak ada di lapangan. Effe sebelumnya telah melakukan beberapa tendangan bebas. Dia lantas menyuruh saya karena tahu tendangan saya keras.”

Hal yang menarik, gol penentu juara itu adalah satu-satunya gol yang dibuat Andersson selama berkostum Die Roten.

2. Tragedi Gol Bunuh Diri Ballack (1999-00)

Gol bunuh diri Michael Ballack membuka mimpi buruk Bayer Leverkusen pada pekan terakhir Bundesliga 1 musim 1999-00.
sport1.de

Danke Unterhaching. Itulah tulisan yang dibentangkan para pemain Bayern Munich saat merayakan pesta juara musim 1999-00. Tanpa pertolongan sang tetangga, Die Roten memang tak bakal juara.

Juara Bundesliga musim itu harus ditentukan pada pekan terakhir karena Bayer Leverkusen hanya unggul tiga poin dari Bayern, tapi kalah dalam selisih gol. Pada pekan terakhir, Die Werkself menghadapi Unterhaching yang berada di posisi ke-10, sedangkan Bayern harus melawan Werder Bremen yang menghuni posisi ke-7.

Leverkusen hanya butuh hasil imbang untuk juara. Namun, satu poin itu gagal didapatkan. Michael Ballack membuka mimpi buruk dengan gol bunuh dirinya pada menit ke-21. Lalu, Markus Oberleitner, eks pemain Bayern Amatir, menggandakan keunggulan Unterhaching pada menit ke-72. Selepas pertandingan, Ballack yang sangat terpukul menangis di bangku cadangan.

Kekalahan itu membuat Die Werkself gagal juara. Pasalnya, Bayern menang 3-1 atas Bremen. Disalip pada pekan terakhir, striker Ulf Kirsten tak habis pikir. “Apa kesalahanku sehingga aku tak pernah jadi juara Liga Jerman?” ucap dia seperti dikutip dari laman resmi DFB.

3. Gol Abadi Buchwald (1991-92)

Gol Guido Buchwald hanya 4 menit jelang akhir laga membawa VfB Stuttgart juara Bundesliga 1991-92.
dfb.de

Persaingan juara hingga pekan terakhir pada musim 1991-92 bukan hanya melibatkan dua klub, melainkan tiga klub sekaligus. Musim itu, setiap tim harus menjalani 38 pertandingan sebagai efek penggabungan liga Jerman Barat dengan Jerman Timur.

Setelah melalui 37 pekan, VfB Stuttgart, Borussia Dortmund, dan Eintracht Frankfurt sama-sama memiliki 50 poin. Frankfurt punya keunggulan selisih gol. Mereka unggul enam gol dari Stuttgart. Tak pelak, nasib sepenuhnya ada di tangan mereka.

Akan tetapi, justru Dortmund yang mengambil alih puncak klasemen berkat gol Stephane Chapuisat pada menit ke-9 di kandang MSV Duisburg. Hal itu bertahan hingga enam menit jelang laga usai. Di kandang Bayer Leverkusen, Stuttgart unggul 2-1 berkat tandukan Guido Buchwald.

Pada akhirnya, Stuttgart tampil sebagai juara karena Frankfurt justru kalah di kandang Hansa Rostock. Stefan Boeger membuat mereka kalah 1-2 dan kehilangan gelar juara yang sudah ada di depan mata. Hingga saat ini, para fan Die Adler menilai hari kegagalan itu sebagai tragedi terbesar.

“Tim dengan nyali paling besar adalah Borussia Dortmund. Permainan sepak bola ditunjukkan Eintracht Frankfurt. Namun, VfB Stuttgart menjadi juara karena mereka adalah tim terpandai,” kata Berti Vogts seperti dikutip dari laman DFB.

4. Kudeta Tanpa Akhir Sempurna (1970-71)

Bayern Munich terpeleset pada pekan terakhir musim 1970-71 sehingga Borussia Moenchengladbach juara Bundesliga 1.
br,de

Disalip pada pekan terakhir dialami Bayern Munich pada musim 1970-71. Bersaing ketat dengan Borussia Moenchengladbach sejak awal musim, Die Roten harus mengakui kegagalan karena kesalahan pada pekan terakhir di kandang MSV Duisburg.

Saat kompetisi memasuki pekan ke-26, Bayern berhasil memepet perolehan Gladbach yang berada di puncak klasemen. Kedua tim hanya terpaut satu poin. Empat pekan kemudian, perolehan kedua klub menjadi sama, 42 poin. Namun, Die Fohlen tetap berada di puncak klasemen dengan keunggulan selisih empat gol.

Tak dinyana, pada pekan ke-33, Bayern mampu mengudeta Gladbach dengan keunggulan selisih satu gol. Namun, semuanya sia-sia karena Franz Beckenbauer cs. kalah 0-2 di kandang Duisburg. Sementara itu, Jupp Heynckes dkk. menang 4-1 di kandang Eintracht Frankfurt.

Terlepas dari perlawanan ketat yang diberikan Bayern sepanjang musim, Heynckes menilai Gladbach memang lebih pantas juara. “Saat itu, kami bermain sepak bola seperti dari galaksi lain,” ungkap dia seperti dikutip dari laman resmi DFB.

5. Selusin Gol Sia-Sia di Rheinstadion (1977-78)

Kemenangan 12-0 tak membawa Borussia Monechengladbach juara Bundesliga 1 pada musim 1977-78.
n-tv.de

Musim ini, 1.FC Koeln tampil luar biasa. Dimotori Dieter Mueller, Heinz Flohe dan Roger van Gool, Die Geissboecke sudah memuncaki klasemen pada pekan ke-13 dan tak tergeser lagi hingga akhir musim.

Akan tetapi, perlawanan sengit yang diberikan Borussia Moenchengladbach membuat Koeln baru bisa memastikan gelar juara pada pekan terakhir. Pada pekan terakhir itu, mereka hampir saja tergeser oleh sang seteru utama.

Memasuki pekan ke-34, Koeln dan Gladbach sama-sama mengoleksi 46 poin. Namun, Die Geissboecke berada di puncak karena unggul 10 gol dalam perhitungan selisih gol. Tak heran bila tak banyak yang mengunggulkan Gladbach untuk mencuri gelar pada pekan terakhir.

Toh, keajaiban hampir saja tersaji. Di Stadion Rhein, Gladbach secara luar biasa melumat Borussia Dortmund dengan skor 12-0. Itu adalah rekor kemenangan terbesar di Bundesliga 1 hingga saat ini. Namun, selusin gol itu jadi sia-sia karena Koeln menang 5-0 St. Pauli. Dieter Mueller cs. unggul tiga gol di klasemen akhir.

Comments
Loading...