5 Tugas Berat Mochamad Iriawan Sebagai Ketua Umum PSSI Baru

Football5Star.com, Indonesia – Mochamad Iriawan telah resmi menjabat sebagai Ketua PSSI baru Periode 2019-2023 mendatang. Iriawan terpilih sebagai ketua dari Kongres PSSI yang dilaksanakan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (2/11/2019).

Posisi Mochamad Iriawan sebagai Ketua Umum PSSI akan dibantu oleh dua wakilnya, yakni Iwan Budianto dan Cucu Soemantri. Keduanya terpilih sebagai Waketum PSSI pada kongres yang sama.

Sejumlah tugas berat sudah berada di depan mata mereka yang memimpin PSSI dalam 4 tahun kedepan. Setidaknya, Football5Star.com mengulas ada 5 poin penting dalam tugas berat mereka di periode PSSI selanjutnya.

Benahi Internal PSSI, Harus Transparan

Benahi internal PSSI nampak menjadi masalah yang paling krusial di federasi sepak bola Indonesia tersebut. Bagaimana tidak, pada periode sebelumnya, tercatat ada 5 Exco PSSI yang tertangkap dalam lingkaran pengaturan skor.

PSSI pun harus transparan kepada publik terkait laporan keuangan dalam pengelolaan sepak bola Indonesia. Selama ini, laporan keuangan PSSI tidak terdapat info telah diaudit oleh akuntan publik atau belum. Laporang keuangan PSSI seperti sangat sulit untuk diketahui, dan ini yang sangat perlu dibenahi kedepannya.

Tingkatkan Kualitas Kompetisi

Kompetisi yang berkualitas akan menghasilkan timnas yang juga berkualitas. Jalannya kompetisi harus menjadi sorotan serius PSSI untuk membenahi sepak bola Indonesia, yang berujung kepada Timnas Indonesia.

Dimulai dari Liga 3, 2, hingga Liga 1 harus memiliki road map yang jelas untuk dijalankan. Terutama mengenai penjadwalan di liga, dimana sebisa mungkin harus tegas dan sesuai dalam menentukan jadwal tanding, dan harus mengurangi laga-laga yang ditunda kecuali dalam kondisi darurat (force majure, dll).

Jenjang kompetisi usia dini telah dijalankan dengan adanya turnamen Elite Pro Academy yang diadakan PSSI mulai tahun 2018 lalu. Jenjang-jenjang kompetisi usia dini serta fasilitas penunjang dari kompetisi usia dini harus dibenahi.

Kompetisi Putri pun kedepannya harus memiliki road map yang jelas. Liga 1 Putri yang telah terselenggara di tahun 2019 ini kerap ditemui kacau dalam jarak penjadwalan pertandingan.

Kedepannya, regulasi kompetisi pun harus diberlakukan secara mengikat, jelas dan tak pandang bulu untuk mengatur semua klub yang berkompetisi.

Dongkrak Indonesia di Ranking FIFA

Miris memang melihat ranking Indonesia dalam daftar FIFA sekarang ini. Indonesia terjun bebas ke peringkat 171 di bulan Oktober 2019 buntut dari buruknya performa di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022.

Kedepannya, PSSI harus meramu cara mulai dari akar untuk timnas berprestasi. Mulai dari kompetisi usia dini, hingga kualitas kompetisi terutama di Liga 1.

Cegah Tindakan Anarkis Suporter

Anarkisme suporter yang terjadi di tahun 2019 masih banyak terjadi. Contoh terdekat adalah kerusuhan di laga PSIM Yogyakarta kontra Persis Solo beberapa waktu lalu, serta saat kerusuhan usai laga Persebaya Surabaya melawan PSS Sleman.

PSSI harus memberikan efek jera yang langsung dirasakan oleh para suporter klub. Denda uang yang dijatuhkan kepada klub ketika suporter berbuat onar selama ini sama sekali tidak efektif untuk menumpas kerusuhan suporter.

Brantas Mafia Bola

Masalah mafia bola memang sulit untuk diberantas, namun bukan berarti tidak bisa untuk diberantas. Pengalaman Mochamad Iriawan sebagai Komisaris Jenderal di Kepolisian Republik Indonesia tentunya bisa menjadi modal awal dirinya memberantas permainan mafia bola di Indonesia.

Dimulai dari internal di PSSI, pria yang akrab disapa Iwan Bule itu wajib mengawasi dan harus tegas menindak jikalau ada di internal PSSI yang melakukan tindak pengaturan skor atau permainan dari mafia bola lainnya.