Abedi “Pele” Ayew, Legenda Afrika yang Bikin Keki Publik San Siro

Football5star.com, Indonesia – Dari sekian banyak pesepak bola berbakat dari benua Afrika, nama Abedi Ayew mungkin yang dianggap paling sensasional. Ia lebih dikenal dengan sebutan Abedi Pele, nama Pele tentu merujuk pada legenda Brasil. Selain diberi nama Pele, Abedi juga acapkali dijuluki The African Maradona.

Abedi jadi salah satu pesepak bola yang dianggap memiliki skill gabungan antara Pele dan Maradona. Nama Pele melekat pada nama belakanganya sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

Teman-teman satu sekolahnya memberi julukan Pele karena kemampuannya yang sangat mirip dengan legenda Brasil itu. Bola sangat lekat dengan kakinya, ia memiliki kecepatan dan gocekan khas Samba. Sepak bola memang sudah melekat pada pria yang lahir di Kibi, Ghana pada 5 November 1964 tersebut.

Abedi Pele Ayew, Legenda Afrika yang Bikin Keki Publik San Siro2

Keluarga Adebi kemudian memutuskan pindah ke Dome, daerah pinggiran ibukota Accra. Waktu muda Adebi pun dihabiskan di kota ini dan sepak bola jadi kegiatan yang selalu ia lakukan di waktu luang.

Pada usia 6 tahun, Abedi masuk ke tim lokal bernama Great Falcons. 8 tahun ia menimba ilmu sepak bola di tempat ini. Skill sepak bolanya mulai dilirik banyak pihak saat ia bermain di klub Liga Ghana, Real Tamale United. Berposisi sebagai gelandang serang, Abedi terbilang cukup produktif.

Ia catatkan 21 gol dari 46 penampilan bersama United. Dua tahun main di Ghana, ia merantau ke Qatar dan bergabung ke Al Sadd. Semusim di liga Qatar, jalan Abedi main di Eropa terbuka saat ia bergabung ke Liga Swiss bersama Zurich.

Bikin keki publik San Siro

Singkat cerita, karier Abedi benar-benar jadi pusat perhatian publik sepak bola dunia baru pada 1987 atau saat usianya 23 tahun. Di usia emasnya itu, ia jadi salah satu aktor yang bikin keki publik San Siro, Milan.

Di tahun itu, Abedi bermain untuk klub Ligue 1, Marseille. Sebelumnya ia harus merasakan jatuh bangun bermain di Eropa. Gagal di Swiss, ia sempat bermain di Liga Benin hingga harus bermain di klub kecil Prancis, Chamois Niortais dan Mulhouse.

Pada 1991, Marseille jumpa AC Milan di babak perempat final Liga Champions. Pada leg pertama, kubu tuan rumah tentu lebih diunggulkan. Maklum saja anak asuh Arrigo Sacchi berstatus juara bertahan. Namun Marseille datang ke San Siro dengan keyakinan lebih.

Abedi Pele Ayew, Legenda Afrika yang Bikin Keki Publik San Siro

Pada babak sebelumnya mereka menghantam wakil Polandia dengan skor telak 6-1 pada lag kedua. Di leg pertama mereka kalah tipis 2-3 dari Lech Poznań. Bermaterikan pemain seperti Philippe Vercruysse, hingga Jean-Pierre Papin, Marseille tampil percaya diri di San Siro.

Abedi sendiri bukan sosok tak dianggap di skuat asuhan Raymond Goethals. Ia jadi aktor yang membuat Papin menjadi mesin gol untuk Marseille. Terbukti di Milan, Marseille mampu menahan imbang 1-1 sang juara bertahan. Di leg kedua, sihir Abedi bikin Sacchi garuk-garuk kepala.

Jika Milan memiliki trio Belanda, Rijkaard, Gullit dan Van Basten, Marseille pun memiliki trio lini depan yang bikin Franco Baresi dkk keteteran. Jean-Pierre Papin, Chris Waddle dan Abedi Ayew sukses menghipnotis para penonton dengan skill tingkat tinggi.

Kelak ketiga pemain ini sempat dijuluki ‘The Magical Trio” oleh publik sepak bola Prancis.

“Orang Ghana ini diberkati oleh Tuhan kemampuan mengolah bola. Kualitas tak terwujud seperti perpanjangan alami tubuhnya. Para pemain lawan seperti ketakutan saat ia mulai menguasai bola,” tulis Thesefootballtimes, Selasa (29/12/2020).

Sayang di final, Marseille kalah adu penalti dari Red Star. Gelar Liga Champions yang kemudian mereka raih pada 1992-93 pun dianggap aib karena skandal kasus penyuapan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More