[KOLOM] Buru Pemain Keturunan, Indonesia Tiru Italia atau Irlandia?

Football5Star.com, Indonesia – Akhir bulan lalu, ada sebuah pernyataan menarik dari Shin Tae-yong, pelatih timnas Indonesia. Dia mengatakan sempat mengobservasi 30 pemain keturunan yang berkiprah di luar negeri untuk timnas U-19 yang diproyeksikan berlaga di Piala Dunia U-20 2021.

Dari jumlah itu, menurut Shin Tae-yong, ada 9 nama yang akhirnya masuk rekomendasi. Empat di antaranya bergabung pada pemusatan latihan di Kroasia. Mereka adalah Elkan Baggott, Jack Brown, Kelana Noah Mahesa, dan Luah Fynn Jeremy Mahesa. Publik sepak bola Indonesia kini tengah meraba-raba siapa kiranya lima nama lain yang ada di kantong sang pelatih.

Tak bisa dimungkiri, peran pemain keturunan di timnas U-19 Indonesia terbilang besar. Saat menjalani rangkaian uji tanding di Kroasia, kualitas Elkan Baggott terbukti membuat pertahanan lebih solid. Sementara itu, Jack Brown jadi salah satu mesin gol meskipun sempat tak dimainkan oleh Shin Tae-yong pada beberapa laga awal.

Kelana Mahesa menambah jumlah pemain keturunan di timnas U-19 Indonesia.
pssi.org

Perekrutan pemain keturunan untuk timnas U-19 tidak terlepas dari kebijakan Ketum PSSI Mochamad Iriawan alias Iwan Bule. Salah satunya terkait pemain naturalisasi. Dia sempat mengungkapkan tak akan lagi menaturalisasi pemain tua, tapi membuka kemungkinan untuk pemain muda. Kontroversi sempat muncul ketika sejumlah pemain muda Brasil merapat ke klub-klub Indonesia beberapa waktu lalu.

Langkah PSSI dan timnas Indonesia juga bukan sesuatu yang istimewa. Bertahun-tahun lalu, beberapa negara sudah melakukan itu. Memantau dan coba merekrut pemain keturunan di luar negeri adalah hal lumrah. Turki sampai menaruh scout khusus di Jerman. Makedonia Utara yang dihadapi David Maulana cs. pada bulan lalu juga pernah melakukan pendekatan kepada Dejan Kulusevski saat masih berumur 15 tahun.

Sesuai Statuta FIFA

Berbicara soal perekrutan pemain keturunan, kita tentu tak bisa mengabaikan keabsahan mereka. Mengenai hal ini, Direktur Teknik Indra Sjafri sempat mengungkapkan, pihaknya tak sembarangan. Nama-nama yang masuk rekomendasi akan ditelaah oleh bagian legal PSSI. “Apakah secara undang-undang itu oke atau secara statuta FIFA memungkinkan,” kata Indra.

Jack Brown, pemain keturunan Indonesia-Inggris yang lahir di Jakarta.
pssi.org

Sebelumnya, saat mengakui adanya kebijakan merekrut pemain keturunan untuk timnas U-19, dia memastikan para pemain tersebut harus sudah memiliki paspor Indonesia.

Memegang paspor negara bersangkutan memang jadi syarat mutlak dan mendasar bagi seorang pemain membela negara tertentu di pentas internasional. Selain itu, berlaku pula asas ius soli dan ius sanguinis. Seorang pemain bisa membela sebuah negara apabila lahir di negara tersebut atau memiliki garis keturunan dari negara tersebut. Hal itu jelas tertuang dalam Pasal 5 dan 6 Bab Eligibility to play for representative teams pada Statuta FIFA.

Artinya, dari kacamata FIFA, status Elkan Baggott dkk. sudah legal. Mereka punya orang tua yang berasal dari Indonesia. Bahkan, Jack Brown lahir di Jakarta meskipun lantas ikut orang tuanya untuk menetap di Inggris.

Status Pemain Keturunan di UU

Lalu, bagaimana status kewarganegaraan mereka menurut undang-undang? Untuk menjawabnya, kita perlu menengok UU No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan atau kerap disebut UU Kewarganegaraan. Secara khusus, kita harus menelaah aturan soal status kewarganegaraan anak dari hasil perkawinan WNI dengan WNA.

Pada Pasal 6 UU Kewarganegaraan dinyatakan, anak dari perkawinan campuran akan memiliki kewarganegaraan ganda. Status tersebut hanya berlaku sampai dengan umur anak 18 tahun. Setelah anak berusia 18 tahun atau sudah menikah, anak tersebut harus memilih salah satu kewarganegaraan, sebagai WNI atau WNA.

Meskipun demikian, dalam penerapannya, aturan ini memiliki kelonggaran. Seorang anak hasil perkawinan campuran antara WNI dan WNA memiliki waktu tambahan 3 tahun setelah berumur 18 tahun atau menikah untuk menyerahkan pernyataan secara tertulis. Bila tak mengajukan jadi WNI, dia otomatis jadi WNA.

Menilik hal itu, status Elkan Baggott, Jack Brown, dkk. terbilang aman dari sisi perundang-undangan yang berlaku. Andai Pasal 6 UU Kewarganegaraan berlaku saklek, tentu seharusnya mereka menempuh jalur naturalisasi biasa untuk jadi WNI andai tak memilih opsi itu saat berumur 18 tahun.

Pemain Keturunan Demi Piala Dunia U-20?

Luis Monti jadi salah satu oriundi yang membawa timnas Italia juara Piala Dunia 1934.
sportswallah.com

Pertanyaannya kemudian, apa sesungguhnya yang menjadi alasan perekrutan pemain keturunan ini ke timnas U-19? Apakah semata-mata demi meyukseskan event Piala Dunia U-20 2021 yang akan berlangsung di negeri ini?

Indra Sjafri tak menampik hal itu. “Kita punya target tinggi. Itu dibebankan pemerintah, PSSI,” urai Indra. “Oleh sebab itu lakukan terobosan-terobosan untuk bisa lebih baik. Apa itu? Mencari pemain keturunan yang sudah punya paspor Indonesia. Kenapa? Karena di dunia mana pun yang boleh ke timnas, hanya yang punya paspor Indonesia.”

Sebagai tuan rumah, Indonesia tentu ingin sukses. Awalnya, Garuda Muda dituntut masuk semifinal. Namun, atas arahan Presiden Joko Widodo, target itu diturunkan jadi menembus 16-besar. Lalu, Indonesia pun tentu ingin sukses dalam penyelenggaraan, terutama soal animo penonton. Nah, pemain keturunan bisa menjadi katalisatornya.

Andai demikian, Indonesia boleh dikatakan meniru jejak Italia hampir 9 dekade silam. Saat itu, demi juara Piala Dunia 1934, Benito Mussolini memerintahkan perekrutan pemain-pemain berdarah Italia yang ada di luar negeri, terutama di Argentina dan Brasil.

Hasilnya, Luis Monti, Raimundo Orsi, Enrique Guaita, dan Anfilogino Guarisi jadi jajaran oriundi di skuat Gli Azzurri asuhan Vittorio Posso. Patut dicatat, Monti adalah penggawa timnas Argentina saat kalah dari Uruguay pada final Piala Dunia 1930. Berbekal para oriundi itu, Gli Azzurri akhirnya juara.

Indonesia Kekurangan Talenta Muda?

Jika bukan itu, apakah Indonesia kekurangan talenta bagus untuk mengisi timnas? Bila iya, apakah kondisi saat ini sudah separah Irlandia era kepelatihan mendiang Jack Charlton yang mengekploitasi granny rules? Kala itu, Charlton terang-terangan angkat tangan bila diminta membawa Irlandia bicara di dunia dengan hanya mengandalkan talenta-talenta lokal.

“Jika Anda ingin saya bersaing dengan tim-tim terbaik dunia, saya harus punya pemain-pemain terbaik di dunia. Mereka tidak dapat saya temukan di sini, di Irlandia. Saya harus pergi ke Inggris untuk menemukannya, atau ke Skotkandia untuk mendapatkan kualitas yang akan membuat tim saya dapat bersaing dengan jajaran terbaik di dunia,” urai Charlton kala itu.

Ray Houghton jadi salah satu pemain Anglo-irish yang direkrut Jack Charlton ke timnas Irlandia.
thesun.ie

Bahkan, kakak kandung Sir Bobby Charlton itu melontarkan ancaman. “Sekarang, jika Anda tak mau melakukan itu, katakan kepada saya dan saya akan fokus di Liga Irlandia dan kita tak akan memenangkan apa pun. Beri saya kebebasan untuk meraih hasil terbaik,” kata dia dengan tegas.

Dari kebijakan Charlton itulah Irlandia lantas mendapatkan John Aldridge, Ray Houghton, Andy Townsend, Phil Babb, Mick McCarthy, dan Jason McAteer. Saat Irlandia menang 1-0 atas Inggris di Piala Eropa 1988, hanya ada tiga pemain asli. Mereka adalah Pat Bonner, Steve Staunton, dan Kevin Moran. Lalu, ketika mereka menang 1-0 atas Italia di Piala Dunia 1994 hanya Bonner, Staunton, Roy Keane, dan Dennis Irwin yang bukan Anglo-Irish.

Benahi Kompetisi Usia Muda

Terlepas dari hal itu, kita tentu berharap kebijakan merekrut pemain keturunan ke timnas U-19, juga kemungkinan untuk timnas senior, bukan langkah potong kompas. Sebaliknya, justru hal ini seharusnya makin membukakan mata kita tentang pentingnya perbaikan sepak bola usia muda di negeri ini.

Perekrutan pemain keturunan, diakui atau tidak, menunjukkan PSSI tak terlalu percaya terhadap talenta-talenta lokal. Entah itu karena memang tak ada yang benar-benar punya aura kebintangan atau mereka tak tertempa kompetisi ketat. Bagaimanapun, kita tak dapat memungkiri bahwa Baggott cs. lebih tertempa di negara mereka saat ini karena sistem yang lebih baik. Ada kompetisi usia muda yang baik di sana.

Hal ini pun sudah diingatkan oleh eks striker timnas Indonesia, Bambang Nurdiansyah. “Saya pikir (be)gini, karena mungkin Piala Dunia mungkin agar (Timnas U-19) main bagus. Tapi kalau selalu naturalisasi, keturunan, buat apa ada pembinaan?” kata dia.

Lebih lanjut, Banur menyinggung program pembinaan milik PSSI yang bisa rusak oleh perburuan pemain keturunan di luar negeri. “Okelah Piala Dunia sudah terlanjur, tapi sisi lain pembinaan harus ditingkatkan. Jangan sedikit-sedikit pemain naturalisasi. Buat apa elite pro? Buat apa pembinaan?” ujar dia lagi.

Kita selalu terbuka kepada para pemain keturunan untuk membela timnas Indonesia. Bagaimanapun, itu adalah hak mereka. Namun, kita tentu juga berharap perekrutan mereka bukan semata-mata dilakukan demi mengejar trofi atau malas membenahi sektor pembinaan pemain muda di negeri ini.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More