Ajax, Ayah Barcelona dalam Membangun Sepak Bola

Football5star.com, Indonesia – Sepak bola Spanyol dan Belanda adalah dua kutub berbeda. Dulu, kedua negara menganut sistem permainan yang sama sekali tidak sama.

Belanda mahsyur dengan Total Football-nya. Sementara Spanyol lebih dikenal dengan permainan cepat antarlini.

Lambat laun, hubungan sepak bola kedua negara menemukan benang merah. Hubungan yang diawali oleh harmonisasi dua klub besar dari masing-masing negara. Ajax Amsterdam kebanggaan Belanda, serta Barcelona raksasa dari Semenanjung Iberia.

reddit

Tentu saja, cikal bakal romantika Ajax dan Barcelona tak lepas dari jual beli pemain dan perpindahan pelatih. Hampir setiap dekadenya, El Barca selalu memiliki bintang Negeri Kincir.

Memang, dari dulu hingga sekarang, Azulgrana lebih besar dari de Amsterdamers. Mereka bermain di kompetisi elit Eropa. Soal finansial, tak perlulah dipertanyakan. Dari jumlah trofi yang didapat apalagi. Mereka unggul jauh.

Akan tetapi, entah apa jadinya Barcelona tanpa Ajax Amsterdam. Anggapan ini tidak berlebihan. Bahkan Josep Maria Bartomeu yang baru lengser mengakui pengaruh klub ibu kota Belanda untuk raksasa Katalonia.

Tidak tanggung-tanggung, Josep maria Bartomeu menyebut Barcelona sebagai anak Ajax. Ungkapan ini tak lepas dari kebiasaan mereka menggaet pemain Ajax, hingga menduplikasi metode latihan.

“Barcelona adalah anak Ajax. Selama bertahun-tahun kami menyaksikan tim junior mereka dan sangat menghormati metode latihan dan organisasi mereka,” ungkap Bartomeu seperti dikutip Football5star dari These Football Times.

“Kami telah belajar banyak dari Ajax. Terima kasih Johan Cruyff. Tapi dalam hidup anak laki-laki terkadang bisa melebihi ayahnya,” ia menambahkan.

Hubungan Pertama Ajax dan Barcelona

Bartomeu tidak asal membual soal Ajax ayah dari Barcelona. Semua bermula pada masa lampau tatkala de Godenzonen dibesut nakhoda Inggris bernama Jack Reynolds.

Datang pertama kali pada 1915, dia menanamkan filosofi baru di Ajax. Filosofi yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Total Football ala Rinus Michels.

Menukangi Ajax dalam tiga periode berbeda, banyak yang percaya jika dia telah meletakkan dasar bagi revolusi sepak bola yang membawa Ajax dan Barcelona menuju puncak kejayaan.

Jack Reynolds ingin anak asuhnya mengekspresikan diri di lapangan. Sebagai penganut sepak bola menyerang, dia ingin para pemain punya insting kuat dan imajinasi tinggi.

Apa yang diinginkan Reynolds memang tidak berjalan sempurna. Masih banyak lubang di sana sini yang harus ditambal. Tapi setidaknya, benih yang telah ditanam membuat pelatih penerus tinggal memanen hasilnya.

Vic Buckingham, pria Inggris kedua yang menukangi Ajax 1959 membuat filosofi yang ditanam Jack Reynolds berkembang. Seperti halnya sang pendahulu, Buckingham ingin para pemain bersenang-senang di lapangan.

Tangan dingin Vic Buckingham pula yang memoles legenda sekaliber Johan Cruyff. Keduanya kemudian membuka jalan terang hubungan Ajax dengan Barcelona.

mundo deportivo

Pelatih kelahiran Greenwich memang tidak langsung pindah dari Amsterdam ke Katalonia. Dia sempat pulang ke Inggris untuk menukangi Fulham dan mencoba peruntungan ke Yunani bersama AEK Athena. Akan tetapi kedatangannya ke Barcelona 1970 membawa semangat de Godenzonen.

Ketika Buckingham meraih sukses lain di Barcelona, Ajax mulai mencari keindahan sepak bola sesungguhnya bersama Rinus Michels, sosok yang disebut-sebut sebagai bapak sepak bola Belanda.

Di bawah kendali Michels, Ajax jadi identik dengan penguasaan bola. Di luar lapangan ia memerintahkan para pemain untuk diet ketat guna menjaga fisik tetap prima.

Hasilnya, de Amsterdamers tampil mengagumkan. Rinus Michels membuat para pemain bisa mengisi semua posisi. Menerapkan garis pertahanan tinggi dan penguasaan bola mumpuni, dia mendorong para pemain bertahan dan gelandang bergabung dalam serangan.

Tiki-Taka, Total Football Era Modern

Permainan seperti ini, empat dekade setelahnya, diaplikasikan oleh Barcelona. Pep Guardiola, pelatih yang merupakan murid dari Johan Cruyff menciptakan tipe permainan yang disebut banyak orang sebagai anak kandung dari total football. Ya, tiki-taka.

Bermain dengan garis pertahanan tinggi, mengandalkan penguasaan bola, dan tidak memberi lawan kesempatan untuk berkembang, adalah kekuatan utama tiki-taka. Hasilnya, seperti Ajax dahulu kala, Barcelona meraih semuanya.

Akan tetapi, apa yang didapat Pep Guardiola tidak akan berhasil tanpa pengaruh Belanda lewat Ajax Amsterdam-nya. Pada kenyataannya, kesuksesan El Barca selalu sejalan dengan pengaruh de Amsterdamers. Mulai dari filosofi permainan hingga pemain dan pelatih yang didatangkan.

Ketika Cruyff tiba di Camp Nou 1973 silam, Barca sudah 14 tahun puasa gelar. Situasi kian runyam karena masa tersebut mereka di bawah bayang-bayang Jenderal Franco yang menganakemaskan Real Madrid.

Berkat komando Rinus Michels dan kehebatan Cruyff lah Azulgrana membuka lembaran baru. Lepas dari bayang-bayang Real Madrid hingga memanen gelar yang sudah lama diimpikan.

Pelajaran yang diberikan ayah untuk anaknya tidak sebatas permainan dan trofi di lapangan. Melalui Johan Cruyff, Ajax mengajarkan Barcelona di semua sektor. Dia membentuk budaya baru lewat akademi La Masia yang terstruktur.

Tujuannya jelas. Cruyff ingin kesuksesan Barcelona tidak hanya seumur jagung. Ia ingin timnya sukses untuk waktu yang lama. Caranya? Melahirkan pesepak bola top dunia dari pabrik sendiri.

pinterest

Legenda terbesar Belanda itu mengadopsi cara Ajax dalam urusan pembinaan akademi. Sejak era kepimpinannya, La Masia mulai merekrut pemain yang berusia tujuh tahun.

Dia juga menginginkan para pemain muda harus menguji diri mereka lewat kompetisi profesional. Maka tidak heran rasanya jika banyak pemain muda La Masia yang mendapat kesempatan unjuk gigi di tim utama.

“Tidak ada Cruyff, tidak ada tim impian. Tidak ada Cruyff tidak permainan terkoordinasi dan produktif yang dilatih untuk memainkan sepak bola 4-3-3 yang mendebarkan,” tulis Graham Hunter dalam Barca: The Making of the Greatest Team in the World.

“Tidak ada Cruyff, tidak ada Joan Laporta. Tidak ada Cruyff, tidak ada Frank Rijkaard dan kebangkitan klub yang tercekik dalam kebodohannya sendiri. Dan tanpa Cruyff, tidak ada Pep Guardiola,” lanjut Graham Hunter.

Setelah era Rinus Michels dan Johan Cruyff, Barcelona kian kepincut dengan talenta Ajax Amsterdam. Pada 1997, Louis van Gaal didatangkan bersama enam pemain kesayangannya, Patrick Kluivert, Marc Overmars, Jari Litmanen, Michael Reizeger, dan si kembar Ronald dan Frank de Boer.

Memasuki milenium baru, Frank Rijkaard diangkat sebagai pelatih. Penunjukan Rijkaard sejatinya menuai polemik. Sebab tugas terakhirnya di Sparta Rotterdam berakhir memalukan. Bersamanya, Sparta terdegradasi.

Akan tetapi, Joan Laporta, presiden Barcelona saat itu tetap percaya pada Rijkaard, yang merupakan rekomendasi Johan Cruyff. Hasilnya pun sempurna. dia membawa El Barca dua kali juara LaLiga dan sekali Liga Champions.

Pada 2007, hubungan Ajax dan Barcelona bukan lagi sekedar pelatih dan transfer pemain. Kedua klub menjalin kemitraan lebih formal. Mereka bertukar ide dan berbagi informasi tentang filosofi sepak bola yang fokus pada pembinaan dan perawatan medis.

Setelah lama meninggalkan budaya Belanda dan Ajax-nya, Barcelona musim ini kembali ditukangi pria Belanda. Dia adalah Ronald Koeman, legenda de Amsterdamers dan juga El Barca.

Ronald Koeman tidak datang sendiri. Dia membawa dua penggawa Ajax ke Camp Nou, Frenkie de Jong dan Sergino Dest.

Adapun Ajax Amsterdam, kendati ditinggal lagi oleh pemain topnya, mereka tidak pernah kehabisan talenta. Erik ten Hag masih memiliki Perr Schuurs, Noussari Mazroaui, Lassina Traore, serta beberapa veteran yang pulang dari perantauan semisal Daley Blind, Davy Klaassen, hingga Klaas-Jan Huntelaar.

Mereka-mereka inilah yang menjaga maruah de Godenzonen sebagai raksasa Eredivisie. Tidak percaya? Saksikan saja kehebatan Ajax Amsterdam di Mola TV.

Ajax AmsterdamBarcelonaJohan Cruyff