Apa Red Bull Tidak Tertarik Akuisisi Klub Liga Indonesia?

Football5star.com, Indonesia – Kepindahan pemain asal Jepang Takumi Minamino dari Red Bull Salzburg ke Liverpool menarik perhatian publik sepak bola Eropa. Ketajaman dan skill Minamimo memang membuatnya layak mencicipi panggung Liga Inggris.

Terlepas dari skill pemain berusia 24 tahun tersebut, yang juga tak kalah menarik dari proses kepindahan itu tentu saja mantan klub Minamino, Red Bull Salzburg. Klub asal Austria ini adalah bukti nyata berhasilnya revolusi yang dilakukan perusahaan minuman energi di sepak bola Eropa.

Dalam rentang waktu 31 tahun terakhir, perusahaan minuman energi asal Austria ini sangat fokus investasi di bidang olahraga. Buktinya mereka memiliki 15 tim olahraga, 6 diantaranya adalah klub sepak bola.

Keseriusan Red Bull melakukan investasi di olahraga utamanya sepak bola tidak main-main. Mereka tak sekedar mengutamakan brand image perusahaan namun memiliki ambisi besar untuk membuat klub ‘binaan’ mereka meraih kesuksesan.

Andrew Sparkes, pelatih kiper Southampton seperti dinukil Football5star.com dari Sportsmail, Minggu (22/12/2019) mengatakan Red Bull tidak sekedar menghamburkan uang untuk klub sepak bola.

“Kami tahu Red Bull sebagai merk dagang dan mereka memiliki banyak uang. Tetapi bagaimana mereka benar-benar menginvestasikan dan mengembangkannya. Kita bisa melihat dari stadion, fasilitas serta pengembangan usia muda klub-klub tersebut,” ungkap Sparkes.

Waralaba klub sepak bola

Di seluruh dunia terdapat enam klub yang dimiliki Red Bull yakni, Red Bull Salzburg yang dimiliki pada 2005, setahun kemudian mereka memiliki klub MLS New York Red Bulls. Pada 2007, mereka menjalin kemitraan dengan klub Brasil Clube Atletico Bragantino dan mengubahnya menjadi Red Bull Bragantino.

Tak cukup disitu, pada 2009 mereka mendirikan klub di Jerman dengan membeli lisensi dari klub divisi lima, SSV Markranstadt. Saat ini RB Leipzig jadi tim kuda hitam baik di Bundesliga maupun Liga Champions.

Melihat kesukesan di RB Salzburg, perusahaan ini pada 2011 kembali membuat klub satelit baru di Liga Austria. Klub yang berdiri 20 Mei 1947, FC Liefering mereka ambil alih. Hasilnya, tim ini jadi salah satu kuda hitam di divisi dua Liga Austria.

getty images

Terakhir pada 2014, mereka menjamah sepak bola Afrika. Klub asal Ghana Red Bull Ghana yang awalnya hanya akademi klub binaan Feyenoord mereka ambil alih.

Hebatnya lagi perusahaan yang dimiliki oleh Dietrich Mateschitz tersebut membangun kerajaan sepak bolanya tanpa bantuan pihak kedua. Tidak seperti City Football Grup, pemilik Manchester City yang membuka waralaba di kompetisi lain dengan investor lain, Red Bull melakukannya sendiri.

Panggung untuk pemain non Eropa

Dietrich Mateschitz sendiri mendapatkan lisensi perusahaan minuman energi ini awalnya dari seorang pengusaha Thailand bernama Chaleo Yoovidhya. Chaleo pada 1976 pertama kali menjual minuman energi bernama Kratingdeng (cikal baka Red Bull) di Thailad.

Fokus pangsa minuman ini saat itu adalah para supir truk dan buruk pabrik. Pada 1982, Mateschitz bertemu dengan Chaleo di Thailand, dan saat pulang ke Austri, Mateschitz menenggak Kratingdeng dan ia merasakan minum tersebut mampu menyembuhkan jetlag-nya.

Berawal dari sana, Mateschitz berkeinginan untuk bisa mengembangkan pangsa pasar minuman ini di seluruh dunia. Artinya secara tidak langsung Red Bull lahir di Asia. Tidak heran jika kemudian, klub sepak bola perusahaan ini membuka kesempatan emas untuk para pemain non Eropa untuk pamer skill.

mirror.co.uk

Faktanya para pemain yang berasal dari non Eropa mampu menyita perhatian klub top Eropa. Pada Agustus 2017, Liverpool sukses datangkan pemain asal Guiena, Naby Keita dari RB Leipzig. Ternyar tentu saja kepindahan Minamimo ke Liverpool dari RB Salzburg.

Bukan tidak mungkin dalam rentang beberapa tahun ke depan bakal muncul lagi pemain Asia atau Afrika dari klub binaan Red Bull yang menarik perhatian klub top Eropa. Salah satu pemain Asia yang layak diperhatikan adalah pemain asal Korea Selatan milik FC Liefering, Kim Jung-min.

Pemain yang sukses membawa Korsel meraih medali emas di ajang Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang ini menjadi pemain yang cukup bersinar di divisi dua Liga Austria. Lalu ada striker berdarah Nigeria, Karim Adeyemi yang rumornya tengah didekati oleh Barcelona.

Terakhir tentu saja pemain RB Salzburg asal Korseal, Hwang Hee-chan. Meski publik saat ini tersita perhatiannya dengan rumor kepindahan Erling Haaland, Hee-chan juga jadi incaran klub top Eropa. Arsenal kabarnya siap bersaing dengan Wolves untuk mendapatkan striker yang sudah mengoleksi 3 gol di Liga Champions musim ini.

Semoga saja di kemudian hari, Red Bull memiliki ketertarikan untuk melakukan hal sama di Liga Indonesia. Mengambil alih satu klub dan membuatnya seperti klub yang mereka miliki saat ini. Tapi apa mungkin mereka tertarik?

Comments are closed.