Legenda: Eric Cantona, Sang Raja Tempramental

Football5star.com, Indonesia – Selain aksi gemilang selama berseragam Manchester United, momen yang paling diingat dari sosok Eric Cantona adalah sifat termpramentalnya. Tendangan ke arah fans Crystal Palace jadi salah satu momen sepak bola paling diingat di era 90-an.

Tidak banyak yang bisa dikenang dari Cantona selain momen itu. Setelah pensiun dari sepak bola pun dirinya tidak langsung bergelut di dunia kepelatihan. Namun, memilih mengembangkan sepak bola pantai dan menjajal peruntungannya di dunia film.

Cantona memang terkenal blak-blakan dan bernyali besar. Seringkali ia mengatakan apa yang ingin dikatakan, tanpa orang-orang tahu maksudnya. Contohnya adalah saat penyerahan penghargaan UEFA President Awards beberapa waktu lalu. Terlepas dari apa pun kontroversinya, ia tetap bagian dari mesin kebangkitan Manchester United menjelma salah satu tim terbaik di dunia.

Malam Neraka di Istanbul
Musim 1993/94 jadi salah satu pengalaman tak terlupakan bagi Manchester United. Setan Merah melakoni laga tandang ke Ali Sami Yen Stadium, Istanbul, untuk mengamankan satu tempat di fase grup Liga Champions tahun itu. Syaratnya, mereka harus kalahkan Galatasaray.

United yang butuh kemenangan, mendapatkan intimidasi total dari pihak tuan rumah. Mulai dari bandara, hingga intimidasi selama rombongan tim berada di Turki, didapatkan anak asuh Sir Alex Ferguson.

Cantona, yang saat itu merupakan salah satu pemain senior di Manchester United, juga tak luput dari sasaran provokasi. Sepanjang pertandingan berlangsung, teror serta intimidasi semakin menjadi-jadi.

Penyebabnya adalah ketika Cantona diganjar kartu merah oleh wasit di penghujung laga. Tak terima, ia memaki wasit yang pada akhirnya semakin membuat panas situasi. Petugas keamanan pun bukan mengamankan, justru malah memprovokasi.

“Di ruang ganti, hanya Eric yang bersikeras keluar dari ruangan dan menghajar polisi-polisi itu. Padahal, sebagian besar dari kami di ruangan ingin segera meninggalkan stadion. Eric bernyali besar, tidak heran karena posturnya juga demikian. Dia serius ingin menghajar mereka,” kata Bryan Robson, rekan setimnya.

“Anehnya aku agak berterima kasih ketika polisi itu melayangkan pukulan ke Eric, itu yang membuatnya mereda. Tetapi, aku harus membalaskan pukulan itu ke arah polisi. Tidak lama lagi, aku dihajar dengan tameng. Setelah itu baru teman-teman yang lain memisahkan,” lanjutnya.

Sejak saat itu, reputasi tempramental Cantona mulai dikenal ke segala penjuru dunia, termasuk fans United. Kartu merah demi kartu merah pun dipanennya dari lapangan. Hingga salah satu bagian ceritanya adalah tendangan akrobatik ke arah fans Palace di Selhurst Park.

Geliat Sepak Bola Pantai
Tidak banyak yang tahu bahwa popularitas sepak bola pantai, sedikit banyak ada campur tangan Cantona. Sejak meninggalkan Manchester United pada 1997, ia langsung bergabung tim nasional sepak bola pantai Prancis dan menyandang ban kapten.

Bersama “timnas baru”-nya, Cantona berkeliling dunia melakukan pertandingan sambil memperkenalkan olahraga tersebut. Sosoknya yang lebih dahulu terkenal membuat publik lebih mudah menerima sepak bola pantai.

Meski sudah pernah sukses di sepak bola rumput, Cantona tidak serta merta semakin berjaya bermain di atas pasir. Justru menurutnya, itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan sepak bola biasa. Tuntutan fisik dan pikiran lebih dikuras.

Eric Cantona - Beach Soccer - Football5star
pinterest.com

“Secara fisik, olahraga ini sulit dilakukan. Secara teknik pun juga sulit. Apalagi berbicara soal taktik, sangat sulit. Para pemain harus bisa bekerja keras, dan berlatih bersama-sama secara rutin. Sepak bola pantai memenuhi syarat sebagai olahraga menarik,” katanya.

Kerja kerasnya untuk olahraga baru tersebut membuahkan hasil. Pada 2004, ia sukses membawa timnas sepak bola pantai Prancis menjadi juara Euro. Serta Piala Dunia setahun kemudian. Hingga saat ini, itu menjadi satu-satunya gelar dunia yang pernah diraih Prancis dan belum pernah juara lagi.

Pada 2006, timnas Prancis menempati peringkat ketujuh Piala Dunia. Setahun berselang lebih baik di peringkat keempat. Pada penyelenggaraan Piala Dunia 2008 di Prancis, Cantona gagal mempertahankan posisinya di tim dan Prancis gagal di perempat final.

FIlmografi
Tidak hanya sukses di lapangan hijau, Eric Cantona juga sempat menjajal kemampuannya berakting di depan kamera. Meski tidak meraih level kesuksesan ketika masih bermain sepak bola, ia kerap menjadi cameo di sejumlah film

Beberapa film lain juga pernah menjadikan dirinya, tidak hanya pemeran utama, tetapi juka sosok utama dalam cerita. Seperti di Looking For Eric (2009), ia menjadi dirinya sendiri. Dalam proses pembuatannya, ia juga berperan sebagai eksekutif produser.

Eric Cantona - Happines Is in The Field - Football5star
nicoc.canalblog.com

Debut aktingnya ada pada film Happines Is in the Field (1995), ketika ia berperan sebagai seorang tokoh bernama Lionel. Itu adalah pintu gerbang dari karier berakting pria kelahiran Marseille tersebut.

Beberapa film lain di antaranya ada Elizabeth (1998), The Children of the Marshland (1999), dan The Overeater (2003). Kiprah terbarunya adalah ketika terlibat dalam sebuah film drama berjudul Ulysses & Mona pada 2018 lalu.

Comments
Loading...