Tak Kenal Maka Tak Malang (II)

Football5star.com, Indonesia – Pertandingan yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan, 15 Agustus 2019, tak mungkin dilupakan begitu saja oleh Aremania. Bagaimana tidak, sore itu, mereka menyaksikan langsung bagaimana tim pujannya, memporak-porandakan Persebaya Surabaya empat gol tanpa balas.

Salah satu yang bergembira, siapa lagi kalau bukan Yuli Sumpil. Pria yang dikenal sebagai dirijen Aremania itu pun menyindir satir hasil pertandingan itu. “Menangnya, kebanyakan, Mas. Kasihan mereka (Persebaya-red),” katanya kepada Football5star setelah pertandingan.

Kami kebetulan memang sedang berada di Malang untuk sejumlah agenda saat itu. Salah satunya adalan menonton Arema vs Persebaya di Kanjuruhan, serta menemui Yuli. Tidak banyak yang disampaikan pria berperawakan kurus itu setelah pertandingan.

Dengan alasan kebugaran, kami pun menunda rencana berbincang dengannya di halaman stadion selepas pertandingan. Ia pun mengiyakan dan sebagai gantinya, Yuli mengajak kami menyambangi rumahnya keesokan hari.

Suara cuitan burung menyambut kedatangan Football5star di rumah yang terletak di Jalan Sumpil I tersebut. Lantunan ayat suci Alquran juga jelas terdengar dari pengeras suara masjid depan rumah. Maklum, itu adalah hari Jumat, waktunya ibadah mingguan wajib bagi pria muslim. Memutar ayat Alquran lewat kaset memang lazim dilakukan di sejumlah masjid di tanah air.

Cerita Rokok Pengkhianat
Dalam perbincangan pagi itu, Yuli berbicara lebih banyak soal kancah di luar lapangan mulai dari binatang peliharaan, hingga rokok favorit. Usut punya usut, ternyata pengagum Noh Alamsyah itu sangat anti dengan rokok produksi Kediri.

Alasannya adalah sejarah pahit yang melibatkan Arema dengan Persik Kediri. “Awalnnya tidak ada masalah dengan rokok itu. Lalu waktu saya hisap, pada hisapan pertama teman saya bilang ‘4-0’. Waktu itu belum ngeh maksudnya apa. Terus hisapan kedua, dia bilang lagi ‘pengkhianat’. Nah, dari situ sudah mulai paham dan tiba-tiba terasa gak enak di mulut,” ceritanya.

football5star.com/ErvanSatrio

Yuli mengakui, dirinya sempat mencuri kesempatan untuk merasakan rokok Kediri itu. Namun, ia mengaku rasanya sudah tidak senikmat dahulu. “Awalnya saya nyolong-nyolong waktu kalau sendiri. Saya pikir tidak ada yang melihat. Tapi, walaupun begitu memang sudah tidak enak lagi rasanya,” katanya lagi.

Setelah menghabiskan empat mangkuk baso Malang, kami pun berpamitan untuk agenda lain. Kebetulan, pagi itu Yuli tidak bisa berlama-lama di rumah karena ada kegiatan mancing yang biasa ia ikuti. Berpamitan, kami pun mengucap sala

Saksi Sejarah Lahirnya Arema
Dari Jalan Sumpil I, kami bergegas ke lokasi lain, untuk menemuim narasumber lain pula. Kali ini target kami adalah Ovan Tobing, karib baik salah satu pendiri Arema, Lucky Acub Zaenal. Ovan juga termasuk salah satu sosok perintis ketika pertama kali klub berjuluk Singo Edan itu berdiri.

Kebetulan, waktu kami tidak banyak untuk mewawancarai Ovan. Siang itu ia sedang bergegas siaran di Radio Senapati. Di dunia pemandu acara, Ovan adalah seorang legenda. Kiprahnya sudah dimulai sejak 1980 hingga kini. Namun, bukan sepak bola yang ia pandu, melainkan acara musik.

Band-band papan atas tanah air juga pernah ia pandu di konsernya mulai dari Peterpan, Jamrud, Dewa 19, hingga Slank. Bahkan momen pertamanya menjadi seorang MC adalah ketika konser God Bless di GOR Pulosari.

Ovan Tobing - Arema FC - Galatama -

Setelah menyampaikan maksud dan kedatangan kami, perbincangan pun dimulai. Berbicara soal lahirnya Arema, Ovan menuturkan, klub itu lahir dari sakit hati ditolak tim nasional. “Awalnya memang berangkat dari pemain-pemain kami yang kembali dari seleksi tim nasional. Dari situ kami melihat bagaimana caranya agar pemain-pemain Malang ini bisa menembus tim nasional,” ucapnya ketika ditemui tim Football5star di kantor Radio Senaputra.

“Waktu itu Pak Acub langsung bilang ‘Van, harus ada klub Galatama di Malang’. Akhirnya setelah itu, saya dan Lucky langsung bergegas untuk menyusun pengurus tim. Mulai dari sekretaris tim serta staf lainnya,” katanya menambahkan.

“Waktu itu pelatihnya, Pak Acub langsung mendatangkan Sinyo Aliandoe. Sinyo ketika itu sedang tenar dengan tim nasional, dan harus menangani klub baru. Berbanding terbalik dengan materi pemain yang ada saat itu,” tuturnya.

Setelah puas mendapat informasi, kami pun bergegas meninggalkan Radio Senapati, tempat wawancara berlangsung. Selain Ovan yang hendak siaran, sebagia kami juga mengejar waktu shalat Jumat di masjid terdekat.

Perjalanan kami di Malang memang hanya berlangsung singkat. Berlebihan rasanya jika dalam kunjungan singkat itu, kami merasa sudah tahu semua seluk-beluk kota itu berserta klub sepak bolanya. Namun setidaknya, dari kunjungan singkat empat hari, bisa membuka cakrawala lebih luas, mengenai dinamika kehidupan di wilayah peradaban kecil di kaki gunung Kawi tersebut. Kesimpulan yang didapat, Tak Kenal Maka Tak Malang

m sambil tak lupa berfoto bareng sebagai kenang-kenangan.

Comments
Loading...