Bayern Munich vs Liverpool: Hantu dari Masa Lalu

Football5Star.com, Indonesia – Ada satu nasihat penting yang diucapkan Karl-Heinz Rummenigge begitu Bayern Munich bermain imbang tanpa gol di kandang Liverpool pada leg pertama babak 16-besar Liga Champions, dua pekan lalu. Dia meminta anak-anak asuh Niko Kovac bercermin pada pengalaman musim 1980-81.

“Saya ingin mengingatkan untuk tak masuk leg kedua dengan euforia terlalu berlebihan. Ini bukan hasil yang aman,” ungkap Karl-Heinz Rummenigge seperti dikutip Football5Star.com dari Daily Mail. “(Pada 1981) Kami tersingkir setelah imbang 1-1 di Munich. Jadi, kami tak boleh membuat kesalahan yang sama.”

Kegagalan pada semifinal Piala Champions 1980-81 itu memang menyesakkan dan sulit dilupakan Karl-Heinz Rummenigge. Kala itu, berbekal hasil imbang 0-0 pada leg pertama di Stadion Anfield, Bayern Munich sangat yakin bisa lolos ke final.

Euforia membuncah. Kepongahan pun muncul. Apalagi sang lawan datang dengan pincang. Kapten Phil Thomson dan Alan Kennedy absen. Paul Breitner dengan nada mencibir berkata bahwa Liverpool bukan tim yang bermain cerdas.

Rupanya, kata-kata itu justru jadi bumerang. “Hal itu membuat saya tak perlu mengeluarkan kata-kata motivasi tambahan kepada para pemain. Breitner sudah melakukan hal yang bagus untuk membuat mereka bangkit,” ujar Bob Paisley, manajer Liverpool, selepas pertandingan kala itu seperti dikutip Liverpool Echo.

Anak-anak asuh Paisley memang tampil luar biasa. Sammy Lee berhasil mematikan Breitner yang menjadi otak permainan Bayern. Lalu, Alan Hansen di lini belakang juga mampu meredam Karl-Heinz Rummenigge dan Dieter Hoeness yang diandalkan Bayern.

Kecerdasan Bob Paisley

Keberhasilan itu pun tak terlepas dari otak brilian Paisley. Di Stadion Olimpiade yang disesaki 75.000 pasang mata, dia menugasi Sammy Lee mematikan Breitner. Menjadi “anjing penjaga” bukanlah spesialisasi sang gelandang.

Howard Gayle berduel dengan Wolfgang Dremmler saat Liverpool imbang 1-1 dengan Bayern Munich pada 1981.
elpais.com

“Saya melakukan sesuatu yang sungguh asing. Saya tak sering menendang bola, tapi untungnya dia (Breitner) pun begitu. Dia benar-benar pemain hebat dan kami tahu jika dia berhasil dimatikan, mereka tak akan punya pemain pintar lain untuk menciptakan sesuatu,” jelas Sammy Lee.

Tak hanya itu, ketika Kenny Dalglish cedera pada menit kelima dan harus keluar dari lapangan empat menit kemudian, Paisley membuat kejutan. Bukannya memasukkan Ian Rush, dia malah menurunkan Howard Gayle yang berposisi di sayap.

Howard Gayle adalah sosok yang terbilang asing. Kala itu, umurnya baru 22 tahun. Malam itu, dia menjalani debutnya di kancah antarklub Eropa. Saking asing, petugas UEFA saja sempat bertanya tentang sosok Gayle ini. “Jika mereka saja tak tahu, tentu orang-orang Jerman pun tak tahu,” ucap Paisley.

Bayern Disergap Ketakutan

Pada akhirnya, Liverpool yang pincang berhasil membuka skor saat pertandingan bersisa delapan menit. David Johnson di sisi kiri pertahanan Bayern Munich menyodorkan bola kepada Ray Kennedy yang lantas melepaskan tendangan kaki kanan tanpa mampu dihalau kiper Walter Junghans.

Gol tunggal Karl-Heinz Rummenigge hanya membuat Bayern Munich imbang 1-1 dengan Liverpool pada 1981.
sportschau.de

Lima menit kemudian, Die Roten berhasil menyamakan kedudukan. Norbert Janzon melepaskan umpan ke kotak penalti Liverpool. Bola berhasil dijangkau kepala Colin Irwin, tapi lantas meluncur ke arah Rummenigge yang tanpa ampun melesakkannya ke gawang yang dijaga Ray Clemence.

Gol itu tak berarti apa pun bagi anak-anak asuh Pal Csernai. Pasalnya, mereka gagal merobek gawang Clemence lagi hingga wasit Antonio Garrido da Silva meniup peluit tanda pertandingan berakhir. Hasil imbang 1-1 membuat Liverpool lolos ke final berkat keunggulan gol tandang.

Aroma kegagalan sebenarnya sudah tercium sejak awal. Tak seperti biasanya, Bayern Munich pada laga itu tampil gugup. Mereka terlihat sangat takut kebobolan. Junghans beberapa kali gagal menangkap bola dengan baik. Demikian pula beberapa pemain lain.

“Klaus Augenthaler bermain sangat buruk. Saya tak pernah melihat dia bermain seburuk itu,” kata Fritz von Thurn und Taxis, reporter Bayerischer Rundfunk ketika itu.

Selalu Kebobolan

Ketakutan bakal kebobolan mungkin akan kembali menyergap Bayern Munich kali ini. Pasalnya, bila menilik fakta sejarah, ada satu hantu lain. Itu adalah keberhasilan Liverpool mencetak gol dalam tiga lawatan terdahulu.

Selain pada 1981, dua lawatan lain terjadi pada 1971. Lawatan pertama pada perempat final Piala Fairs yang berakhir 1-3. Adapun lawatan kedua pada babak II Piala Winners yang berkesudahan 1-1.

Lawatan terakhir Liverpool ke tanah Jerman berbuah kemenangan 2-1 atas Hoffenheim.
liverpoolecho.co.uk

Hal yang tak bisa dikesampingkan, The Reds punya catatan apik dalam beberapa lawatan terakhir ke tanah Jerman. Mereka tak pernah kalah dalam empat lawatan terakhir. Dua kemenangan dan dua hasil imbang berhasil dibawa pulang.

Kemenangan pertama diraih atas Bayer Leverkusen pada babak 16-besar Liga Champions 2004-05 dengan skor 3-1. Adapun kemenangan kedua direbut musim lalu pada babak Play-Off Liga Champions. Melawat ke kandang TSG 1899 Hoffenheim, anak-anak asuh Juergen Klopp menang 2-1.

Sementara itu, dua hasil imbang diraih di kandang FC Augsburg dan Borussia Dortmund pada ajang Liga Europa 2015-16. Di kandang Augsburg pada babak 32-besar, The Reds imbang tanpa gol. Adapun lawatan ke kandang Dortmund pada babak perempat final berakhir 1-1.

Hantu-hantu masa lalu itu, seperti kata Karl-Heinz Rummenigge, harus dijadikan pelajaran penting oleh Bayern Munich. Gagal memetik pelajaran, niscaya Die Roten akan terjerumus ke lubang yang sama.

Comments
Loading...