Begini Kondisi Sepak Bola Batam yang Jadi Lokasi Pesta Liar Wasit Liga Inggris

Football5star.com, Indonesia – Empat wasit populer Liga Inggris, Kevin Friend, David Coote, Martin Atkinson, dan Andre Marriner kepergok melakukan pesta liar di Batam, Kepulauan Riau. Menarik untuk mengetahui seperti apa kira-kira sepak bola Batam saat ini.

Seperti dilansir dari thesun, Senin (10/5/2019), keempat wasit tersebut menikmati malam ditemani empat wanita yang belakangan diketahui berprofesi sebagai seorang caddie.

Kabarnya keempat wasit tersebut menginap di salah satu hotel mewah di Batam. Selama di Batam, para wasit ini tak hanya berpesta liar namun juga mengunjungi sebuah panti asuhan dan melakukan kegiatan amal.

Mengapa Batam yang dipilih oleh para wasit Liga Inggris ini sebagai tempat liburan? Biasanya para pesepak bola top dunia seperti David de Gea misalnya pernah berkunjung ke Bali.

Premier League - Football5star

Apakah ada tujuan lain dari para wasit itu datang ke Batam? Apakah para wasit ini ingin mengembangkan potensi sepak bola di Batam? Menarik memang jika bicara sepak bola Batam.

Faktanya sepak bola di Batam memang berada di kondisi tertinggal dibanding daerah lain. Sebagai kota industri, Batam harusnya bisa memiliki tim sepak bola yang mentas di kompetisi nasional.

PS Batam

Sayangnya perkembangan sepak bola Batam bisa dikatakan sulit berkembang. Menurut laporan batampos pada 2017 lalu ada sejumlah alasan mengapa Batam sulit memiliki tim sepak bola.

Salah satu faktornya ialah soal dukungan masyarakat lokal. Batam pernah memiliki tim sepak bola PS Batam. Sayangnya dukungan tak mengalir dari masyarakat lokal.

“Kita main di Batam seperti main di luar Batam, tak ada dukungan suporter,” kata Kapten PS Batam era 2013-2014, Yance Manusiwa kepada Batam Pos.

Begini Kondisi Sepak Bola Batam yang Jadi Lokasi Pesta Liar Wasit Liga Inggris
Twitter @PSCitramas

Lucunya, kata Yance saat PS Batam bermain di markas sendiri, masyarakat malah mendukung tim lawan. Yance sendiri membela PS Batam sejak 1996 silam.

Selain masalah dukungan masyarakat lokal, hal klasik yang menghambat perkembangan sepak bola Batam ialah soal dana. PS Batam merasakan hal tersebut saat melakoni kompetisi Divisi II Sumatera pada 2013 lalu.

Pada 2014 lalu, PS Batam sempat berkompetisi di Liga Nusantara. Bahkan tim ini mampu melaju hingga babak 8 besar. Namun langkah mereka terhenti setelah kalah bersaing dengan PS Tuban dan Sragen FC.

757 Kepri FC

Tiga tahun kemudian, di Batam berdiri klub bernama 757 Kepri FC. Klub ini merupakan hasil merger antara klub lokal YSK 757 Karimun dengan PS Bintang Jaya Asahan yang berdiri pada 1998 silam.

Bermarkas di Stadion Gelora Citramas, Batam, 757 Kepri FC dikelola oleh Gubernur Riau, Nurdin Basirun. Awal kemunculan, klub ini menyita perhatian publik sepak bola nasional.

Hal ini disebabkan karena ada sejumlah pemain nasional yang bermain di 757 Kepri FC, seperti Gerald R. Pangkaly. Pada 2018 lalu, laju 757 Kepri FC hingga peringkat 3 grup A.

Begini Kondisi Sepak Bola Batam yang Jadi Lokasi Pesta Liar Wasit Liga Inggris
kepriprov.go.id

Di tahun ini, langkah 757 Kepri FC di Piala Presiden 2019 harus terhenti setelah dihancurkan Persija Jakarta 8-2 di Stadion Patriot.

Meski kiprah 757 Kepri FC bisa bertahan hingga tahun ini, namun klub ini lebih merasa dimiliki oleh masyarakat Kepulauan Riau. Sementara bagi masyarakat Batam, mereka masih memimpikan kelahiran kembali PS Batam.

“Saat ini kepengurusan PS Batam tidak jelas,” kata Barnov Sihite, putra pendiri PS Batam, Edward Edison Sihite.

“Harus ada orang-orang gila yang membangkitkan kembali PS Batam,”

Comments
Loading...