Berakhirnya Masa Bakti Permata Israel Yossi Benayoun

Football5star.com, Indonesia – Bagi warga kota kecil, Dimona, 149 km dari Tel Aviv, Yossi Benayoun bak berlian. Bagaimana tidak kota yang berlokasi di gurun Nagev ini bisa memiliki putra daerah yang menembus panggung kompetisi sepak bola Eropa.

Pemain bernama lengkap Yossi Shai Benayoun ini lahir pada 5 Mei 1980 silam. Sang ayah, Dudu ialah mantan pesepak bola di klub lokal, Hapoel Dimona yang saat ini berkompetisi di kasta ketiga Liga Israel.

Miliki darah sepak bola dari sang ayah, bakat Benayoun sudah mulai tercium sejak usia 9 tahun. Pada usia 11 tahun, wajahnya muncul di salah satu sampul majalah Israel karena dianggap pemain jenius.

Di usia 11 tahun itu, ia padahal masih bermain di klub lokal, Hapoel Be’er Sheva. Demi karier sang anak, Dudu setia pulang pergi mengantarkan Benayoun berlatih sejauh 60 km.

4 tahun perjuangan berat sang ayah, Benayoun mendapat panggilan dari Ajax Amsterdam. Setahun di Ajax, Yossi Benayoun sukses menjadi top skor dan pemain terbaik kompetisi muda pemain Belanda.

Sayang penyakit home sick menyerang Benayoun dan sang ayah. Setelah mencoba bertahan 8 bulan di Ajax, Benayoun bersama sang ayah memutuskan pulang kampung.

Pulang ke kampung halaman, Benayoun kembali memperkuat akademi Hapoel Be’er Sheva. Pada 1997, ia naik kelas ke tim utama Be’er Sheva dan sukses torehkan 15 gol dari 25 caps.

Karakteristik permainan Benayoun

Bertahan hingga usia 21 tahun di kampung sendiri, ia kembali ke Eropa dan dikontrak oleh klub Spanyol, Racing Santander. Publik Eropa khususnya Spanyol terkagum-kagum dengan gaya mainnya di sektor kanan.

@LivEchoLFC

Kecepatannya dalam berlari sambil menggiring bola sangat enak dilihat. Publik Spanyol cukup kaget dengan latar belakang dirinya yang seorang berpaspor Israel.

Pasalnya memang sangat sedikit pemain asal Israel yang memiliki skill di atas rata-rata, apalagi sampai bisa menembus kompetisi top Eropa seperti Spanyol.

Tiga tahun menetap di markas Santander, Stadion El Sardinero, Benayoun dengan kolesi 21 gol dan 101 caps membuat klub Inggris, West Ham meminangnya. Kecepatan yang jadi andalan Benayoun membuatnya dianggap layak mentas di Liga Inggris.

Yang membuat Benayoun begitu istimewa di mata klub top Eropa karena ia dianggap pesepak bola bertipikal mazing run. Di era sepak bola saat ini sangat sedikit pesepak bola memiliki tipikal permainan tersebut.

Mazing run ialah tipikal pemain yang memiliki keseimbangan dan mau membantu tim saat menyerang dan bertahan. Sosok legenda Barcelona, Andres Iniesta dianggap seorang mazing run sempurna.

Pensiun setelah 521 caps

Publik mengenal kehebatan Benayoun tentu saja saat ia berkiprah di Liverpool. Meski di kota pelabuhan itu ia tak mampu sumbang piala, bakatnya membuat Chelsea meminangnya dengan mahar 5,5 juta poundsterling pada 2010.

Pelatih Chelsea kala itu, Carlo Ancelotti membutuhkan Benayoun untuk memperkuat sektor sayap The Blues. Di Stamford Bridge, Benayoun sukses meraih gelar Eropa pertamanya yakni Piala Europa musim 2012/2013.

Setelah menjadi pemain pinjaman di Arsenal dan West Ham, Chelsea melepasnya ke Queens Park Rangers. Pada 2014/2015, Benayoun pulang kampung dan membela Maccabi Haifa.

Setelah 521 caps bermain sepak bola di level klub, Benayoun seperti dikutip BBC memutuskan untuk gantung sepatu. Pada musim ini ia masih tercatat membela klub yang memiliki suporter paling rasial, Beitar Jerusalem.

Bersama Beitar, pemain yang sempat berseteru dengan Joey Barton soal konflik Israel-Palestina ini telah bermain sebanyak 12 pertandingan.

Comments
Loading...