Rivalitas Juventus Dan Fiorentina Didasari Kebencian

Juventus bakal menjamu Fiorentina pada pekan ke-16 Serie A. Laga ini termasuk yang terpanas di Italia karena rivalitas tinggi di antara kedua klub. Namun, berbeda dengan yang lain, persaingan I Bianconeri dan La Viola tidak berbasis area maupun prestasi.

Biasanya sumber rivalitas dalam sepak bola ada dua. Pertama ialah terkait lokasi. Kedua klub hampir dipastikan bersaing sengit jika berbasis di sebuah kawasan yang sama. Sementara itu, pemicu persaingan yang kedua ialah prestasi. Meski lokasi kandang berjauhan, jika kerap beradu memperebutkan trofi, benih rivalitas akan muncul.

Akan tetapi, Juventus dan Fiorentina unik. Soal lokasi, kedua klub berjauhan. I Bianconeri ada di Turin, sedangkan La Viola berbasis di Firenze. Terkait prestasi apa lagi. Pencapaian Fiorentina tidak sebanding dengan Juventus. Meski begitu, duel kedua tim selalu panas. Pemicunya adalah rasa benci yang tumbuh sesudah beberapa pertandingan kontroversial.

Rivalitas mulai memanas pada 1982 ketika dua tim bersaing memperebutkan scudetto. Pada pekan ke-29, Fiorentina dan Juventus sama-sama meraih 44 poin. Keduanya berada di peringkat pertama dan kedua. Namun, pada pekan terakhir Fiorentina ditahan seri oleh Cagliari 0-0 yang diwarnai dengan dianulirnya gol La Viola. Sementara itu, pada saat yang sama Juventus menang 1-0 atas Catanzaro lewat sebuah penalti Liam Brady.

Fiorentina merasa dicurangi karena Juventus akhirnya juara. Oleh sebab itu, antipati kepada Juventus mulai tumbuh besar. Hal itu semakin menyala ketika kedua tim bertemu di final Piala UEFA 1989-90. Lagi-lagi, I Bianconeri menang sesudah seri 0-0 di leg kedua dan unggul 3-1 di leg pertama.

Rivalitas mencapai puncaknya saat bintang Fiorentina, Roberto Baggio dijual ke Juventus pada 1990. Suporter La Viola memicu kerusuhan di Firenze untuk memprotes dan melampiaskan kekesalan atas penjualan Baggio ke I Bianconeri. Sesudah itu, laga Juventus dan Fiorentina selalu saja panas hingga sekarang.

Comments
Loading...