Terlalu Kaku dengan Pemain, Benitez Dikritik

222

Rafael Benitez sejauh ini dianggap belum bisa menggantikan sosok Carlo Ancelotti di Real Madrid. Sebab gaya melatihnya yang kaku membuat pemain diperlakukan sama seperti “tentara”.

Benitez belakangan memang mendapat tekanan hebat menyusul sejumlah hasil buruk yang didapat Madrid sehingga mereka kehilangan posisi puncak klasemen. Start gemilang di awal musim seakan dilupakan begitu saja.

Belum lagi soal blundernya yang memainkan Denis Cheryshev di laga Copa del Rey pertengahan pekan kemarin, yang membuat Madrid didiskualifikasi karena dianggap menurunkan pemain “ilegal”.

Posisi Benitez pun boleh dibilang tengah rawan meski Florentino Perez selaku presiden Madrid sudah memastikan bahwa Benitez tidak akan dipecat. Namun, melihat kebiasaan Perez sebelumnya, bukan tak mungkin Benitez akan kehilangan pekerjaannya jika tak mampu membawa Madrid membaik.

Masalahnya Benitez dianggap tidak mampu mengambil hati para pemainnya, layaknya Ancelotti. Sebab, Benitez dinilai terlalu kaku dalam melatih dan membuat hubungannya dengan para pemain, khususnya Cristiano Ronaldo, menjadi dingin.

“Para pemain yang mendengarkan dan bersimpati pada Ancelotti, kini mereka harus mematuhi perintah Benitez layaknya tentara – ini tidak sama seperti sebelumnya,” ujar Valdano seperti dilansir Soccerway.

“Florentino mengambil risiko dengan memecat pelatih yang sudah sangat dekat dengan pemain. Sangat sulit mendapatkan tim yang mencintai pelatih mereka,” sambungnya.

“Rafa Benitez berusaha keras mencapai level itu; Ancelotti meraih itu tanpa usaha keras dan membuat Rafa makin sulit melakukannya karena pendekatannya begitu dingin dengan para pemain.”

“Untuk membuat tim ini solid lagi, cara Benitez adalah memastikan tim menang, gol-gol untuk Cristiano, tontonan menarik untuk fans – tapi pertama-tama dan yang terpenting adalah hasil.”

“Satu-satunya masalah adalah tidak ada jaminan Anda akan selalu menang dalam sepakbola dan itu akan makin sulit diraih ketika tidak ada orang, sebuah ide atau nilai-nilai yang mana bisa menelurkan sebuah ‘rasa bangga memiliki tim’ di dalam ruang ganti,” tuntas Valdano.