Biri Biri: Legenda Terbesar Gambia, Penakluk Hati Fan Sevilla

Football5star.com, Indonesia – Gambia, dalam urusan apa pun, negara Afrika ini tak pernah menonjol. Dari sisi ekonomi, mereka tertinggal dari negara Afrika lainnya. Nasib sama juga mereka alami di kancah olahraga, terutama sepak bola.

Selama tiga dekade terakhir, tidak ada pemain asal Gambia yang menonjol. Hal ini selaras dengan prestasi negaranya, yang jangankan menembus Piala Dunia, turut andil di Piala Afrika saja mereka tidak pernah.

Hal ini pula yang membuat hampir semua anak-anak di negara Afrika Barat itu tidak bercita-cita jadi pesepak bola. Di sana, sepak bola hanya sebagai hiburan warga yang hidup di bawah garis kemiskinan.

worldfootball

Terlepas dari tujuan sebuah pertandingan, sepak bola selalu berbicara tentang kebahagiaan, tentang bagaimana kita bisa menikmati hidup, bagaimana kita bisa sedikit mengatasi ketakutan.

Pengertian ini pula yang diejawantahkan seorang anak bernama Alhaji Momodou Njie. Dia selalu bermain bola saat istirahat sekolah. Dia meluapkan rasa bosan di kelas dengan cara menggocek, menendang bola, dan mencetak gol di lapangan.

Alhaji Momodou Njie, yang kemudian dikenal dengan nama Biri Biri lahir di pinggiran Banjul, ibu kota Gambia. Kebiasaannya bermain bola saat jam istirahat sekolah membuat dirinya masuk ke tim sepak bola sekolah di Albion.

Kemampuan yang dia bangun sejak kecil makin terasah saat dirinya mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dia pun menjadi sensasi karena kehebatannya.

sevillafc.es

Ia diperebutkan tim sepak bola SMA yang ada di Banjul. Namun, kemudian tim yang beruntung memanfaatkan jasanya adalah klub profesional Gambia, Black Star, pada 1963.

Nama Biri Biri langsung masuk buku sejarah negara. Pada tahun tersebut ia tercatat sebagai pemain termuda yang memperkuat tim nasional Gambia. Ketika itu usianya baru 17 tahun.

Kehebatan sang bomber ternyata sudah tercium sampai Eropa. Ia jadi pemain Gambia pertama yang menembus kompetisi Eropa. Negara pertama yang dituju adalah Inggris pada 1970. Saat itu dirinya digaet Derby County.

Dua tahun di Derby County, ia pindah ke Denmark untuk berkostum B1901. Namun, kariernya di negara skandinavia tidak lama. Tapi bukan karena performanya yang buruk, melainkan kehebatan di lapangan yang membawanya dipinang Sevilla.

Kulit Hitam Pertama dan Penakluk Hati Fan Sevilla

Di Sevilla, Biri Biri kembali mengukir sejarah. Ia jadi pemain kulit hitam pertama yang memperkuat klub Andalusia tersebut. Dan sampai saat ini dia masih berpredikat sebagai pemain Gambia satu-satunya yang pernah berada di Ramon Sanchez Pijzuan.

Alhaji Momodou Njie bukan cuma jadi pemain asing di sana. Dia benar-benar menjadi wajah baru Sevilla karena kulitnya. Kendati demikian ia tidak pernah dianggap berbeda oleh rekan maupun penggemar.

Legenda kelahiran 30 Maret 1948 hanya butuh waktu semusim untuk mendapatkan cinta suporter Sevilla. Menariknya, kecintaan fan padanya bukan hanya karena dia rajin mencetak gol. Tapi juga karena dia seorang yang murah senyum.

Kecintaan fan Los Rojiblancos pada Alhaji Momodou Njie mereka abadikan lewat fan club bernama Norte Biri Biri. Hanya pemain yang benar-benar istimewa yang mendapat penghormatan sebesar itu dari fan.

Norte Biri Biri terbentuk atas dasar kecintaan suporter pada Biri Biri. Dan sampai saat ini kelompok ini msih tegak berdiri di tribun utara stadion Ramon Sanchez Pijzuan.

eyegambia

Sebagaimana cinta pada umumnya, mereka juga punya panggilan kesayangan. Norte Biri Biri kerap menyebut mereka sebagai Biris.

Kecintaan fan pada pemain berjuluk Pele La Gambie dibalas tuntas lewat dentuman gol dan prestasi yang diberikan. Memang, selama di klub Andalusia dia gagal meraih juara.

Akan tetapi, apa jadinya Sevilla tanpa Biri Biri? Mungkin mereka butuh waktu lebih lama untuk mengeyam kompetisi kasta tertinggi Spanyol, LaLiga.

Sebagai informasi, ketika pertama kali dia datang 1973 silam, Sevilla masih berkutat di Segunda Division. Dan semusim kemudian dia sukses membawa klubnya promosi ke LaLiga.

Biri Biri berkontribusi nyata di lapangan. Ia menggelontorkan 14 gol di Segunda Division. Naik kasta ke LaLiga performanya sama sekali tidak menurun. Ia mampu tampil konsisten bahkan sempat membawa Sevilla ke final Copa del Rey.

Alhaji Momodou Njie menghabiskan waktu lima musim di Ramon Sanchez Pijzuan. Dalam kurun waktu tersebut ia mencatatkan 109 laga dan menghasilkan 34 gol.

Lencana Emas Biri Biri dari Sevilla

Biri-Biri hengkang dari Sevilla 1978. Ketika itu ia mencoba peruntungan lagi ke Denmark. Kali ini bersama Herfolge BK selama tiga musim. Di sanalah ia memutuskan pensiun karena merasa sudah tidak mampu bersaing lagi di level tertinggi.

Akan tetapi hanya beberapa bulan kemudian ia memutuskan turun gunung. Momodou Njie dipanggil pulang oleh Wallidan. Keputusannya ini terbukti jitu karena ia mampu bertahan selama lima tahun di sana.

Baru pada 1986 Momodou Njie benar-benar pensiun dari dunia sepak bola. Sebagai klub yang paling berkesan, Sevilla benar-benar ada di hatinya.

marca

“Orang-orang mencintai saya dan saya mencintai Sevilla,” kata Biri Biri 2017 silam seperti dikutip Football5star dari laman resmi klub.

Biri Biri dan Sevilla saling mengisi satu sama lain. Sang pemain memberikan segalanya di lapangan. Sebaliknya, klub dan suporter memberi cinta, tidak hanya dari kata manis saja.

Cinta keduanya kini abadi dalam lencana emas yang diberikan Los Rojiblancos pada pemain pujaannya. Dalam penganugerahan di Ramon Sanchez Pijzuan sang legenda kembali tenggelam dalam romantisme masa lalu.

Namanya terus dielu-elukan ribuan suporter yang datang untuk melihat Biri Biri kembali. Ia kemudian lari ke sana ke sini menyapa fan dan berhenti sejenak di Norte Biri Biri.

Alhaji Momodou Njie memang tak balik lagi ke sepak bola usai pensiun. Dia mengabdikan diri untuk masyarakat Gambia. Bukan sebagai pemimpin negara atau wakil rakyat. Dia bersanding bersama rakyat membangun kehidupan.

“Dunia ini tentang berbagi,” kata sang legenda seperti dilansir Standard. Alhaji Momodou Njie menghambiskan masa tua dengan membangun sekolah Islam di Gambia.

Sayang, kebesaran Biri Biri kini tinggal kenangan. Ia meninggal dunia Juli lalu karena sakit yang diderita. Walau begitu, kehebatan dan kecintaannya pada sepak bola tetap abadi. Bagi publik Gambia, Biri Biri bukan hanya sekadar legenda sepak bola. Dia adalah duta negara.  

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More