LEGENDA: Bobby Charlton, Tragedi, Prestasi, dan Cinta Publik Irlandia

Football5star.com, Indonesia – Manchester United dan Sir Bobby Charlton bisa dikatakan sebagai entitas yang saling menguntungkan. Tanpa Charlton, tim berjulukan Red Devils itu mungkin tidak akan sebesar sekarang, begitu pula sebaliknya.

Selama 17 tahun Bobby Charlton berseragam United. Sudah banyak pula naik turun prestasi yang ia rasakan dalam kurun waktu tersebut. Sementara itu, di luar lapangan ia tentu tidak kurang cerita yang bisa diwariskan kepada penerus-penerusnya di klub dan timnas Inggris.

Menjadi produk akademi Man United membuat Charlton sudah hafal luar dalam tentang filosofi klub. Tapi, jalannya menuju akademi klub beralias Setan Merah tidaklah mudah.

bobby charlton (mu)
telegraph.co.uk

Ia harus beberapa kali ditolak karena dianggap tidak terlalu kuat dalam duel-duel yang membutuhkan kekuatan tubuh yang mumpuni. Maklum saja, sepak bola Inggris ketika itu masih kental dengan permainan keras, atau biasa disebut kick and rush.

Kegagalannya masuk ke akademi klub ternyata tidak terlalu mengusik pikirannya. Charlton muda tetap bermain bola bersama teman-temannya.

Baru pada 1952 sang striker dilirik oleh pencari bakat Man United, Joe Amstrong, saat melihat dirinya bermain di pinggiran jalan kota Ashington, Inggris. Perayaan tahun baru 1953 mungkin tidak akan pernah ia lupakan. Maklum saja, 1 Januari adalah hari pertamnya menandatangani kontrak di tim muda United.

Tiga tahun berselang, Bobby Charlton memulai debut bersama tim senior. Tanda-tanda kehebatannya langsung terlihat pada laga melawan Charlton United ketika itu, yang mana ia sukses menandai debutnya dengan menyarangkan dua gol.

Pria yang kini sudah berusia 81 tahun masih ingat betul momen sebelum dirinya melangsungkan debut itu. “Sebelum laga, saya dipanggil menemui pelatih. Saat itu cuma ada dua kemungkinan, saya dalam masalah atau dia menginginkan saya di tim utama. Ternyata jawabannya adalah yang kedua,” kenangnya seperti dilansir situs resmi Man United.

“Usai pertandingan, saya tidak terlalu memikirkan gol yang telah saya buat. Karena bagi saya menjalani debut bersama tim senior lebih berkesan dari apa pun,” ia melanjutkan.

Tragedi Munich Sebagai Titik Balik

Setelah debut bersama tim senior, Charlton seakan menjadi anak emas sang pelatih, Sir Matt Busby. Ia merupakan salah satu bagian dari skuat Busby yang ketika itu tersohor dengan sebutan Busby Babes.

Akan tetapi, romantisme Charlton bersama Busby Babes mendapat ujian teramat berat dua tahun berselang. Tepat pada 6 Februari 1958, United diterpa tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola Inggris.

dailytelegraph.com

Pesawat yang hendak membawa mereka pulang tidak pernah sampai di Manchester. Busby Babes yang saat itu melakoni laga tandang ke Serbia untuk menghadapi Crvena Zvezda harus transit ke Munich. Hal ini disebabkan jauhnya jarak yang ditempuh antara Serbia dan Inggris hingga membuat pesawat diwajibkan transit terlebih dulu.

Di sini pula kejadian nahas tersebut terjadi. Pesawat gagal lepas landas di upaya ketiganya setelah menabrak pemukiman warga yang berada di sekitar bandara Riem, Munich.

Delapan pemain dan tiga staf United tewas seketika. Sementara Charlton bersama beberapa rekan dan juga Busby selamat dari maut.

thecroniclelive.co.uk

“Saat itu saya berpikir kenapa harus saya yang selamat? Sementara itu, rekan saya yang lain tidak. Itu tragedi yang sangat mengerikan. Kami saat itu memiliki banyak pemain muda hebat,” katanya kepada Daily Mail.

“Pemain-pemain muda kami akan menuai banyak kesuksesan di masa mendatang. Tapi semuanya langsung berubah. Sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi,” sambungnya.

Di balik tragedi memilukan itu, United dan Charlton tidak pernah mati. Bahkan bisa dikatakan tragedi Munich sebagai titik balik kesuksesan mereka hingga sekarang.

Kendati harus menunggu selama delapan tahun untuk kembali mengangkat gelar, mereka tetaplah Manchester United yang selalu disegani semua lawan.

Prestasi Abadi di Manchester United dan Inggris

Ada banyak hikmah yang dirasakan Charlton beserta Manchester United setelah tragedi Munich. Sebelum hari nahas itu, Charlton hanya mempersembahkan satu gelar Liga Inggris. Tapi peruntungannya langsung berubah di masa depan.

Masih bersama “tuannya”, Matt Busby, Charlton meraih banyak gelar selama 15 tahun. Yang paling mengesankan tentu saja torehannya di musim 1967-1968. Di tahun tersebut ia sukses mengawinkan gelar Liga Inggris dengan Piala Champions.

Tapi yang paling prestisius tentu saja keberhasilannya membawa Inggris naik ke singgasana tertinggi dunia di tahun 1966. Menyelenggarakan Piala Dunia 1966, Inggris tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

dailymail.co.uk

Ia membawa Inggris memenangi Piala Dunia pertama dan satu-satunya hingga saat ini. Melawan tim kuat, Jerman, di Wembley, anak asuh Sir Alf Ramsey menang 4-2. Kendati tidak mencetak gol, assist Charlton kepada Geoff Hurst pada menit ke-18 membuka pesta kemenangan Tim Tiga Singa.

Pria yang mengakhiri kariernya di klub Australia, Blacktown City, ini kemudian dianugerahi pemain terbaik Piala Dunia 1966. Gelar ini diraih berkat tiga gol yang ia cetak selama turnamen.

Hingga saat ini, nama Bobby Charlton masih tercatat sebagai pemain dengan caps terbanyak ketujuh bersama tim nasional. Total ia sudah memainkan 106 penampilan dan mencetak 49 gol.

Sedangkan di tingkat klub, ia mengoleksi 758 penampilan. Torehan ini sempat menjadikan dirinya sebagai pemain yang paling sering membela Setan Merah sebelum dipatahkan Ryan Giggs. Untuk urusan gol, predikatnya sebagai top skorer sepanjang masa United (249 gol) akhirnya dipatahkan Wayne Rooney dua musim lalu.

Pengalaman Singkat yang Mengubah Sepak Bola Irlandia

Segala hasrat yang sudah didapat bersama MU membuat Charlton membutuhkan tantangan baru demi terus memacu semangatnya pada sepak bola. Sempat pindah ke klub Inggris lainnya, Preston North End, musim 1973, sang kreator serangan lalu mengejutkan dunia dengan memilih kompetisi yang jauh dari hingar bingar Eropa, yaitu Liga Irlandia.

Pada 1975 ia pindah ke klub bernama Waterford FC. Menariknya, pengumuman kepindahannya langsung menumbuhkan semangat para fans yang sempat hilang. Maklum saja, klub kesayangan mereka ketika itu sedang terpuruk di liga.

Semangat fans yang sudah kadung jatuh bahkan sampai membuat mereka tidak percaya jika Charlton mampu membangkitkan performa Waterford ketika itu. Setali tiga uang dengan fans, pihak klub juga sedikit ragu dengan daya magis yang dimiliki sang gelandang.

Presiden Waterford ketika itu, Joseph Delaney, tidak berani mengontrak pemain yang saat itu sudah menginjak usia 35 tahun. “Saya tidak menjanjikan waktu padanya karena saya harus melihat respons fans seperti apa,” ujarnya seperti dilansir ITV.

sportsjournalist.co.uk

Tapi keraguan pihak klub dan fans langsung berubah menjadi decak kagum pada laga debutnya melawan St Patrick Athletic. Kendati tidak mencetak gol, ia mampu membawa Waterford menang melalui aksi-aksi memukaunya yang kerap membuat pemain lawan terlihat bodoh.

Efek instan ini nyatanya berdampak masif pada perhatian publik Irlandia. Dalam sekejap, pendapatan klub dari tiket pertandingan melonjak tajam. Jika sebelumnya pihak klub hanya mendapatkan seribu pounds perlaga, sejak kedatangan Charlton, mereka bisa meraup keuntungan dua kali lipat.

Di laga selanjutnya melawan Finn Harp, enam ribu penggemar sepak bola di seluruh Irlandia datang langsung ke stadion untuk menyaksikan sang maestro bermain. Padahal ketika itu salju turun cukup deras dan cuaca mencapai 2 derajat.

Pada akhirnya enam ribu fans yang datang ke stadion tidak dibuat kecewa oleh sang pemain. Ia kembali membawa Waterford menang 3-1 dan istimewanya lagi, dirinya juga sukses mencetak gol pada laga tersebut.

Kecintaan publik Irlandia pada Charlton semakin masif dan menjadi pisau bermata dua. Seiring berjalannya waktu, masalah sang pemain dengan manajemen klub mewabah ke seluruh negeri.

Imbasnya, para penonton ragu untuk membeli tiket pertandingan Waterford di laga-laga selanjutnya. Mereka tidak rela mengeluarkan uangnya jika tidak bisa melihat sang pemain turun gelanggang.

Sehari sebelum pertandingan melawan Bohemian, ia menegaskan dirinya belum tentu bisa bermain jika masalahnya dengan manajemen klub belum selesai. Alhasil, tribun stadion Ballybofey hanya terisi dua ribu kursi saja. Jumlah ini menjadi yang terendah di musim itu. Sedangkan di lapangan, setelah dipastikan tidak bermain, Waterford pun menelan kekalahan telak 0-3.

Euforia dan kecintaan publik Irlandia pada Charlton sepertinya tidak pernah didengar Waterford. Pihak klub tetap pada pendirian mereka untuk melepas sang pemain di akhir musim. Akhirnya, setelah melakoni empat pertandingan di Liga Irlandia, ia memutuskan pulang ke Inggris untuk memperkuat Wigan Athletic.

Waktu yang dihabiskan pria 81 tahun itu di Irlandia mungkin sangat singkat. Tapi dalam waktu sesingkat itu ia sukses mengangkat derajat sepak bola di sana. Tidak sedikit pula yang menganggap dirinya sebagai dewa penyelamat sepak bola negara tetangga Inggris itu.

Sekarang sudah genap 40 tahun lamanya Bobby Charlton mengakhiri perjalanan panjangnya sebagai sepak bola. Namun, tetap saja anak dari pasangan Bob Charlton dan Cessie Charlton tidak bisa jauh dari dunia yang telah membesarkan namanya.

Ia menjabat sebagai penasihat Manchester United sejak 1984 silam. Kharisma yang ia tularkan pada skuat Setan Merah di balik layar mampu membuat klub terus bersinar di kancah sepak bola dunia.

Comments
Loading...