Boca Juniors vs Sporting Cristal: Laga Paling Brutal di Sepak Bola

Football5star.com, Indonesia – Jika menyebut laga sepak bola mana yang paling mengerikan. Suporter sepak bola tentu punya pilihan masing-masing. Bisa duel antar dua klub rival seperti Persija vs Persib atau Real Madrid vs Barcelona.

Namun jika berdasarkan sejumlah literasi, laga sepak bola mengerikan rasanya cukup layak diberikan pada pertandingan Boca Junior vs Sporting Cristal pada 1971 di ajang Copa Libertadores.

Pertandingan yang berlangsung di markas Boca Junior, Stadion Alberto J. Armando dianggap publik Argentina sebagai fakta kelam dari perjalanan sepakbola negara tersebut.

Pada pertemuan pertama, Boca Junior menyerah di kandang Cristal. Aksi balas dendam pun diusung oleh skuat Boca Junior kala itu. Pada awalnya Boca vs Cristal berlangsung cukup seru. Boca sempat memimpin 2-0 lewat gol yang dicetak oleh Jorge Coch dan Angel Rojas.

Jalannya pertandingan

Namun Cristal tak menyerah, dua gol penyama kedudukan mampu dicetak oleh Juan Orbegoso dan Carlos Pajuelo di pertengahan babak kedua. Skor 2-2 inilah yang menjadi awal pertandingan berdarah itu dimulai. Insiden pertama dilakukan oleh kapten Boca, Ruben Sune.

Pemain yang sempat mau bunuh diri dengan cara melompat dari apartemennya tersebut lakukan pelangaran brutal ke pemain Crital, Alferdo Quesada. Tackle kerasnya membuat Quesada mengerang kesakitan, situasi yang membuat emosi pemain Cristal terpancing.

thesefootballtimes.co

Sune lolos dari hukuman sang wasit. Merasa dilindungi oleh wasit, Sune kembali berulah. Kali ini korbannya Alberto Gallardo. Sune menerjang kaki Gallardo. Gallardo tak tinggal diam dan menyerang Sune dengan tendangan tepat mengenai kepala. Seperti dikutip dari thesefootballtimes Sune membutuhkan 7 jahitan di kepalanya.

Tak berhenti di situ, pemain Boca lain, Coch bahkan menyerang dua pemain Cristal sekaligus, Eloy Campos dan Fernando Mellan. Tackle Coch membuat Mellan alami patah kaki, sedangkan Campos alami patah hidung.

Keributan antar pemain usai insiden itu pun tak bisa lagi dibendung. Sang pengadil tentu jadi sorotan di laga paling berdarah ini. Ialah Orlando de la Tore yang menjadi pengadil di laga tersebut.

Ibunda wasit meninggal dunia

Ia beberapa kali mendapat dorongan dan makian dari pemain kedua tim. Emosi de la Tore pun habis dan membuat dirinya ikut bertindak tidak terkontrol. Bagaimana tidak, ia memberi kartu merah kepada Ramon Mifflin, pemain Boca yang sama sekali tak terlibat dalam perkelahian antar pemain.

Naasnya, ibunda de la Tore ternyata berada di dalam stadion dan menonton langsung. Dilaporkan ibunda sang wasit kena serangan jantung dan meninggal dunia setelah menyaksikan sang anak ikut dalam pertandingan brutal tersebut.

Pendukung Boca pun marah dengan sikap de la Tore yang terlalu memihak tim tamu. Dikabarkan ada puluhan pendukung Boca yang akhirnya ditangkap pihak kepolisian karena lakukan aksi rusuh.

Aksi massa

Usai pertandingan tersebut kemarahan langsung menyeruak di seluruh jalanan kota Lima, Peru. Sejumlah massa yang mayoritas ialah pendukung dari Cristal dikabarkan menggelar aksi demonstrasi di depan kedutaan Argentina.

Presiden Boca Junior kala itu, Alberto J Armando mengakui bahwa apa yang dilakukan pemainnya tersebut sudah di luar nalar. Ia bahkan mengaku jijik dengan apa yang terjadi di pertandingan tersebut. Armando pun mengaku siap jika Boca mendapat hukuman berat dari Conmebol.

elgrafico.com.ar

Sementara itu, pemain Crital yang pulang ke Peru sehari setelah pertandingan disambut oleh ribuan massa. Para pemain ini dianggap sebagai prajurit tempur yang baru pulang dari medan perang. Sampai detik ini, masyarakat sepakbola Peru masih sangat marah jika mengingat laga berdarah tersebut.

Boca JuniorsCopa Libertadoresinternasional