Suporter Klub Egy Maulana Vikri Bikin Ricuh, 1 Wanita Terluka Bakar

Football5star.com, Indonesia – Kericuhan suporter ketika klub yang dinaungi Egy Maulana Vikri, Lechia Gdansk, bertandang ke Lech Poznan, berbuntut panjang. Akibat kericuhan itu, 1 wanita berusia 17 tahun dilarikan ke rumah sakit akbat luka bakar. Sementara, 6 orang ditahan polisi.

Pertandingan yang digelar di Stadion INEA itu berlangsung cukup keras. Bagaimana tidak, wasit Piotr Lasyk harus mengeluarkan 8 kartu kuning untuk kedua kubu. Termasuk dua kartu kuning kepada pemain Lechia Gdansk, Karol Fila, yang berujung kartu merah pada menit ke-51.

Akibat kehilangan satu pemain, Lechia Gdansk harus menderita kekalahan 0-2 dari Lech Poznan. Sayangnya, laga sempat ternoda akibat ulah suorter Lechia Gdansk yang membuat onar. Sekitar menit ke-64, oknum suporter tim tamu membuat gaduh serta melempar flare ke arah lapangan.

Pada akhirnya, wasit Piotr Lasyk meminta para pemain serta ofisial tim dari kedua kubu masuk ke lorong ruang ganti sampai suasana tenang. Selain itu, lemparan flare pun membuat kondisi lapangan tak memungkinkan untuk meneruskan permainan akibat asap yang mengepul.

Meski pada akhirnya laga bisa dilanjutkan, buntut dari kericuhan suporter itu ternyata masih berlanjut. Setelah laga, sebanyak 6 orang suporter Lechia Gdansk diamankan pihak kepolisian. Lima akhirnya dilepas, tapi satu lainnya akan didakwa bersalah.

Selain itu, imbas pelemparan flare oleh suporter Lechia Gdansk ke area pendukung Lech Poznan, satu wanita berusia 17 tahun mengalami luka bakar serius. Dia pun harus dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans.

Kericuhan Dipicu Provokasi Suporter Lech Poznan

Sejatinya, potensi ricuh antara suporter Lech Poznan dan klub yang diperkuat Egy Maulana Vikri itu sudah menjadi rahasia umum. Bahkan, sebelum laga sempat beredar anjuran agar pendukung Lechia Gdansk tak masuk ke dalam stadion. Namun, langkah antisipasi itu tak berhasil.

“Ada perilaku provokatif pendukung Lech Poznań yang, luput dari pengawasan, menempati dua “sektor” yang seharusnya menjadi area suporter Lechia. Keamanan memang tidak memungkinkan suporter Lechia Gdansk untuk masuk ke stadion. Akan tetapi, entah bagaimana caranya mereka akhirnya bisa masuk dan membaur di sektor yang ditempati pendukung Lech Poznan,” ucap juru bicara kepolisian, Andrzej Borowiak, dikutip Football5star.com dari przegladsportowy.pl.

Disebutkan, suporter Lechia sebenarnya hanya menanggapi provokasi tuan rumah. Meski begitu, tetap saja sulit untuk membenarkan reaksi ini dengan cara apa pun. Pada menit ke-64 mereka melemparkan flare ke salah satu sektor yang ditempati penggemar Lech Poznan. Beberapa di antara mereka pun ada yang coba menyerbu lapangan.

Wasit menyela pertandingan. Para pemain masuk ke ruang ganti selama beberapa menit. Upaya kapten Lechia Gdansk, Flavio Paixao, untuk bernegosiasi dengan para pendukungnya, pun tak membuahkan hasil. Sementara, pihak keamananan di sektor tim tamu justru baru muncul setelah kejadian.

Satu Wanita Terluka Bakar, Satu Suporter Jadi Tersangka

Andrzej Borowiak menyebut, peristiwa itu sejatinya bisa dihindari jika pihak keamanan sejak awal sudah mengambil langkah antisipatif.

“Tidak mungkin memasuki sektor yang ditempati oleh suporter segera setelah kejadian. Hal itu justru akan terlalu meningkatkan risiko. Selain itu, para pelakunya bertopeng, tetapi kami memiliki rekaman video yang selama ini biasa kami gunakan kejadian seperti ini,” ujar Andrzej Borowiak.

Andrzej Borowiak menambahkan, “Kami telah mendata 500 orang, enam di antaranya ditahan. Lima orang dibebaskan, sementara satu orang dari Gdańsk tetap menjalani pemeriksaan dan akan mendapatk hukuman. Namun, ini bukan akhir dari penyelidikan”.

Seperti disebutkan sebelumnya, korban terparah dari insiden kericuhan suporter itu adalah luka bakar serius yang dialami seorang wanita pendukung Lech Poznan. Wanita berusia 17 tahun itu terkena lemparan flare dari suporter klub Egy Maulana Vikri, dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans.

“Pihak penyelenggara bertanggung jawab atas keselamatan di stadion dan sesuai dengan ketentuan undang-undang, polisi dapat menerobos masuk stadion ketika kepala keamanan memintanya. Kami tidak dapat bertindak sampai kami menerima permintaan seperti itu secara tertulis. Jika saja pihak keamanan tergantung pada polisi, peristiwa seperti itu tidak akan pernah terjadi di stadion,” tegas Andrzej Borowiak.

Pembuat Onar di Stadion Tak Kebal Hukum

Borowiak juga tidak setuju dengan anggapan bahwa seseorang bisa merasa tidak akan dihukum di stadion. Padahal, beberapa peristiwa sudah membuktikan bahwa suporter yang membuat onar bisa dijerat hukum. Tegok saja pertandingan Cracovia dengan Vistula pada 2017, dari dan final Piala Polandia antara Arka Gdynia dan Legia Warsawa pada Mei 2018.

Dalam kedua kasus tersebut para hooligans (masing-masing Cracovia dan Arki) melempar flare ke arah tribune pendukung lawan. Sayangnya, dalam kasus ini pihak keamanan gagal melacak pelaku. Bahkan, pemilik Cracovia, Janusz Filipiak, marah besar terhadap hal ini.

Dia heran mengapa tidak mungkin untuk menangkap tersangka di tempat kejadian, karena stadion telah ditutup dan tidak ada yang bisa keluar sampai polisi selesai memeriksa.

“Sebagai presiden, saya tidak memiliki alat untuk menegakkan ketertiban di stadion. Kami tidak memiliki polisi atau pengadilan. Kami memiliki alat pemantauan yang kami sampaikan kepada mereka, dan melakukan segalanya dengan benar. Tetapi saya ingin bertanya: mengapa orang-orang yang berada di sektor yang terdefinisi dengan baik tapi tidak segera ditangkap?” kecam Janusz Filipiak seperti dikutip Football5star.com dari Gazeta Wyborcza.

Kembali ke kasus kericuhan suporter pada laga Lech Poznan dan Lechia Gdansk, Andrzej Borowiak menyebut satu oknum pendukung klub yang dibela Egy Maulana Vikri akan mendapat tuntutan sesuai porsi.

“Sebagai standar, ketika ada pelanggaran hukum di stadion, kami mengamankan rekaman pemantauan stadion dan bukti lainnya. Setelah itu kami menentukan pelaku, dan ini kemudian melakukan penututan,” kata Borowiak.

Buntut dari permasalahan itu pula, Lechia Gdansk pun berisiko mendapat hukuman dari pihak otoritas kompetisi. Bisa berupa denda, atau larangan didukung suporter di stadion. Ancaman ini jelas merugikan klub yang sudah dibela Egy Maulana Vikri selama dua musim tersebut. Apalagi, Lechia Gdansk kabarnya tengah dililit masalah finansial.

egy maulana vikriKericuhan SuporterLech PoznanLechia GdanskLiga Polandia