Cerita Legenda Arema Soal Tragedi Mandala Krida 1999

Football5star.com, Indonesia – Pertandingan antar PSIM vs Arema di Stadion Mandala Krida dalam lanjutan LIGINA IV 1999 menjadi salah satu cerita buruk yang selalu diingat oleh legenda Arema, Julio Rubio.

Sejumlah laporan dari media Yogyakarta saat itu menuliskan bagaimana ketegangan yang terjadi di pertandingan ini. Julio Rubio memiliki cerita tersendiri atas peristiwa yang dikemudian hari dikenal sebagai tragedi Mandala Krida ini.

Julio Rubio mengatakan bahwa sejak awal ia berkarier di Indonesia, dirinya langsung mengerti bagaimana ada mafia sepak bola ‘bermain’ di sini. Ia pun tak heran jika banyak pertandingan Arema pada masanya tersebut hasilnya seperti sudah diakali.

Nasi Mawut dan Cuaca Kota Malang Sangat Dirindukan Legenda Arema

“Saya sudah mengerti pada musim pertama di sana. saya langsung mengerti, tidak mungkin berjuang melawan itu (mafia sepak bola). Ada beberapa pertandingan yang kita dikerjain,” kata Julio Rubio saat dihubungi Football5star.com, Senin (30/3/2020).

“Pertandingan yang saya ingat ketika kami dikerjai adalah pertandingan melawan PSIM di Yogyakarta. Itu skandal. Stadion itu harusnya ditutup. Wasit itu harusnya diskorsing seumur hidup,” ungkap pemain asal Chile tersebut.

Pertandingan kedua tim pada saat itu memang sempat diwarnai banyak insiden. Laga harus dihentikan oleh wasit beberapa kali karena ada insiden di lapangan.

“Keributan antar pemain akibat kurang tegasnya wasit memicu amarah para penonton yang hadir,” tulis media Yogyakarta pada saat itu.

Julio Rubio juga menjadi salah satu korban saat flare masuk ke tengah lapangan dan meledak tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Ada flare yang meletus dekat dengan saya. Saya langsung pingsan. Itu menit ke-5, belum ada 10 menit di babak pertama.”

“Batu dan botol dilempar. Dari menit pertama hingga akhir selalu ada lemparan ke lapangan. Bahkan Paco Rubio dipukul oleh pemain PSIM. Tapi justru kami (Arema) yang dihukum. Itu skandal,” tambahnya.

Julio berharap bahwa insiden seperti yang ia alami tak pernah terjadi lagi di Indonesia. Sejumlah fakta yang muncul usai tragedi Brajamusti 1999 memang menunjukkan laga ini penuh dengan ketegangan dan darah.

“Ada hujan batu ketapel dan lemparan botol dari luar stadion menambah suasana makin mencekam.Di luar stadion, sejumlah orang tampak tergeletak. Aparat kewalahan. Akhirnya Sri Sultan HB X sampai turun tangan untuk meredakan kondisi ini.” tulis media Yogyakarta.