Cha Bum-kun: Simbol Sepak Bola Korea yang Dihantui Wajib Militer

Football5star.com, Indonesia – Korea Selatan adalah nama besar di kawasan Asia. Tapi di mata dunia, mereka bukanlah apa-apa. Anggapan ini setidaknya berlaku sebelum memasuki milenium baru.

Ya, Korea Selatan bukanlah negara Asia yang lalu-lalang masuk Piala Dunia. Selama ini mereka baru 10 kali mentas di Piala Dunia. Delapan kali mereka rasakan secara beruntun sejak 1990 hingga 2018.

Sisanya, mereka masuk ajang terakbar sejagad pada 1954 dan 1986. Absennya Negeri Ginseng pada medio 1960-an hingga 1980-an awal memang tak lepas dari bibit pemain yang jalan di tempat.

These Football Times

Kondisi ini diperparah dengan liga yang juga tidak maju-maju amat. Klub profesional masih bisa dihitung jari di sana. Sisanya, klub berasal dari universtitas-universitas yang ada.

Kendati demikian, bukan berarti Korea tidak punya pemain panutan pada masa tersebut. Dan satu-satunya nama yang mampu mendobrak sejarah Korea Selatan di mata dunia adalah Cha Bum-kun.

Seperti yang disinggung di atas, Cha Bum-kun juga tidak memperkuat klub profesional pada awal kemunculannya. Ia hanya bermain untuk klub sekolahnya, Kyoung-Shin. Terbatasnya klub juga membuat Cha hanya bermain untuk Universitas Korea di ajang resmi pada 1972.

Walau begitu, timnas Korea Selatan tidak memandangnya sebagai pemain universitas. Timnas memanggil pemain yang saat itu baru berusia 18 tahun pada tahun yang sama dan menjadikannya sebagai debutan termuda dalam sejarah saat itu.

Wajib Militer Menjadi Jalan Terjal ke Eropa

Piala Asia 1972 jadi ajang perdananya bersama timnas Korea Selatan. Tapi sebagai penyerang, dia gagal mencetak gol. Tidak berhasil pula ia membawa negaranya juara karena kalah dari Iran di partai final.

Walau begitu, ajang tersebut telah menyadarkan warga Korea bahwa di hadapan mereka berdiri seorang pemain besar. Cha semakin matang bersama timnas hingga membuatnya digaet klub profesional di sana, Korea Trust Bank pada 1976.

Akan tetapi, di sini lah kariernya mulai diuji. Ia harus meninggalkan klub dan timnas untuk menjalani wajib militer. Ia harus bolak-balik camp wajib militernya dan tim nasional yang akan melakoni turnamen Piala Kemerdekaan di Malaysia.

Dengan tensi latihan yang berkurang drastis karena wajib militer, Cha Bum-kun membuktikan bahwa dia masih mampu mempertahankan level terbaik. Terbukti, dia mencetak hat-trick melawan Malaysia hanya dalam waktu lima menit. Padahal Korea sebelumnya sempat tertinggal 1-4.

Fandom

Tugas utama sudah menanti Cha. Piala Dunia 1978 sudah di ambang mata. Dia berpeluang ke turnamen terakbar untuk pertama kalinya. Tapi apa boleh buat, dewi fortuna masih belum menaunginya.

Korea Selatan gagal ke Piala Dunia 1978. Namun, lima gol yang ia sarangkan selama babak kualifikasi membuat klub-klub Eropa memantaunya. Kedatangan Eintracht Frankfurt ke Korea pada tahun itu menjadi pertanda bahwa masa depannya ada di Eropa.

Akan tetapi, bukan perkara mudah untuk Eintracht Frankfurt meyakinkan federasi sepak bola Korea dan juga dinas militer di sana. Adapun Cha memang sudah menancapkan hati dan pikirannya di Jerman dan selalu siap untuk terbang kapan saja.

Adalah asisten pelatih Frankfurt saat itu, Dieter Schulte, yang melihat potensi besar Cha. Dia pula yang mendesak federasi sepak bola Korea untuk menunda wajib militernya dan memberi sang pemain kesempatan untuk membuktikan diri di Jerman.

Semua berjalan lancar pada awalnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kepergian Cha ke Jerman menandakan berakhirnya karier internasional sang bomber. Otoritas Korea Selatan marah besar mengetahui sang pemain meninggalkan wajib militer demi mengejar mimpi bermain Eropa.

Mereka mendesak federasi untuk mencoret pemain kelahiran 22 Mei 1953. Cara ini nyatanya tidak membuat nyali Cha ciut. Ia justru menunjukkan perkembangan menjanjikan selama masa uji coba di Frankfurt.

Pada saat yang bersamaan, klub Bundesliga lain, SV Darmstadt melihat aksi  pemain yang saat itu sudah berusia 25 tahun. Ketika Frankfurt masih ingin menguji sang pemain, Darmstadt memberi kepastian dengan langsung menyodorkannya kontrak selama enam bulan.

Tanpa pikir panjang, ayah dari legenda Korea Selatan, Cha Du-ri, ini menerima pinangan Damstadt. Mimpinya bermain di kompetisi Eropa menjadi nyata pada musim 1978-1979. Dia pun berstatus sebagai pemain Korea pertama yang tampil di Eropa.

Hari yang ditunggu Cha Bum-kun tiba pada 30 Desember 1978. Laga melawan Bochum jadi debutnya. Sayang, itu jadi satu-satunya pertandingan yang dilakoni. Cha dipaksa pulang oleh otoritas Korea Selatan untuk menuntaskan wajib militernya.

Mimpinya nyaris hancur karena tak boleh keluar negaranya hingga Mei 1979. Artinya, ia menyudahi musim 1978-1979 dengan catatan satu pertandingan saja.

Tapi selalu datang kesempatan kedua untuk sang legenda. Eintracht Franfurt datang lagi. Kali ini mereka membawa kepastian. Dan ketika tugasnya selesai, ia kembali ke Jerman untuk menandatangi kontrak berdurasi empat tahun di Frankfurt.

Korea Pertama yang Menangkan Trofi di Eropa

Cha Bum-kun benar-benar membayar kepercayaan Frankfurt. Pada musim pertamanya, ia dengan cepat menyesuaikan diri. Dirinya berhasil mencetak 12 gol pada musim 1979-1980. Torehan ini membuat Kicker memasukkan namanya dalam Team of the Year. Ia bersanding dengan Kevin Keegan dan Karl-Heinz Rummenigge di lini depan.

Tinta emas tidak hanya dia buat di Bundesliga. Di kancah Eropa, Cha lebih bersinar lagi. Dia membawa Frankfurt juara Piala UEFA pada musim itu. Pada laga pertama, mereka mengalahkan klub Skotlandia, Aberdeen, yang ditukangi Sir Alex Ferguson.

Pria yang kini berusia 67 tahun mencetak satu gol dalam dua pertemuan. Tapi satu gol tersebut sudah cukup membuat Sir Alex Ferguson pusing setengah mati. Ia mengakui kegagalan anak asuhnya kala itu hanya karena ada Cha Bum-kun di kubu Frankfurt.

“Masalah yang tidak bisa kami selesaikan adalah Cha Bum. Kami tidak bisa menghentikannya. Dia tidak terbendung.,” kata Ferguson seperti dikutip Football5star dari These Football Times.

Pada laga final, Frankfurt bertemu sesama klub Jerman, Borussia Moenchengladbach, yang masih diperkuat Lothar Matthaeus. Frankfurt kalah 2-3 di leg pertama, namun keluar sebagai juara setelah menang tipis 1-0 pada leg kedua.

The Guardian

Pada dua pertandingan tersebut, Cha memang tidak mencetak gol maupun assist. Namun, pergerakannya selama 180 menit sudah membuat Lothar Matthaeus kewalahan. Tanpa ragu ia menyebut sang bomber sebagai yang terbaik dunia saat itu.

“Saya masih muda dan Cha Bum adalah penyerang terbaik di dunia. Dia adalah wajah Frankfurt pada masa itu. Dia punya kecepatan, teknik hebat, dribbel luar biasa, dan piawai mencetak gol. Dan yang paling penting, dia adalah sosok yang hebat,” tegas Matthaeus.

Pemilik 136 caps timnas Korea Selatan tidak hanya membuktikan kehebatan di Frankfurt saja. Dia meneruskan torehannya itu bersama Bayer Leverkusen. Setelah memenangkan Piala UEFA dan DFB Pokal di Frankfurt, ia kembali menapaki tangga juara di Leverkusen.

Setahun sebelum memutuskan pensiun di Bay Arena, sang legenda mempersembahkan trofi Piala UEFA untuk Leverkusen musim 1987-1988. Pada final kali ini, ia sukses melesakkan satu gol pada leg kedua melawan Espanyol.

Tidak Nyaman dengan Makanan di Jerman

Menghabiskan waktu 11 tahun di Jerman dan mengakhiri karier sepak bolanya di sana, Cha ternyata tidak pernah suka makanan tanah Bavaria. Menurutnya, kebiasaan orang-orang Jerman makan makanan yang dingin sangat tidak cocok dengan kebiasaannya di Korea Selatan.

Ia sangat tersiksa harus makan hidangan dingin. Dia lebih suka makan makanan yang panas. Sekilas, masalah ini terbilang sepele. Tapi bagi dia, ini adalah masalah besar yang tak jarang bisa memengaruhi performanya.

“Orang Jerman menikmati makanan dingin. Makanan yang terdiri dari bermacam-macam makanan dingin seperti roti, keju, dan ham. Sulit bagi saya untuk menikmati atau terbiasa makanan dingin, terlebih untuk makan malam,” kata Cha Bum-kun seperti dilansir These Football Times.

DFB

“Selama pelatihan kami dihadangkan steak bersama makanan prasmanan dingin lainnya. Tapi karena saya tidak makan makanan dingin, saya sangat lapar. Jadi saya minta satu porsi steak lagi. Dan itu membuat saya malu,” kenangnya.

Cha Bum-kun adalah bukti bahwa kerja keras dan keyakinan akan membuahkan hasil nyata. Dia pernah dicoret dari timnas Korea, pernah hampir mengubur impian main di Eropa karena momok bernama wajib militer, pernah pula diterjang tekel horor oleh Juergen Gelsdorf yang nyaris menyudahi kariernya.

Tapi Cha selalu bangkit. Dia membuka mata orang-orang Eropa, juga negaranya sendiri bahwa pesepak bola hebat bisa lahir dari mana saja. Dan tentunya dia telah mewariskan kerja keras dan kehebatannya dalam diri Cha Du-ri.

Cha Bum-kunEintracht FrankfurtKorea SelatanLegenda