Creative Movement Viking Frontline demi Persib Bandung

Football5star.com, Indonesia – Jangan pernah ragukan kecintaan bobotoh kepada Persib Bandung. Tidak sekedar memberikan dukungan di dalam stadion baik laga tandang dan kandang. Keberadaan bobotoh saat ini juga tak lepas dari kreativitas mereka mempertahankan idiom bahwa ‘Persib Bandung adalah Jiwa Raga Kami’

Keberadaan suporter memang sudah seharusnya menjaga klub kecintaan lewat aksi positif. Menyalurkan energi di dalam stadion saat tim bertanding memang sudah menjadi ekspresi suporter, tapi di luar itu melakukan tindakan kreatif dalam arti melakukan ekonomi kreatif juga wajib dilakukan.

Hal itu juga yang dilakukan oleh salah satu kelompok bobotoh Persib Bandung, Viking Frontline. Menurut salah satu pendiri Viking Frontline yang saat ini menjadi anggota DPRD Jawa Barat Tobias Ginanjar, ekonomi kreatif para bobotoh akan menaikkan citra klub dan para pendukungnya itu sendiri.

Ekonomi kreatif Viking Frontline

Tobias menyebut bahwa dalam perjalanannya bobotoh sebenarnya sudah sejak lama mengembangkan ekonomi kreatif. Ia menyebut bahwa saat pertama kali mendirikan Viking Frontline, di Bandung sudah banyak kelompok bobotoh yang membuat kaos, merchandise, bahkan ada Viking Records.

“Ada bobotoh yang bikin baju, ada yang bikin album, sebenarya sudah sejak lama ekonomi kreatif bobotoh berjalan. Sebenarnya sudah banyak berkemban dan baik. Ada toko-toko baju hingga kumpulan album kompilasi musik,” kata Tobias kepada Football5star.com, Kamis (12/12/2019).

Namun menurut Tobias, dari dulu hingga saat ini keberadaan ekonomi kreatif para suporter berdiri sendiri. Sejumlah pihak yang seharusnya bisa menjadi penyokong keberlangsungan ekonomi kreatif menurut Tobias Ginanjar belum membuka mata soal ini.

twitter.com/v_frontline_pc

“Selama ini kan berjalan sendiri, tidak ada pendampingan dan perhatian dari pemerintah. Meski tidak perhatian dari pemerintah, tapi hingga saat ini masih bisa berjalan untuk wilayah Bandung,” ucap Tobias.

Pada titik ini peran pemerintah dan stakholder terkait sangat penting untuk pengembangan ekonomi kreatif suporter. Mengubah energi berlebih dari para suporter ke tindakan lebih baik dan positif tentu saja jadi hal berguna dan membangun sepakbola nasional itu sendiri.

Tidak itu saja, jika melihat konsep sport tourism yang sempat digaungkan sejumlah pihak beberapa tahun terakhir, ekonomi kreatif suporter dan pariwisata di sejumlah kota seperti di Bandung akan merangsang creative movement dengan bobotoh sebagai inisiatornya.

“Suporter ini kan ada di seluruh dunia. Bukan tidak mungkin, ada suporter lain yang penasaran ingin memiliki merchandise Persib seperti kita yang tertarik dengan merchandise klub Eropa,” ucap Tobias.

“Ke depan seharusnya pihak pemerintah bisa mengajak para suporter seperti bobotoh untuk bisa mengikuti forum-forum di internasional yang fokus pada ekonomi kreatif,” tambahnya.

Kreatifitas, Edukatif, Ekonomi Kreatif Suporter

Suporter klub Indonesia sebenarnya bukan hanya melulu identik dengan aks-aksi tak terpuji dan jadi cibiran masyarakat di luar pencinta sepakbola. Sejumlah barisan supoter nyatanya memang memiliki aksi kreatifitas yang mumpuni, tak jarang aksi kreatifitas mereka mengarah ke pemberdayaan ekonomi mandiri.

Konsep berdiri di atas ekonomi sendiri (berdikari) diterapkan nyata oleh para bobotoh dan anggota Viking Frontline. Memiliki ekonomi kreatif sendiri tentu membuat Viking Frontline secara organisasi kuat dan tak perlu meminta-minta dana dari pihak luar.

β€œDana datang dari udunan dan penjualan merchandise kita. Merchandise ini sendiri tidak kita buat dalam skala besar-besaran, karena Frontline bukan unit bisnis, cuma untuk menambal dana kegiatan di dalam dan luar stadion.” kata Tobias.

Konsep berdikari dari Viking Frontline tentu saja memiliki maksud agar suporter itu sendiri terbebas dari kepentingan lain. Karena seperti yang dikatakan oleh Tobias, bahwa suporter harus kembali ke fitrah-nya.

“Fitrah suporter itu sendiri kan beragam yah. Dari latar belakang berbeda. Mereka berangkat ke stadion itu untuk menyalurkan ekspresinya. Suporter itu di stadion.”

“Soal suporter yang melanggara aturan, harusnya dibicarakan secara hati ke hati. Tidak perlu harus melakukan tindakan yang berlebih untuk suporter,” ucap Tobias.

Energi dan ekspresi berlebih dari para suporter inilah yang diharapkan bisa dikelola dengan tepat. “Menggandeng” suporter dengan aparat keamanan tentu saja baik untuk menjaga mereka untuk tidak bertindak vandal, namun yang juga penting ialah bagaimana mensinergiskan suporter dengan lembaga negara lain yang mengusung soal ekonomi kreatif.

PR Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Melalui Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2019 tentang Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Presiden Jokowi melebur Badan Ekonomi Kreatif yang dipimpin Triawan Munaf menjadi di bawah Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Sebenarnya saat Bekraf masih berdiri sendiri, mereka memiliki 16 subsektor ekonomi kreatif yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk menggandeng para suporter. Jika ditelusuri lebih jauh, ke-16 subsektor itu sudah dijalankan oleh para supoter termasuk para bobotoh.

Mulai dari sektor desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan tangan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, hingga ke seni pertunjukan. Para bobotoh, utamanya anggota Viking Frontline hampir tiap pekan setiap ada pertandingan Persib Bandung selalu bersentuhan dengan sektor-sektor tersebut.

Namun seperti yang disebutkan di awal, misal seperti akan membuat koreografi yang menjadi seni pertunjukan di pertandingan Persib, para suporter selama ini hanya mengandalkan dana patungan dan hasil dari ekonomi kreatif yang mereka lakukan.

Kesadaran untuk bisa merangkul suporter untuk mengembangkan ekonomi kreatif di masing-masing kota sebenarnya sudah sempat dilontarkan oleh anggota DPR RI dari Komis X, Muhammad Kadafi.

“Kita berharap nanti suporter juga bisa mengembangkan tim yang didukungnya, misalnya mereka melakukan ekonomi kreatif dan perkembangan.”

“Ada wadah silaturahmi dan jambore nasional, mereka bisa lakukan yang membuat keakraban mereka saling kuat,” kata Kadafi usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Paguyuban Suporter Timnas Indonesia, di Gedung Nusantara I, Senayan pada November lalu.

Artinya dengan kondisi seperti ini, sudah seharusnya Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di bawah pimpinan Wisnutama mampu menyentuh ranah suporter yang selama ini tak dilakukan oleh Bekraf.

Comments
Loading...