Dalam Negeri Hancur karena Perang, Suriah Bikin Kejutan di Piala Asia U-23

Football5star.com, Indonesia – Perhelatan Piala Asia U-23 2020 yang berlangsung di Thailand jadi catatan manis untuk negara Suriah. Negara yang dalam negerinya hancur karena perang berpeluang untuk lolos dari babak fase grup.

Bergabung di grup B bersama negara yang cukup mapan seperti Arab Saudi, Qatar, dan Jepang, Suriah saat ini berada di peringkat pertama dengan koleksi 4 poin. Hasil dari satu kali menang dan satu kali imbang di dua laga grup B.

Pada laga pertama, Suriah mampu menahan imbang Qatar dengan skor 2-2. Sempat tertinggal dua gol, Suriah mampu memaksa hasil imbang lewat gol yang dicetak oleh Barakat dan Aldin Ali di menit akhir pertadingan.

getty images

Di laga kedua, di luar dugaan Suriah mampu meraih tiga poin dari kandidat juara Piala Asia U-23, Jepang. Bermain di Thammasat Stadium, Minggu (12/1) Suriah mampu menang 2-1 dari Jepang. Barakat dan Aldin Ali kembali yang membawa Suriah meraih hasil positif.

Di laga terakhir, Suriah tinggal menghadapi Arab Saudi. Secara matematis, Suriah sangat berpeluang lolos dari babak fase grup. Hasil imbang sudah cukup membuat mereka lolos, jika kalah pun peluang lolos masih tetap ada asalkan Qatar tidak meraih kemenangan atas Jepang.

Menarik memang melihat perkembangan sepak bola Suriah dalam beberapa tahun ke belakang. Pada babak penyisihan Piala Dunia 2018 lalu, tim senior juga hampir lolos ke Rusia jika tidak dikalahkan secara dramatis oleh Australia.

Kondisi dalam negeri

Laporan dari bbc menyebutkan bahwa Suriah yang hanya memiliki luas wilayah 185 ribu km2 hancur akibat perang tak berkesudahan. Wilayah Suriah hanya menyisakan kurang dari setengah wilayahnya. Sepanjang mata memandang di kota-kota besar Suriah hanya kepulan asap bekas sisa kebakaran yang terlihat.

Di sudut-sudut lain kota, kamp-kamp pengungsi diisi ribuan orang tak bersalah yang berusaha hidup dari ‘nerakanya’ dunia ini. “Secara umum situasi ekonomi di Suriah sudah hancur, dan tentu saja ini juga mencerminkan kondisi olahraga kami,” kata salah satu penggawa Suriah, Mohannad Ibrahim.

Lantas bagaimana Suriah yang pelatih timasnya dibayar hanya 100 dollar atau Rp 1,3 juta sementara untuk para pemain Suriah di liga lokalnya hanya memperoleh gaji sebesar 200 dollar bisa terus membuat kejutan di kompetisi yang mereka ikuti?

Apa yang membuat Timnas Suriah begitu menggila di babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Asia? Seperti yang pernah dikatakan oleh asisten pelatih Suriah, Tarek Jabban, “Dalam sepak bola tidak yang mustahil, selalu ada harapan,” kata Jabbar.

Ditambahkan Jabbar meski berada di kondisi yang nyaris dipercaya oleh banyak orang, Jabbar menyebut selalu ada rasa optimisi di Timnas Suriah. “Kami selalu optimis dengan apa yang kami jalani sekarang, sesulit apapun kondisi kami,” kata Jabbar seperti dikutip dari reuters

Comments are closed.