Daniel Passarella: Kapten Juara Piala Dunia yang Benci Maradona

Football5star.com, Indonesia – Bukan suatu hal baru jika seorang bek punya keahlian dalam mencetak gol. Saat ini sudah sangat banyak bek-bek yang membuktikan agresifitasnya di gawang lawan.

Banyak yang beranggapan bahwa pemain zaman sekarang memang dituntut lebih untuk berkontribusi dalam tim, baik ketika bertahan, menyerang, dan bahkan mencetak gol. Hal ini juga dialami para bek modern.

Kondisi ini pula yang membuat banyak pemain belakang memberi sumbangsih berupa gol. Maka tak heran jika muncul nama-nama seperti Sergio Ramos, Gerald Pique, Leonardo Bonucci, hingga Vincent Kompany yang kerap mencetak gol.

Wikimedia Commons

Akan tetapi, sebelum keberadaan mereka, ada satu bek lawas yang cukup disegani pada era 70-an hingga 80-an. Ia disegani bukan hanya karena tidak kompromi dalam menjegal lawan, tapi karena kepiawannya dalam membobol gawang lawan. Dia adalah Daniel Passarella.

Berbicara soal Daniel Passarella sama seperti berbicara tentang timnas Argentina dan juga River Plate. Dia adalah legenda River dan kapten yang membawa Albiceleste juara Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Walau dikenal sebagai legenda River Plate, dia adalah penggemar Boca Junior semasa kecil. Hampir seluruh keluarganya menggilai Boca yang notabene musuh bebuyutan River.

Passarella bahkan pernah berikrar pada neneknya bahwa suatu saat dia akan menjinakkan La Bombonera.  Namun, kenyataannya dia justru melegenda bersama El Monumental dan dimusuhi seisi La Bombonera.

Bek Paling Subur dan Kapten Pertama Argentina yang Juara Dunia

Pemain kelahiran Chacabuco, Argentina, sama sekali tidak berniat untuk berseragam Merah-Putih River. Tapi ketika itu dia tidak mampu menolak ajakan Nestor Rossi. Dan bisa dibilang Nestor Rossi berjudi mendatangkannya ke klub ibu kota.

Anggapan tersebut muncul karena faktor dari mana dia berasal. Sebelumnya ia hanya bermain untuk klub divisi tiga, Atletico Sarmiento. Dia belum punya pengalaman berlaga di kasta tertinggi, pun dengan usianya saat itu yang belum genap 20 tahun.

Namun, Nestor Rossi punya penilaian pribadi untuk sang pemain. Ia terkesima dengan insting golnya yang sangat tinggi. Saat memperkuat Atletico Sarmiento, Passarella memboyong sembilan gol dari 36 pertandingan. Sebuah catatan apik untuk seorang pemain belakang.

Romantika Daniel Passarella dengan River Plate kian sempurna pada 1975. Tapi kali ini dia tidak lagi bekerja untuk Rossi. Klub ibu kota menunjuk top skorer sepanjang masanya, Angel Labruna, sebagai nakhoda.

Bersama Roberto Perfumo, Reinaldo Merlo, dan Ubaldo Fillol, Passarella membuar River Plate disegani di Argentina. Mereka sukses membawa klubnya juara untuk pertama kali setelah 18 tahun puasa gelar.

Sukses besar bersama River membuat Daniel Passarella kian diandalkan timnas Argentina. Lebih membanggakan lagi, pelatih Cesar Luis Menotti menunjuknya sebagai kapten tim pada Piala Dunia 1978.

Getty Images

Memang, sepanjang turnamen yang diselenggarakan di negaranya sendiri, Passarella hanya mencetak satu gol. Tapi perannya sebagai bek benar-benar membuat tim lawan sulit menembus pertahanan Albiceleste.

Argentina keluar sebagai juara dunia setelah mempecundangi Belanda 3-1 di final. Dan Daniel Passarella menjadi kapten pertama yang mampu mengangkat trofi prestisius itu untuk negaranya. Sejak kesuksesan tersebut ia mendapat julukan baru, yaitu El Gran Capitan.

Capaian luar biasanya itu membuat pemain berpostur 170 cm laris manis di bursa transfer. Dan dari sekian banyak klub, pinangan Fiorentina pada 1982 silamlah yang diterima. Empat tahun di Firenze bersama legenda Brasil, Socrates, sang kapten pindah ke Inter Milan dan bertahan selama dua musim.

Setelah itu Passarella mendengar kata hatinya untuk pulang ke River Plate dan mengakhiri karier di sana. Lebih dari 10 tahun berkarier di sepak bola ia telah mencatatkan 451 pertandingan. Dan hebatnya, 134 gol mampu diciptakan hingga menjadikannya sebagai bek tersubur di dunia.

Saling Benci Diego Maradona dan Daniel Passarella

Banyak pihak yang percaya jika Daniel Passarella akan menjabat ban kapten Argentina dalam waktu yang lama. Namun, ketika Cesar Luis Menotti mengundurkan diri sebagai pelatih, semuanya berubah untuk sang bek.

Pelatih pengganti Carlos Bilardo membawa visi baru dalam tim. Dia ingin menjadikan Diego Maradona simbol baru di tim. Dan tentu saja ini menandakan ban kapten pindah ke bintang Boca Juniors.

Semua orang tahu bagaimana sifat Diego Maradona. Dia sosok tempramental . Tapi untuk urusan di lapangan, dia tahu segalanya. Di sisi lain, Passarella adalah panutan dan pemimpin tim.

Infobae

Perbedaan karakter ini pula yang membuat hubungan keduanya merenggang setelah Bilardo memutuskan El Diego sebagai kapten yang baru. Passarella tidak nyaman dengan situasi ini, terlebih dirinya mulai tidak dihargai oleh bintang yang notabene lebih muda darinya.

Perseteruan dua sosok penting membuat timnas terpecah dalam dua kubu. Sebagai sosok panutan, Passarella mendapat dukungan dari pemain berpengalaman lainnya seperti Jorge Valdano dan Ricardo Bochini.

Passarella memanfaatkan momen untuk menjatuhkan Maradona. Dalam sebuah rapat yang dilakukan skuat Argentina, pemain yang pernah mencetak gol dengan tangan itu datang terlambat 15 menit.

Hal tersebut langsung membuat sang mantan kapten naik pitam. Ia menilai Maradona sebagai pemain yang tidak bertanggung jawab dan mempertanyakan kenapa seorang kapten bisa datang terlambat.

Mendapat perlakuan tidak hormat, sang kapten melihat ini sebagai upaya Passarella untuk menjatuhkannya di depan skuat. Apalagi itu bukan satu-satunya kritik pedas kepada bomber andalan Albiceleste.

Diego Maradona kemudian mengungkit masalah pribadi Passarella. Ia pernah menuduh mantan kaptennya itu sering bepergian ke Monako untuk berkencan dengan istri salah satu rekannya di tim nasional.

Mantan pemain Barcelona juga mengklaim bahwa pemilik 70 caps bersama Albiceleste tidak membayar tagihan telepon sebesar 2 ribu Peso. Perseteruan dua talenta besar ini terus belanjut hingga mereka pensiun.

Sampai sekarang hubungan mereka tak pernah benar-benar baik kendati tidak berseteru seperti dulu.

Coret Batistuta dan Redondo karena Gondrong

Daniel Passarella tak butuh waktu lama untuk menjadi pelatih. Setahun setelah menyatakan pensiun, ia kembali dipanggil River Plate. Kali ini klub memintanya sebagai pelatih untuk menggantikan Reinaldo Merlo yang mengundurkan diri.

Walau kurang pengalaman, dia mampu melatih tim dengan gaya kepemimpinan yang khas. Dan bersamanya pula River mengawali era kesuksesan baru. Capaiannya itu kemudian membuat Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) menunjuknya sebagai pelatih kepala pada 1994.

Marca

Dan di sini lah Passarella menerapkan peraturan-peraturan aneh. Dia tidak sudi melihat pemainnya memakai anting di telinga dan berambut gondrong. Sialnya, para pemain terbaik mereka lah yang menjadi korban.

Fernando Redondo dan Gabriel Batistuta dicoret karena berambut gondrong. Pun dengan Claudio Caniggia yang juga gondrong dan memakai anting. Sejatinya, pria yang kini berusia 67 tahun tetap membuka pintu kembali untuk para pemainnya itu. Asalkan mereka bersedia memotong rambutnya.

Butuh waktu 10 bulan untuk Batistuta memotong pendek rambutnya demi berseragam Albiceleste lagi. Tapi Redondo dan Caniggia tetap bergeming. Mereka bersikukuh takkan memotong pendek rambutnya dan takkan kembali ke tim nasional jika masih Daniel Passarella pelatihnya.

Walau menerapkan peraturan tak masuk akal, Passarella mampu bertahan selama lima tahun sebagai pelatih Argentina. Kendati tidak mampu meraih satu pun gelar, ia tetap dianggap sebagai pelatih berkarakter.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More