Dari Tukang Cuci Piring, Van Dijk Jadi Pemain Terbaik Liga Inggris

Football5star.com, Indonesia – Jalan hidup seseorang memang tak pernah ada yang bisa menebak. Siapa yang mengira tukang cuci piring di sebuah restoran kecil, 10 tahun kemudian bakal menjadi pemain terbaik di salah satu kompetisi sepak bola terbaik di dunia, Liga Inggris.

Hal itulah yang dialami kandidat terkuat gelar PFA Award musim ini, Virgil van Dijk. Pada 2008 lalu, saat usianya masih 17 tahun, ia sempat menjalani profesi sebagai tukang cuci piring di restoran Oncle Jean yang berlokasi tak jauh tempat tinggalnya, Breda, Belanda.

Bekerja sebagai tukang cuci piring memang mau tak mau harus dikerjakan van Dijk saat itu. Ia butuh biaya lebih untuk bisa terus berlatih di akademi Willem II.

Tiap harinya setelah berlatih di akademi Willem II, ia harus menempuh perjalanan 30 menit gunakan kereta api untuk sampai ke Breda. Tiba di stasiun kereta api Breda, van Dijk melanjutkan perjalanan gunakan sepeda selama 15 menit ke restoran Oncle Jean.

Untuk tiap peluh yang ia teteskan ketika mencuci piring, membersihkan kamar mandi, dan dapur, van Dijk mendapat bayaran 4 euro per jam. Kadang ia menambah tambahan beberapa sen sebagai tip.

Kisah van Dijk ini sudah sering diceritakan oleh sang pemilik restoran. Begitu banyak orang yang terinspirasi dari perjalanan hidup bek yang saat di transfer Liverpool dari Southampton menghabiskan biaya sebesar 75 juta poundsterling.

Salah satunya ialah pemain muda bernama Abubakar Abdulle. Striker tim amatir di Zevenbergen, Belanda ini sekarang juga tengah menjalani peran yang sama seperti van Dijk dulu.

Ia menjadi tukang cuci piring di restoran Oncle Jean dan fokus berlatih di tim U-17. Abdulle sangat berharap, hal sama seperti van Dijk kelak ia alami di perjalanan karier sepak bolanya.

Virgil van Dijk (kiri) saat berlatih di WDS 19. (telegraph.co.uk)

Tersisihkan di Willem II

Kembali ke awal perjalanan karier van Dijk. Saat masih membela Willem II, ia sempat merasakan rasa kecewa yang teramat besar dikarenakan karier sepak bolanya terombang-ambing tak jelas.

Saat ia masuk ke skuat Willem II U-19, ia tak pernah satu kali pun dimainkan. Eks manajer Willem II, Fons Groenendijk, mengatakan saat itu situasi van Dijk memang pelik.

“Saat saya datang ke sana (Willem II), Virgil memang masuk skuat U-19 padahal usianya baru 17 tahun. Jujur saya memang tak siapa dia, apa kehebatannya. Namun situasi klub saat itu sedang tak baik,” kata eks gelandang Manchester City tersebut.

“Jujur saya memang banyak mendapat cerita soal kehebatannya. Tapi saya tidak pernah melihatnya berlatih dengan tim utama.” tambah Groenendijk.

Beruntung ada pemandu bakat, Henk Weldmate. Weldmate yang pernah bekerja di AFC Ajax ini, sangat yakin dengan skill dan kemampuan van Dijk.

Weldmate pun memboyong van Dijk ke Groningen. Menariknya, Willem II kembali mengulang kebodohan saat melepas pemainnya, Frenkie De Jong pada 2015 silam.

Sempat bermain di Glasgow Celtic, van Dijk menjelma jadi bek terbaik Liga Inggris saat membela Southampton. Liverpool pun tak rugi keluarkan uang banyak, hal itu ditebus van Dijk dengan penampilan brilian musim ini.

Comments
Loading...