Demetrio Albertini: Metronom Alami Simbol Kedigdayaan AC Milan

Football5star.com, Indonesia – Kariernya tidak selalu mulus, terutama bersama timnas Italia. Tapi cukup sering pula dia menuai sukses, apalagi selama berseragam AC Milan. Ya, dia adalah Demetrio Albertini.

Italia, sejak dulu kala, memang selalu melahirkan pesepak bola terbaik tiap tahunnya. Tidak peduli bagaimana prestasi negara atau klub-klub di sana, ada saja pemain bintang yang muncul dan melegenda.

Satu nama yang masuk dalam daftar tersebut adalah Demetrio Albertini. Peran vitalnya sering diabaikan banyak orang. Tapi pengaruhnya di lapangan benar-benar nyata dirasakan kawan maupun lawan.

Albertini adalah legenda AC Milan. Dia lahir dan besar di kota Milan. Dia mengawali karier sepak bola sejak berusia 11 tahun. Pada 1987 ia menjadi bagian dari Milan Primavera, dan dari sana lah bakat luar biasanya tercium oleh pelatih legendaris Italia, Arrigo Sacchi.

Gazeta Panorama

Setahun berselang Arrigo Sacchi meminta sang gelandang untuk bergabung dengan tim utama I Rossoneri.  Memang, tahun pertama tidak berlangsung mulus karena dia hanya sekali dimainkan. Itu pun sebagai pemain pengganti saat klubnya menang 4-1 atas Como.

Kendati begitu, Albertini tidak berkecil hati. Sadar dengan kapasitasnya sebagai pemain muda, ia tetap menikmati kesempatan langka, kesempatan yang tidak semua pemuda 17 tahun bisa mendapatkannya.

Saudara Albertini, Alessio, tahu betul bahwa sang wonderkid tengah berbunga-bunga ketika itu. Bukan cuma soal bermain atau dipanggil ke tim utama, tapi karena dia bisa bersanding dengan Franco Baresi, idolanya.

“Sabtu malam, saya mendapat telepon di Paroki, itu adalah Demetrio. Dengan suara kecil, sedikit malu-malu, dia bilang pada saya ‘Ale, saya di Napoli, coba tebak dengan siapa saya di ruang ganti? Franco Baresi’. Itu adalah pertama kalinya dia duduk di bangku cadangan pertandingan Serie A,” kenang Alessio seperti dilansir Beyond the Last Man.

Semusim kemudian, pemain yang baru berusia 17 tahun itu meninggalkan kota kelahiran. Ia merapat ke Padova di Serie B sebagai pemain pinjaman.

Dan ketika kembali lagi ke San Siro musim 1991-1992, petualangan penuh kesuksesan Demetrio Albertini dimulai. Di bawah kendali Fabio Capello, ia jadi nyawa permainan I Diavolo Rosso.

Sang Metronom dan Pengaruh Franco Baresi

Jika ada pemain yang paling tenang selama 90 menit di lapangan, Albertini lah salah satunya. Ketenangannya dalam menguasai bola tidak tertandingi oleh siapa pun.

Tak heran jika sang gelandang dijuluki Il Metronomo. Selama era Fabio Capello, dia adalah motor permainan. Bersama Marcel Desailly ada kalanya dia mengatur semuanya.

Dia adalah jembatan permainan dalam formasi 4-3-1-2 atau 4-1-4-1 ala Fabio Capello. Dari sentral permainan, dia menghubungkan lini belakang dengan lini depan.

Tapi disaat yang bersamaan, Albertini tidak sungkan bermain lebih ke depan. Berada tepat di belakang duet penyerang, Dejan savicevic dan Daniele Massaro untuk membantu serangan.

Kelebihan inilah yang membuat pemain lain di sekitarnya seperti Zvonimir Boban, Roberto Donadoni, atau Marcel Desailly nyaman mengeksploitasi sisi lainnya.

Menjalani musim pertama sebagai pemain inti Milan, Albertini langsung mempersembahkan gelar scudetto. Lebih hebat lagi, gelar tersebut mereka raih tanpa sekali pun tersentuh kekalahan sepanjang musim.

Seiring dengan kesukesan yang didapat, sang gelandang mulai menunjukkan kedewasaan yang jauh melampaui usianya. Dia bermain penuh keanggunan di lini tengah. Seakan tugas rumit seorang gelandang tampak lebih mudah jika dia yang melakukan.

beyondthelastman.com

Di sisi lain, pria yang pernah berseragam Atletico Madrid juga terus belajar dari para seniornya di Milan seperti Frank Rijkaard maupun Carlo Ancelotti.  “Ketika saya masih pemain muda saya melihat apa yang dilakukan Ancelotti dan Rijkaard, lalu saya mencoba meniru mereka di pertandingan,” ungkapnya.

Pada akhir musim 1991-1992, ketika dirinya masih melihat pemain lain sebagai patokan, kapten I Rossoneri, Franco Baresi, justru menyebutnya sebagai sosok penting dalam keberhasilan klub memenangkan scudetto.

Dengan tegas Baresi menyebut jika Albertini lah yang punya peran vital dalam permainan. Bahkan menurutnya, justru Ancelotti yang memberikan ruang untuknya bergerak di lapangan.

“Di akhir musim, Franco Baresi menghampiri dan berkata pada saya ‘jangan sampai terlintas di benakmu Carletto lah yang bersedia memberikan ruang untukmu’. Kamu telah memberikan kontribusi yang luar biasa untuk scudetto ini,” kenang Albertini.

Puncak kegemilangan Albertini bisa dibilang terjadi pada musim 1993-1994. Musim tersebut dia membawa AC Milan hat-trick scudetto dan lolos ke final Liga Champions untuk kedua kalinya secara beruntun.

Setelah musim sebelumnya kalah dari Marseille di final, I Diavolo Rosso tidak mau mengulang cerita serupa. Tanpa mencetak gol atau assist, Albertini adalah sosok sentral dalam skema menyerang dan menjaga stabilitas pertahanan tim.

uefa

Hasil akhir, AC Milan diluar dugaan menang 4-0 atas Barcelona yang ketika itu lebih diunggulkan. Hasil mencolok ini lantas membuat pelatih Barca, Johan Cruyff, terperangah.

Dia tidak mengerti apa yang terjadi di lapangan. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan performa Ronald Koeman dkk.

“Hasil yang mengecewakan. Tapi ini terjadi bukan karena kami bermain buruk. Tapi kami seperti tidak bermain sama sekali selama 90 menit,” kata Johan Cruyff seperti dikutip Football5star dari Beyond the Last Man.

Antiklimaks Bersama Tim Nasional

Demetrio diberi debut di AC Milan oleh Arrigo Sacchi pada 1988. Tiga tahun kemudian, pelatih legendaris itu kembali memberinya debut, kali ini bersama timnas Italia.

Kebersamaan Albertini dan Sacchi yang sempat terpisah kembali berlanjut sampai Piala Dunia 1994. Ketika itu, Italia dipenuhi pemain-pemain top semisal Paolo Maldini, Franco Baresi, Roberto Baggio, hingga Gianluca Pagliuca.

Akan tetapi tetap saja yang menjadi titik tumpu permainan ada pada Demetrio Albertini. Walau begitu, perjalanan Gli Azzurri di Amerika Serikat tidak terlalu mulus.

Mereka hanya finis di peringkat ketiga fase grup dan lolos sebagai salah satu tim peringkat tiga tebaik. Pada akhirnya, Italia mampu menembus final usai mengalahkan Nigeria, Spanyol, dan Bulgaria.

Mengejar titel Piala Dunia keempat, Italia sudah ditunggu Brasil di Pasadena. Namun, partai puncak berakhir antiklimaks. Tidak ada gol yang tercipta sepanjang laga hingga pemenang harus ditentukan adu penalti.

Albertini memang mencetak gol pada adu penalti. Tapi Italia harus tertunduk lesu setelah eksekusi terakhir Roberto Baggio melayang ke udara.

demetrioalbertini.it

Gagal di Amerika Serikat rupanya mengawali kegagalan lain sang metronom bersama tim nasional. Piala Dunia 1998 menjadi cerita lain perjalanan kariernya.

Italia juga gagal juara. Kali ini laju mereka tertahan di perempat final dari tuan rumah Prancis. Cerita pun nyaris serupa dengan final 1994. Mereka digagalkan adu penalti. Bedanya di Prancis, Albertini lah yang gagal sebagai eksekutor.

Euro 2000 jadi penutup karier di tim nasional untuk pria yang kini berusia 49 tahun. Italia kembali gagal juara. Tim yang saat itu diasuh Dino Zoff kalah menyakitkan dari Prancis di partai final lewat gol David Trezeguet pada masa perpanjangan waktu.

Kekalahan pada turnamen terakhirnya tidak mampu membuat Albertini tersenyum kala namanya masuk dalam best XI Euro 2000. Tidak lama setelah kiprahnya bersama timnas berakhir, dia juga mulai kehilangan tempat di AC Milan.

Ketenangan bermainnya yang kian tergerus usia membuat I Rossoneri berpaling ke metronom yang lebih segar, Andrea Pirlo. Dia pun mulai bergonta-ganti klub. Mulai dari Atletico Madrid, Lazio, Atalanta, hingga Barcelona.

Uniknya, Albertini tidak pernah bertahan lebih dari setahun di empat klub tersebut. Puncaknya, pria kelahiran 23 Agustus 1971 memutuskan gantung sepatu 2005 silam.

Walau sudah pensiun, warisan Demetrio Albertini masih abadi sampai sekarang. Dan pada 2018 lalu namanya masuk dalam The Dream Team Serie A versi The Gentleman Ultra.

“Dia bermain di depan Tassotti, Costacurta, Baresi, dan Maldini. Itu salah satu lini belakang sepak bola terbaik dunia yang pernah ada. Tapi perannya sebagai penjaga blokade mereka sering diabaikan karena sikapnya yang pendiam dan kurangnya ego,” tulis The Gentleman Ultra.

AC MilanDemetrio AlbertiniItaliaLegenda