Editorial: Kebanggaan Orang Italia Mulai Tergerus


Penulis: Irawan Dwi Ismunanto (Editor in Chief Football5star.com)

Sudah bertahun-tahun sepak bola Italia belum bisa keluar dari kegelapan. Serie-A yang dulu pernah menjadi liga terbesar di dunia, kini merosot. Pamor dan kualitasnya jauh lebih buruk dibanding pada masa kejayaan sekitar era 1990-an hingga 2000-an. Dengan kata lain, sepak bola Italia masih dalam keterpurukan.

Beberapa tahun belakangan, pendapatan yang diperoleh klub-klub Italia sangat kecil. Kebanyakan malah tidak sanggup mendulang profit. Kerugian menjadi hal yang lumrah. Situasi yang sebenarnya bukan hal baru. Ketika Serie-A masih jaya, kerugian sudah dialami. Penyebabnya ialah perlombaan memburu pemain dan pelatih terbaik demi prestasi.

Meski begitu, tak sedikit orang Italia yang bertahan sebagai pemilik klub meski rutin mengalami kerugian. Padahal, mereka sadar ada konsekuensi besar yang mesti ditanggung. Mereka dituntut oleh para penggemar untuk mengerluarkan dana besar agar timnya bisa menggaet pemain atau pelatih berkualitas.

Tengok saja pengalaman eks pemilik Internazionale Milan, Massimo Moratti. Ketika ditanya alasannya terjun ke sepak bola, Moratti mengatakan, “Saya tergerak oleh gairah, ini satu-satunya alasan Anda terjun ke sepak bola. Jika ingin mencari uang, lebih baik hindari dunia ini. Sebaliknya, bagi yang mau rugi atau kehilangan uang, masuklah ke sini.”

Sepak Bola adalah Harga Diri Orang Italia
Editorial, Kebanggaan Orang Italia Mulai Tergerus di Sepak Bola Italia - Silvio Berlusconi AC Milan - Zimbio
Zimbio.com

Kerugian finansial memang sangat sering dialami oleh pemilik klub sepak bola Italia. Namun, itu tidak membuat para pemilik klub kapok. Ada imbal balik nonfinansial yang membuat mereka mau bertahan, yakni popularitas. Reputasi seseorang langsung terdongkrak begitu memiliki klub.

Popularitas itu yang pada akhirnya dimanfaatkan beberapa orang untuk meraup keuntungan di bidang lain, termasuk di dunia politik. Silvio Berlusconi menjadi contoh nyata. Dia bisa menjadi perdana menteri Italia dalam tiga kali periode sesudah memiliki AC Milan. Tak heran, meski harus kedodoran dalam segi finansial, orang Italia banyak yang masih rela memiliki klub sepak bola.

Namun, semua berubah ketika krisis ekonomi menyerang Eropa dan beberapa negara dunia sejak 2008. Beberapa pemilik klub mulai membuka mata. Popularitas dan harga diri tak lagi menjadi prioritas. Mengutamakan logika membuat orang-orang seperti Massimo Moratti atau Silvio Berlusconi mulai ikhlas melepas klub yang dicintainya.

Bahkan, sistem patronasi yang sudah mengakar dan menjadi kebanggaan di sepak bola Italia pun mulai tergerus. Invasi para pengusaha asing tak bisa dihindari. Keterpurukan yang berlarut membuat klub-klub Italia membuka pintu untuk investor dari luar negeri. Selain Juventus yang masih bertahan dengan kekuatan bisnis orang Italia melalui dinasti Agnelli, klub-klub lain perlahan mulai dikuasai oleh orang asing.

Terbaru adalah Fiorentina, yang baru saja diakuisisi pengusaha Amerika Serikat berdarah Italia, Rocco Commisso. Seperti kebanyakan orang asing yang baru memiliki klub Italia, Commisso pun mengumbar janji akan mengembalikan kejayaan Fiorentina. “Saya menjamin kalau saya akan memberikan segalanya di sini. Bukan hanya uang,” tutur Rocco Commisso di laman Football Italia.

Kini, kebanggaan orang Italia dengan memiliki sebuah klub sepak bola memang mulai tergerus seiring derasnya invasi pengusaha asing. Namun, hal itu diyakini perlu ditempuh guna mengembalikan khitah Serie A sebagai kompetisi terbaik di dunia.



Comments
Loading...