Perang Apparel di Liga-Liga Top Eropa

Banner Footbal Live Star-Football5star

Football5star.com, Indonesia – Nike dan adidas boleh saja mendominasi merek sepatu yang digunakan para pemain top dunia. Keduanya pun menjadi penyuplai jersey untuk sederet klub elite Eropa. Namun, dalam hal kuantitas, Nike dan adidas harus menghadapi persaingan terbuka dengan beberapa apparel lain.

Di pentas Premier League, adidas patut bersyukur dengan promosinya Fulham dan Cardiff City pada musim 2018-19. Dengan kehadiran kedua tim, apparel asal Jerman itu kini mendominasi suplai jersey di kompetisi kasta teratas Liga Inggris itu.

Total ada 6 klub yang memakai jersey keluaran adidas pada musim ini. Selain itu, keputusan Leicester City dan Wolverhampton berpaling dari PUMA juga turut mendongkrak kuantitas adidas di Premier League.

Di bawah adidas, Nike muncul bukan sebagai pesaing tunggal. Nike yang menyuplai jersey empat klub: Chelsea, Brigton & Hove Albion, Tottenham Hotspur, dan Manchester City, harus berbagi posisi dengan PUMA dan produk lokal Umbro.

Musim ini, PUMA mensponsori Arsenal, Newcastle United, Burnley, dan Crystal Palace. Nama terakhir baru saja berganti sponsor dari Macron ke PUMA. Sementara, Umbro hadir di jersey Bournemouth, Everton, West Ham United, dan Huddersfield Town. Serupa dengan Palace, Huddersfield pun baru saja bergabung dengan keluarga Umbro usai memutus kerja sama dengan PUMA.

Perubahan apparel di Premier League 2018-19:
Leicester City: PUMA ke adidas
Wolverhampton: PUMA ke adidas
Crystal Palace: Macron ke PUMA
Huddersfield Town: PUMA ke Umbro
Apparel-Inggris-Football5star-Planetafobal
Planetafobal.com

Di Spanyol, kearifan lokal begitu kental dengan dominasi Kelme sebagai penyuplai jersey empat klub Divisi Primera La Liga. Jumlah itu menjadi yang terbanyak, melebihi Nike serta adidas yang mensponsori masing-masing tiga klub.

Dominasi Kelme terbantu dengan promosinya Rayo Vallecano dan SD Huesca pada musim ini. Selain keduanya, ada pula Deportivo Alves dan Espanyol yang setia menggunakan apparel berlogo telapak kaki tersebut.

Jumlah klub yang disuplai adidas dan Nike memang tak lebih banyak dari Kelme. Namun secara kualitas, keduanya bisa dibilang unggul. Adidas mengedepankan Real Madrid sebagai jualan utama, diikuti Valencia dan Celta Vigo. Sementara, Nike bisa mengusung dada dengan keberadaan Barcelona, Atletico Madrid, dan Sevilla.

Kentalnya kearifan lokal di Divisi Primera La Liga tak cuma berkat dominasi Kelme. Kehadiran Joma sebagai sponsor Villarreal, Leganes, dan Getafe, juga kian mendongkrak kebanggaan apparel asal Spanyol.

Sementara, di bawah empat apparel yang telah disebutkan di atas, ada beberapa merek lain yang coba bersaing. Sebut saja Macron (Real Sociedad dan Levante), Hummel (Real Valladolid), PUMA (Eibar), Umbro (Girona), New Balance (Athletic Bilbao), dan Kappa (Real Betis).

Perubahan apparel di Divisi Primera La Liga 2018-19:
Real Betis: adidas ke Kappa
Sevilla: New Balance ke Nike
Espanyol: Joma ke Kelme
Huesca: Bemiser ke Kelme
Real Sociedad: adidas ke Macron
Apparel-Spanyol-Football5star-Planetafobal
Planetafobal.com

Serupa dengan Spanyol, Serie A Italia juga mengedepankan kearifan lokal dalam suplai jersey klub-klub peserta. Di sini pula Macron mendapat panggungnya. Perusahaan penyedia perlengkapan olahraga yang berdiri sejak 1971 itu menyuplai jersey lima klub Serie A: Lazio, SPAL, Udinese, Bologna, dan Cagliari.

Di Serie A, produk lokal bahkan bisa sangat dominan, melebihi Spanyol. Tengok saja Torino, Sassuolo, Napoli, dan Empoli, yang memilih Kappa sebagai sponsor apparel-nya. Kappa sekaligus menyaingi macron sebagai penyuplai jersey terbanyak kedua di Serie A.

Tak cuma dua merek itu, Parma pun kembali ke kasta teratas kompetisi sepak bola Italia dengan mengusung produk apparel yang berdiri pada 1988, Errea. Lalu, ada pula Lotto bersama Genoa, Givova yang menyuplai Chievo Verona, serta Zeus bersama Frosinone. Total, ada 13 klub yang memilih memakai produk lokal sebagai penyuplai jersey mereka.

Bagamaina dengan Nike dan adidas? Dua klub raksasa, Inter Milan dan AS Roma, masih menjadi jualan utama Nike di pentas Serie A. Sementara, keputusan AC Milan berpaling ke PUMA membuat adidas tinggal menyisakan Juventus sebagai tim yang disokongnya.

Perubahan apparel di Serie A 2018-19:
AC Milan: adidas ke PUMA
Udinese: HS Football ke Macron
Empoli: Joma ke Kappa
Frosinone: Legea ke Zeus
Apparel-Italia-Football5star-Planetafobal
Planetafobal.com

Hal menarik lain hadir di Bundesliga 1. PUMA dan adidas sebagai produk lokal kebanggaan Jerman, malah kalah telak dalam segi kuantitas dibanding pesaing utama asal Amerika Serikat, Nike. Musim ini, Nike menjadi penyuplai terbanyak di Bundesliga 1 dengan total lima klub: RB Leipzig, Augsburg, Hertha Berlin, Wolfsburg, dan Eintracht Frankfurt.

Adidas, sebagai produk apparel paling kenamaan di Jerman, justru cuma menyokong satu klub, yakni sang juara bertahan, Bayern Munich. Adidas kalah kuantitas ketimbang mantan anak perusahaannya, PUMA, yang mensponsori tiga klub, Borussia Dortmund, Borussia Moenchengladbach, dan VfB Stuttgart.

Meski begitu, tentunya nilai jual adidas lebih tinggi dengan status Bayern sebagai penguasa Bundesliga 1. Bahkan, Jako dan Lotto, yang masing-masing menyuplai dua klub, pun hanya unggul kuantitas dari adidas. Begitu pula produk Inggris, Umbro, yang memiliki Werder Bremen, FC Nuernberg, dan Schalke 04.

Perubahan apparel di Bundesliga 1 2018-19:
Werder Bremen: Nike ke Umbro
Schalke 04: Adidas ke Umbro
Borussia Moenchengladbach: Kappa ke PUMA
Apparel-Jerman-Football5star-Planetafobal
Planetafobal.com

Adidas dan pesaing utamanya, Nike, memang cukup selektif dalam mensponsori klub-klub sepak bola. Logo mereka sebagian besar hanya terpampang di jersey klub-klub berlabel juara bertahan atau penguasa liga. “Setiap kerja sama dengan klub atau suatu federasi harus saling menguntungkan,” bunyi pernyataan Nike saat menjalin kerja sama dengan salah satu klub raksasa Inggris beberapa tahun lalu.

Comments
Loading...