Enzo Francescoli: Legenda Sederhana yang Bikin Zidane Terpana

Football5star.com, Indonesia – Uruguay, sebuah negara yang cukup makmur di Amerika Selatan pernah merajai sepak bola dunia. Untuk urusan trofi, mereka memang kalah dari Argentina atau Brasil. Untuk urusan pemain hebat pun, mereka tetap kalah dari dua negara tersebut.

Melihat gelar Piala Dunia, Uruguay harus mengakui keunggulan Brasil yang sudah menang lima kali, atau Argentina yang juara tiga kali. Negara beribukotakan Montevideo baru bisa berbangga di kompetisi regional. Ya, mereka memimpin perolehan trofi Copa Amerika dengan 14 piala.

Dari sisi pemain pun, tidak ada pemain Uruguay yang benar-benar dielukan seantero bumi layaknya Pele dan Ronaldo milik Brasil, maupun Diego Maradona serta Lionel Messi kepunyaan Argentina. Namun, bukan berarti Uruguay tidak punya legenda yang jadi panutan di semua zaman.

Sportsmole

Adalah Enzo Francescoli yang namanya abadi sebagai bintang La Celeste. Memang, dia tidak pernah memenangi Piala Dunia, tidak pernah pula dia merengkuh trofi pemain terbaik dunia. Tapi jangan pernah ragukan pengaruhnya untuk dunia sepak bola.

Berbeda dari empat pemain di atas, Enzo Francescoli adalah pemain yang mempertontonkan kesederhanaan. Namun, dari kesederhanaan itulah dia menghadirkan seni dalam permainan.

Francescoli pula yang memodernisasi peran fantasista di dunia sepak bola. Sebagai informasi, fantasista merupakan peran yang diemban pemain untuk mengubah permainan tim dan melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan pemain lain.

Harus pemain-pemain yang punya visi luar biasa, keterampilan mumpuni, dan teknik sempurna untuk menjadi fantasista. Jika Brasil punya Zico, Argentina punya Maradona, dan Kolombia punya Valderrama, maka Uruguay memiliki Enzo Francescoli.

Awal Kekaguman Zidane pada Francescoli

Penulis asal Prancis, Antoine de Saint-Exupery, dalam buku Le Petit Prince menuliskan “Hanya dengan hati orang bisa melihat dengan benar dan apa yang esensial tidak terlihat oleh mata”. Ungkapan ini tercermin jelas dalam gaya permainan Francescoli yang selalu bermain dengan cara yang benar, dengan gaya yang lemah lembut dan penuh keanggunan.

Hanya orang-orang yang mengerti sepak bola yang paham betapa hebatnya Francescoli di lapangan. Hal ini pun diamini remaja imigran Aljazair menetap di pesisir selatan Prancis, Zinedine Zidane. Dia jatuh hati pada pria Uruguay sampai memantapkan diri meneruskan kehebatan sang bintang di lapangan.

FIFA

Kekaguman Zidane bermula dari keputusan Francescoli pindah ke raksasa Prancis, Marseille 1989 silam. Marseille merupakan kota kelahiran pelatih Real Madrid itu. Meihat skill yang dimiliki pemain flamboyan itu pula Zidane remaja tertarik menjadi seorang playmaker.

“Dia adalah pemain favorit saya. Saya sering mencari waktu demi bisa melihatnya latihan. Pertama kali melihatnya bermain, saya ingin jadi seperti dia. Enzo adalah pemain yang paling saya kagumi di Marseille,” kata Zidane seperti dikutip Football5star.com dari These Football Times.

“Setelah masa-masa itu, saya mendapat kehormatan bermain satu lapangan dengannya saat saya memperkuat Juventus. Enzo benar-benar seperti dewa,” sambung legenda Prancis itu. Tidak cukup sampai di situ, Pria yang akrab Zizou itu kemudian mengabadikan nama sang idola pada anak pertamanya, Enzo Zidane.

Setelah habis era Enzo Francescoli, tongkat estafet permainan indah dilanjutkan oleh Zidane. Dan seperti halnya Francescoli pula, Zidane jadi sosok tak tergantikan di Juventus, Real Madrid, sampai timnas Prancis.

Asing Pertama yang Menaklukkan Argentina

Sebelum namanya harum di Eropa, Francescoli lebih dulu menggebrak Argentina. Ia memutuskan pindah dari klub kampung halamannya, Montevideo Wanderers ke River Plate pada 1983 silam. Di sana, kariernya benar-benar melejit sampai diagung-agungkan para penggemar.

Kendati berperan sebagai fantasista, pria yang kini berusia 57 tahun menasbihkan diri sebagai top skorer Liga Argentina sebanyak tiga kali. Predikat itu pertama kali disabet pada 1983-1984 dengan menceploskan 29 gol ke gawang lawan. Gelar yang sama ia ulang pada 1985-1986 dan 1993-1994.

Puncak kejayaannya bersama River Plate tercipta pada  1984-1985. Masih bersama River Plate, ia menyabet penghargaan pemain terbaik. Gelar ini sekaligus menjadikannya pemain non-Argentina pertama yang jadi terbaik di Negeri Tango.

@VarskySports

Bisa dibilang, masa-masa indah Enzo Francescoli memang terjadi di Argentina. Selain gelar individu, ia juga berjasa mengantar klub asal Buenos Aires itu memenangkan lima trofi Liga Argentina dan satu gelar Copa Libertadores.

Walau memberi kebahagiaan dan gelar, siapa sangka jika pemain kelahiran Montevideo itu pernah menolak pinangan River Plate. Cerita bermula dari kegemilangannya di akademi Montevideo Wanderers.

Cara bermainnya mengundang minat pencari bakat River Plate pada 1977. Tawaran datang dan Montevideo tak kuasa menolaknya. Tapi justru Francescoli yang menolak pindah dan bermain di kompetisi yang lebih kompetitif.

Alasannya menolak saat itu pun sangat sederhana. Ia masih ingin menyelesaikan sekolah SMA-nya di Uruguay. “Saat itu saya hanya memikirkan sekolah, bukan yang lain. Jadi tidak ada alasan saya pergi,” ungkap Francescoli seperti dilansir The Guardian.

Kendati demikian, keputusan mantan pemain Torino justru membuktikan kematangan dan kedewasaannya. Di usia yang masih sangat muda, ia tidak egois dengan gelimang ketenaran yang sudah ada di depan mata.

Sempat pergi ke Eropa untuk memperkuat beberapa klub seperti Racing Paris, Marseille, Cagliari, dan Torino, Francescoli akhirnya kembali ke River Plate 1994 silam. Di era keduanya ini ia bertahan sampai empat musim lamanya.

Penghujung karier menjadi bukti sahih betapa agungnya seorang Enzo Francescoli. Stadion El Monumental jadi saksi laga perpisahan pemain berjuluk El Principe itu. Menariknya, laga yang disaksikan 85 ribu pasang mata ini juga dihadiri presiden dua negara, Uruguay dan Argentina. Kedua kepala negara ini datang memberi penghormatan terakhir untuk pemilik 73 caps bersama timnas Uruguay.

Mencintai sepak bola berarti mencintai pemain seperti Francescoli. Seorang sederhana yang mengajarkan kesetiaan dan tahu di mana tempat dia harus pulang. Pemain yang juga perokok berat ini membuat kita rela meninggalkan statistik yang ada demi melihat permainan apa adanya yang ia warisi untuk generasi setelahnya. Tidak percaya? Silakan tanya ke Zinedine Zidane.

Enzo FrancescoliRiver PlateUruguayZinedine Zidane