LEGENDA: Eri Irianto, Keabadian Nomor 19

Football5star.com, Indonesia – Selain kebahagiaan, sepak bola juga menawarkan kesedihan. Sepak bola adalah contoh paripurna mengenai kehidupan. Dalam sepak bola, lazim kita lihat pesepak bola terjatuh, cedera, dan tak jarang harus memutus impian menjadi pesepak bola profesional. Yang paling tidak diharapkan tentu saja adalah sepak bola yang berujung pada kematian. Di sisi inilah Eri Irianto hadir.

Eri Irianto adalah pesepak bola kelahiran Sidoarjo, 12 Januari 1974. Saat masih bermain, ia tak sekalipun membela klub tempat ia berasal. Ia justru lebih dikenang di tiga klub, yang salah satunya di Malaysia. Ia sempat bermain untuk Kuala Lumpur FA pada tahun 1996. Sebelumnya, ia sempat bermain untuk Petrokimia Putra Gresik dan meregang nyawa saat membela Persebaya Surabaya.

Gagal di Petrokimia dan Persebaya

Eri Irianto adalah pesepak bola yang sering menderita kegagalan. Sepanjang karier pesepak bolanya, ia dua kali masuk ke babak final dan keduanya kalah.

Final pertama ia jalani saat bermain untuk Petrokimia Putra Gresik. Saat itu, Petrokimia Putra yang awalnya adalah klub dari Galatama lolos ke babak final Liga Indonesia I. Mereka melaju ke babak final setelah menjadi juara grup wilayah timur. Kesuksesan itu membuat mereka lolos ke babak 8 besar.

Assyabaab Salim Group, Persib Bandung, dan Medan Jaya berada dalam grup yang sama dengan Petrokimia Putra Gresik. Dua kali bermain imbang, 0-0 melawan Persib dan 2-2 melawan Assyabab, pada laga pamungkas, Eri Irianto dan kolega menang dengan skor 3-0.

Kebo Giras, julukan Petrokimia Putra, lolos ke semifinal dengan status runner up grup bersama Persib Bandung. Di semifinal, dua klub yang mendapatkan suntikan dana dari Pupuk, Petrokimia dan Pupuk Kaltim bertemu. Dalam pertandingan yang digelar pada 28 Juli 1995, Petrokimia menang dengan skor 1-0 berkat gol Widodo Cahyono Putro.

Perjalanan Kebo Giras berakhir antiklimaks. Di laga puncak, mereka takluk dengan skor 1-0. Pertandingan ini sendiri diwarnai dengan kontroversi, lantaran ada indikasi permainan pihak ketiga. Dari Aqwam Fiazmi Hanifan & Novan Herfiyana dalam Persib Undercover: Kisah-kisah yang Terlupakan (2014), beredar kisah-kisah kontroversi yang terjadi sebelum pertandingan digelar.

Satu gol dari Sutiono Lamso pada menit ke-76 seakan mengubur harapan dan impian warga Gresik menjadi juara untuk pertama kali.

Pada 1998-99, Eri kembali ke tanah air setelah sempat membela Kuala Lumpur FA. Kepindahannya ke Surabaya dibuka dengan keberhasilan Bajul Ijo lolos ke babak final Liga Indonesia V. Namun, kisah duka yang terjadi pada Liga Indonesia I terulang kembali pada Liga Indonesia V. Persebaya takluk dari PSIS Semarang dengan skor 1-0.

Meregang Nyawa

Persebaya Surabaya menjadi klub terakhir Eri Irianto sepanjang kariernya. Mengenakan nomor 19, pada Liga Indonesia VI, Eri mengembuskan napas terakhirnya pada 3 April 2000.

Saat itu, Persebaya Surabaya tengah menjamu tamunya, PSIM Yogyakarta. Eri telah bersiap sejak awal pertandingan dan tidak ada masalah apa pun.

Eri bertabrakan dengan pemain PSIM asal Gabon, Samson Noujine Kinga. Tabrakan inilah yang dituding menjadi awal dari permasalahan yang menimpa Eri. Sesaat sebelum babak pertama usai, kepalanya mulai limbung dan ia meminta kode kepada pelatih dan digantikan oleh Nova Arianto.

Dilansir dari Jawa Pos lewat Tirto, Dokter Tim Persebaya sempat menyebut bahwa kondisi Eri sempat membaik. Namun setelah diberikan minum, kondisinya kembali menurun. Saat kondisinya menurun, dokter tim memutuskan untuk membawanya ke RSUD DR Soetomo. “Kepalanya sempat kami kompres dan dia merasa lebih baik,” ujar dr Herry Siswanto.

Di rumah sakit, Eri Irianto menjalani berbagai pemeriksaan. Dokter yang menanganinya menyebut kondisi Eri dan suhu tubuhnya normal, namun saat itu ia merasa badannya panas. Empat jam diperiksa, sang pemilik tendangan geledek ini meregang nyawa.

Eri Irianto meninggalkan Riska Putri Nilamsari, sang istri yang baru dua pekan ia ikat dalam sebuah pernikahan. Tak ayal, insiden ini membuat keluarga kaget. Tak hanya itu, Persebaya dan Bonek pun juga mengalami kesedihan yang serupa.

Mengabadikan Nomor 19 dan Gestur Apik Persebaya Lainnya

Sebagai penghormatan, Persebaya Surabaya, klub terakhir Eri Irianto memutuskan untuk mengabadikan nomor punggung 19. Padahal, secara durasi bermain, Eri hanya bermain kurang lebih dua tahun untuk Bajul Ijo.

Tak hanya itu, pada pertandingan Persebaya vs Madura United dalam lanjutan Piala Presiden 2019, 3 April 2019 yang lalu, diadakan pula penghormatan untuk Eri Irianto. Persebaya memberikan penghormatan atas segala jasa yang diberikan oleh pemain nomor punggung 19 tersebut.

Manajemen Persebaya mengundang keluarga Eri yang saat itu diwakili oleh sang Ibu, Musriatin dan saudara Eri, Nur Rochman. Pihak keluarga tak menyangka pihak klub masih mengingat jasa sang anak.

“Saya berterima kasih kepada Persebaya yang masih perhatian dengan Eri,” kata ibu Eri Irianto, Musriatin dilansir Football5star dari laman resmi Persebaya.

Pada menit ke-19, Bonek melakukan minute of silence. Mereka berhenti bernyanyi demi memberikan waktu untuk mengirimkan doa untuk sang pahlawan.

“Suasana hari ini membuat saya senang dan deg-degan, mengingatkan saya saat saya masih sering ke stadion dulu,” tambah sang Ibu.

Bagi Bejo Sugiantoro, Asisten Pelatih Persebaya, pertandingan saat itu adalah pertandingan yang spesial. Jarang ada pertandingan yang bertepatan dengan tanggal 3 April, atau tanggal saat Eri Irianto mengembuskan napas terakhir.

“Hari ini jelas sangat spesial, jarang-jarang ada pertandingan yang bertepatan dengan hari meninggalnya almarhum, dan alhamdulillah tim bisa menang. Kita persembahkan kemenangan ini untuk tim dan Eri,” ujar Bejo.

Kedekatan Bejo dan Eri memang telah terjalin sejak lama. Pemilihan nama Rachmat Irianto, anak dari Bejo juga tak lepas dari keberadaan Eri. Irianto dalam nama Rachmat Irianto memang didedikasikan khusus untuk sang teman, Eri Irianto.

Sepak bola memang romantis. Meskipun kadang kisahnya tak berakhir dengan manis, namun sepak bola selalu memiliki cara untuk membuah kisah tragis menjadi lebih dramatis. Selamat jalan, Eri Irianto, sang pemilik gelandang geledek.

Comments
Loading...