Fakta Menarik Duel De Topper PSV Eindhoven vs AFC Ajax

Football5star.com, Indonesia – Akhir pekan ini sejumlah big match bakal tersaji di liga top Eropa. Jika di Italia ada Derbi della Madonnina, di Inggris ada laga Chelsea vs Liverpool, maka di Liga Belanda tersaji duel De Topper antara PSV Eindhoven vs AFC Ajax, Sabtu (21/9/2019).

Pertemuan kedua tim ini hadirkan rivalitas sengit yang sangat sayang untuk dilewatkan. Keduanya adalah klub yang saling mengklaim sebagai tim berbaik di Liga Belanda. Ajax memiliki gelar juara 33 Eredivise, sedangkan PSV dengan koleksi 24 gelar juara.

Jika bicara jumlah gelar, Ajax memang lebih unggul dibanding PSV. Tak hanya bicara gelar domestik, di kompetisi Eropa pun Ajax lebih baik dibanding PSV. Prestasi terbaik PSV di kancah Eropa hanyalah 1 gelar Liga Champions dan 1 gelar Piala UEFA.

Meski begitu pertemuan keduanya disebut-sebut sebagai salah satu laga paling panas setelah De Klassiker antara Ajax Amsterdam vs Feyenoord Rotterdam.

Banyak hal menarik seputar De Topper sepanjang sejarahnya perjalannya. Berikut ulasannya untuk pembaca setia Football5star.com

Pemain didikan vs pemain jadi

Ajax dikenal sebagai salah satu klub yang membangun pondasi kesuksesan mereka dengan fokus membina pemain muda. Akademi Ajax sudah dikenal sebagai salah satu akademi sepak bola terbaik di dunia.

Tak terhitung jumlahnya para pemain bintang yang merupakan jebolan dari akademi Ajax. Dari musim ke musim, meski Ajax ditinggal pemain bintangnya, akademi mereka masih mampu lahirkan banyak calon bintang baru.

fin.co.id

Hal berbeda justru terlihat dari PSV. Klub yang disponsori dan dibangun oleh perusahaan elektronik tersebut justru membangun pondasi kejayaan mereka dengan kemampuan para pemain jadi. Sejumlah pemain bintang memang jadi incaran tim yang berdiri sejak 1913 tersebut.

Di era 90 hingga 2000-an, PSV sukses datangkan para pemain bintang ke Philips Stadion. Mulai dari Ronaldo Lima, Ruud Gullit, Jaap Stam, Arjen Robben, bahkan ada nama Park Ji-sung dan Lee Young-pyo yang juga pernah menjadi bagian dari skuat PSV yang menjuarai Eredivisie pada musim 2002/2003 dan 2004/2005.

PSV anti Ajax

Meski laga De Klassiker antara Ajax vs Feyenoord disebut-sebut sebagai laga terpanas di Eredivise, namun PSV merupakan klub yang sebenarnya sangat anti dengan Ajax.

Takkala Ajax mengusung skema Total Football di era 60-an yang diprakarsai oleh Rinus Michels. PSV jadi klub Belanda yang terang-terangan ogah untuk mengikuti skema tersebut. PSV bahkan berusaha semaksimal mungkin munculkan skema tandingan.

couriermail.com.au

Pada 1970-an PSV yang dilatih oleh Kees Rijvers muncul dengan skema yang berbeda. Meski jika ditelaah lebih lanjut skema 4-2-3-1 milik Rijvers tak jauh berbeda dengan skema 4-3-3 total football milik Ajax.

Formasi Rijvers terus dipertahankan oleh PSV cukup lama. Bahkan saat Guus Hiddink melatih klub ini, skema yang sama juga diterapkan oleh mantan pelatih timnas Korea Selatan tersebut.

Meski tak mendunia seperti skema Total Football milik Ajax, setidaknya skema PSV mampu mengantarkan klub ini berjaya di kompetisi lokal. Di era 70-an, PSV dengan skema ini meraih 3 gelar Eredivisie, dua gelar Piala KNVB, dan satu Piala UEFA.

Persaingan suporter

Hampir sama dengan banyak big match di kompetisi Eropa, pertemuan PSV dengan Ajax juga hadirkan rivalitas tak kalah sengit dari barisan suporter. Bagi suporter PSV, laga melawan Ajax akan jadi tempat untuk menyebut diri mereka dengan panggilan boeren alias petani.

Sebutan ini bukan untuk menganggap diri mereka buruk di mata Ajax dan penggemarnya, justru sebagai bentuk perlawanan. Sebutan boeran dimaksudkan sebagai kebanggan suporter PSV atas latar belakang mereka sebagai orang Brabantian.

mirror.co.uk

Sekedar informasi, Brabantian merupakan wilayah di utara Belanda yang berbatasan dengan Belgia. Di zaman dahulu, masyarakat daerah ini berprofesi sebagai seorang petani.

Sedangkan bagi suporter Ajax, rivalitas dengan PSV memang tidak sesengit melawan suporter Feyenoord atau dengan suporter Utrecht. Bahkan jika disuruh memilih, suporter Ajax lebih memilih adu otot dengan suporter ADO Den Haag dibanding dengan PSV.

Meski begitu tetap saja pertandingan keduanya bakal hadirkan tensi tinggi di antara kedua suporter seperti yang terjadi pada April 2017. Saat itu smoke bomb membuat pertandingan terhenti dan 10 suporter ditangkap polisi.

AFC AjaxAjax AmsterdamDe TopperEredivisiePSV Eindhoven