Fandi Ahmad, Jualan Nasi Lemak, Tinta Emas di Indonesia, Disanjung Publik Belanda

Football5Star.com, Indonesia – Nama Fandi Ahmad tampaknya tak asing di telinga pencinta sepak bola tanah air. Ya, dia pernah menjadi bagian dari skuat Niac Mitra yang melegenda, hingga pernah disanjung-sanjung publik Belanda.

Sejak masih bocah, Fandi muda memang sangat terobsesi dengan sepak bola. Keluarganya berasal dari ekonomi yang biasa-biasa saja. Fandi harus menjual nasi lemak untuk membantu menyambung hidup. Perkenalan Fandi dengan sepak bola berasal dari sang ayah, Ahmad Wartam, yang sempat menjadi kiper Timnas Singapura.

Fase terberat dialami oleh Fandi Ahmad saat berusia 12 tahun. Orangtuanya bercerai, kemudian dia tinggal bersama ayah dan kakek-neneknya. Namun, kegigihan, kerja kerasnya berbuah hasil hingga kini menjadi legenda negaranya.

Fandi Ahmad memulai karier sepak bolanya di Singapura FA pada 1979. Sempat jadi gelandang, pelati baru Singapura FA, Jita Singh mengubahnya jadi striker. Saat mentas di Piala Malaysia 1980, Fandi mencetak delapan gol, termasuk gol kemenangan tm atas Selangor FA di partai puncak. Dia kemudian mendapatkan penghargaan FAS Footballer of the Year.

Namun demikian, tahun berikutnya Singapura FA tak lagi main di Piala Malaysia karena alasan politik. Selangor FA kemudian mengundangnya dan menjajaln dia saa melawan Boca Juniors yang diperkuat Diego Maradona. Tak disangka, dia sukses mencetak gol tunggal Selangor saat timnya kalah 1-2 dari Boca Juniors.

Fandi Ahmad, Jualan Nasi Lemak, Tinta Emas di Indonesia, Disanjung Publik Belanda
Dok. BOLA

Fandi kemudian menerima tawaran dari beberapa tim Malaysia, klub Indonesia Niac Mitra, klub Swiss Young Boys dan klub Belanda Ajax. Bahkan Ajax sudah menyodorkan kontrak tiga tahun kepadanya. Namun, Fandi malah bergabung dengan Niac Mitra.

Tinta Emas di Indonesia dan Disanjung di Belanda

Nah di sini lah awal mula kecermelangannya. Selama membela Niac Mitra, Fandi Ahmad mempersembahkan gelar Liga Galatama plus top skorer dengan 13 golnya.

Bahkan, dalam pertandingan persahabatan antara Niac Mitra dan Arsenal, Fandi mencetak gol dalam kemenangan 2-0. Namun, dia meninggalkan Niac Mitra karena larangan penggunaan pemain asing di Galatama.

1983 Fandi pindah ke Belanda dan menandatangani kontrak dua tahun dengan FC Groningen. Dia sempat absen selama sepuluh pekan karena cedera. Namun, ayah dari Irfan Fandi langsung memukau dalam debutnya di Eredivisie. Dia mencetak dua gol dalam kemenangan 2-0 atas Go Ahead Eagles.

Fandi Ahmad, Jualan Nasi Lemak, Tinta Emas di Indonesia, Disanjung Publik Belanda
dvhn.nl

Tiga hari kemudian, Fandi Ahmad bermain di leg pertama pertandingan putaran kedua Piala UEFA melawan Inter Mulan, dan mencetak gol kedua dalam kemenangan 2-0. Sayang, langkah Groningen terhenti karena kalah 1-5 di leg kedua.

Para pendukung Groningen memilih Fandi sebagai pemain paling populer dan terbaik saat itu. Hal itu setelah dia mencetak 10 gol dalam 29 pertandingan.

Setelah bertahan hingga 1985, Fandi kemudian berganti beberapa klub. Mulai di Kuala Lumpur FA, OFI Crete, Singapura FA, Geylang United, dan mengakhiri karier pemainnya di Singapore Armed Forces.

Jadi Pemain Asia Terbaik di Eredivisie

Seminggu setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-58 pada 29 Mei kemarin, Fandi Ahmad mendapat hadiah tak terduga. AFC mendaftarkan legenda Singapura itu sebagai salah satu dari sembilan pemain top dari Asia yang menghiasi yang istimewa di Belanda.

Dia disandingkan dengan beberapa nama terkenal seperti Park Ji Sung, Lee Young Pyo dan Huh Jung Moo dari Korea Selatan (semuanya PSV Eindhoven) dan Shinji Ono Jepang (Feyenoord). “Karier Fandi di Belanda sangat istimewa. Saat berusia 21 tahun, dia mencetak dua gol dalam debutnya di sana, kemudian mencetak gol melawan Inter. Dia bukan cuma legenda, tapi juga ikon,” tulis AFC.

Fandi Ahmad, Jualan Nasi Lemak, Tinta Emas di Indonesia, Disanjung Publik Belanda
FB Fandi Ahmad

Fandi Ahmad sendiri mengaku terkejut dengan penghargaan tersebut. Dia menyebut kalau pada masa itu, pemain-pemain bukan cuma dari ASEAN, tapi Asia, dianggap sebelah mata di Eropa.

“Beberapa orang bahkan mengira bahwa Singapura ada di Amerika Selatan. Saya beruntung dan diberkati bisa mendapatkan kesempatan untuk bermain dan tampil baik di Eredivisie dan Eropa melawan tim berkualitas, tapi saya juga bekerja sangat keras,” ungkap Fandi Ahmad kepada New Straits Times.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More