FEATURE: Jejak Misterius Piala-Piala Masa Kejayaan Persija Jakarta

Football5star.com, Indonesia – Menunggu 17 tahun untuk kembali meraih gelar juara domestik jelas bukan waktu yang sebentar. Namun, itulah yang dilakukan Persija Jakarta. Tim ibu kota kembali menapaki takhta juara pada pengujung 2018. Dahaga yang tertahan sejak menjadi juara Liga Indonesia pada 2001 berakhir sudah.

Jika ditotal dengan pencapaian era Perserikatan, Persija Jakarta kini sudah mengoleksi 11 gelar liga. Terbanyak di antara kontestan-kontestan lain di kasta tertinggi persepakbolaan tanah air. Rinciannya adalah sembilan ketika Perserikatan, satu saat era Liga Indonesia, dan terakhir saat Liga 1.

Kini, muncul pertanyaan besar: ke mana atau disimpan di mana koleksi piala-piala masa lalu Persija Jakarta? Sebagai tim yang mengklaim sebagai peraih gelar terbanyak, mereka butuh bukti otentik bahwa mereka pernah benar-benar meraihnya di masa lalu.

Terusir untuk Kedua Kali
KOLOM: Jejak Misterius Piala-Piala Masa Kejayaan Persija Jakarta - Stadion Ikada dibongkar November 1962 - Aneka 6 Juli 1963
Pembongkaran Stadion Ikada pada November 1962. Stadion ini kemudian menjadi bagian dari kawasan Monumen Nasional. (Aneka, 6 Juli 1963)

Semua berhulu dari salah satu momen terkelam sepanjang sejarah berdirinya klub sejak 1928 silam. Mereka harus kehilangan Lapangan Menteng, rumah yang ditempati sejak 1970-an. Peristiwa itu seolah memengungkit kembali kenangan pahit ketika terusir dari lapangan Ikada pada 1962.

Pada 26 Juli 2006, hari yang tak menyenangkan itu tiba bagi Persija Jakarta. Mereka harus terusir secara paksa dari Stadion Menteng yang selama puluhan tahun menjadi kawah candradimuka bagi banyak pemain nasional. Saat itu pula, banyak benda bersejarah klub yang hilang ketika dan setelah penggusuran terjadi.

“Waktu itu masih pagi, belum banyak orang yang datang ke stadion. Suara-suara gemuruh dari buldoser jelas sekali terdengar. Kebetlan saya ada di dalam kantor waktu itu, dan ketika keluar, kios-kios bagian depan sudah rata,” kata Soepomo salah satu staf administrasi Persija Jakarta era Stadion Menteng.

Hingga kini, Pemprov DKI Jakarta memang belum memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang baku soal penggusuran. Sehingga tidak heran, penggusuran mendadak pun bisa dilakukan, hanya dengan modal mengerahkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso beralasan, penggusuran dilakukan karena sejumlah hal. Mulai dari kondisi stadion yang kurang representatif, maraknya aksi kriminal di sekitar stadion, hingga tidak adanya sertifikat hak milik sebagai bukti Stadion Menteng memang punya Persija Jakarta.

Blunder Sederhana, Berujung Angkat Kaki Paksa
KOLOM: Jejak Misterius Piala-Piala Masa Kejayaan Persija Jakarta - Demo penggusuran Stadion Menteng - forzapersijablogspot

Pemprov DKI Jakarta, di bawah Sutiyoso, melaksanakan pembongkaran berdasarkan landasan hukum surat persetujuan 55 warga Menteng kepada Gubernur pada 11 Juni 2005, Surat Perintah Gubernur DKI No.50/2006 tentang Penertiban Stadion Menteng, dan Undang-Undang No. 80/2005 tentang Tata Kota.

Pembongkaran stadion itu dianggap melanggar sejumlah peraturan, seperti Surat Keputusan Gubernur No D.IV-6098/d/33/1975 yang menetapkan Menteng. Termasuk Stadion Menteng sebagai kawasan yang harus dilindungi, dilestarikan, dan dikembangan hati-hati sebagai lanskap cagar budaya. Undang-undang No.5/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Undang-undang No.3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Perda No.9/1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan Bangunan Benda Cagar Budaya. Serta Instruksi Menteri Dalam Negeri No.14/1988 tentang Penataan Ruang Hijau Perkotaan.

Pertanyaannya, jika memang para pengurus klub tahu mereka tidak memiliki surat bukti kepemilikan stadion, mengapa tidak mengurus sejak lama? Pada saat itu, Persija Jakarta diketuai oleh Todung Barita Lumbanraja, seorang akademisi dari Universitas Indonesia.

Seharusnya, para pengurus punya kesadaran akan pentingnya legalitas. Sebuah blunder sederhana yang berujung hilangnya kandang secara permanen. Pasalnya setelah itu, klub beralias Macan Kemayoran tersebut mendadak menjadi tim musafir karena tidak adanya stadion.

Salah satu pemerhati sejarah Persija Jakarta, Afif Abdillah menceritakan, kejadian pagi itu memang membuat semua kalangan internal kalut. Mulai dari manajemen, hingga kelompok suporter mereka, the Jakmania, sibuk menyelamatkan barang-barang pribadi.

“Bahkan, dari cerita yang gue dapat dari orang-orang lama di dalem tim seperti Pak Supo, Pak Sudi, dan Pak Gani, Jakmania sama sekali tidak berkutik. Sebelum penggusuran, mereka sudah mengemasi barang-barang dan langsung pergi dari Menteng ketika digusur,” kata Afif.

Misi Pencarian Piala Dimulai
KOLOM: Jejak Misterius Piala-Piala Masa Kejayaan Persija Jakarta - Stadion Menteng - Aneka 2 Februari 1963
Stadion Menteng menjadi markas Persija selama puluhan tahun. (Aneka, 2 Februari 1963).

Penggusuran Stadion Menteng menjadi tonggak awal hilangnya identitas Persija Jakarta. Seluruh sendi-sendi kehidupan klub lumpuh seketika. Pembinaan pemain muda, kompetisi internal, dan segala aktivitas lain jadi tercerai berai. Termasuk perkara trofi. Berkali-kali manajemen berusaha mencari keberadaan koleksi yang hilang dari Menteng. Hasilnya, tidak sesuai harapan.

Seperti yang ditulis dalam buku Gue Persija, Ferry Paulus , selaku nakhoba klub, sempat meminta sejumlah orang untuk menyelidiki di mana trofi yang hilang tersebut. Namun, hasil pencarian masih jauh dari harapan.

Kala itu, dua orang penggemar Persija Jakarta, Gerry Anugrah dan Ferdiansyah coba mendatangi sejumlah sumber yang jadi saksi penggusuran Stadion Menteng. Berbekal informasi dari Biner Tobing, mantan sekretaris tim, mereka meluncur menemui Miftah yang diketahui menyimpan sejumlah trofi.

Sembilan trofi Perserikatan termasuk satu trofi Liga Indonesia VII, masih belum jelas keberadaannya. Hanya beberapa trofi hasil dari turnamen invitasi yang pernah diikuti Persija Jakarta sepanjang 1960-an hingga 1970-an.

Saling Lempar Soal Keberadaan Trofi
KOLOM: Jejak Misterius Piala-Piala Masa Kejayaan Persija Jakarta - Djakarta Putera melawan Bintang Timur dalam Kompetisi Persija musim 1962-1963 di Stadion Menteng, Juni 1963. (Aneka, 29 Juni 1963)
Duel antara Djakarta Putera melawan Bintang Timur dalam Kompetisi Persija musim 1962/1963 di Stadion Menteng pada Juni 1963. (Aneka, 29 Juni 1963)

Tim Football5star pun coba mengorek informasi dari beberapa nama terkait. Namun, setiap narasumber yang kami temui mengaku tidak tahu menahu soal keberadaan barang incaran kami. Bahkan, muncul kesan saling lempar dan menutupi setiap kali kami menanyakan soal trofi yang kami cari.

“Pada waktu penggusuran, semua keluarga itu dikeluarkan semua. Tapi, piala-piala yang ada bisa dicari. Datang ke Lapangan Banteng, temui Supomo, namanya. Dia tahu soal itu,” kata Biner ketika kami temui di Lapangan Soemantro Brodjonegoro.

Ketika kami bergegas mencari Supomo di Lapangan Banteng, yang bersangkutan justru melempar balik ke Biner. Ia merasa saat itu posisi Biner yang paling memungkinkan untuk tahu di mana letak dan nasih trofi-trofi Persija Jakarta.

“Justru Pak Biner yang tahu itu semua. Sekarang kalau dia saja tidak tahu, apalagi saya. Beliau kan pada saat itu Sektim. Kalau saya memang saat itu di Menteng, tapi mengurus administrasi,” ujar Supomo.

Fakta lebih ekstrem kami dapatkan dari salah satu pelatih klub internal Persija Jakarta, UMS. Thalib namanya, beberapa hari sebelum penggusuran, ia mengaku melihat sejumlah orang masuk ke stadion dan mengangkut trofi-trofi dari kantor Persija.

“Waktu itu ada beberapa orang dari ormas, masuk dan kemudian memasukkan piala-piala itu ke karung. Ketika saya lapor ke manajemen klub, malah saya diminta untuk diam dan tidak ikut campur soal hal itu. Jadi, kalau dibilang Pak Biner tidak tahu, rasanya agak mustahil,” kata Thalib.  Pada era Menteng, Thalib memang aktif ada di sekitar Stadion Menteng.

Semangat Tak Padam dari Barang Sisa Perang

Persija Jakarta kini seperti mengumpulkan barang sisa perang di masa lalu. Dari yang tersisa, setidaknya bisa jadi tanggung jawab semua elemen mulai dari manajemen, pemain, hingga fans untuk menjaganya. Agar di kemudian hari, Persija tidak lagi kecolongan karena abai dalam menjaga aset berharga milik klub.

Ferry Paulus, merasa punya tanggung jawab untuk mengumpulkan saksi bisu sejarah kejayaan Persija Jakarta. Memang masih banyak trofi yang masih belum ditemukan, termasuk sembilan trofi Perserikatan, hingga satu trofi juara Liga Indonesia VII.

Setidaknya, menurut Ferry, publik masih bisa menyaksikan saksi kejayaan klub di masa lalu, kini, dan nanti. Pengusaha berdarah Manado tersebut mengaku memang bukan tugas mudah mengumpulkan dan memoles itu semua.

“Memang piala-piala itu berhamburan di mana-mana. Tapi rupanya ada teman-teman yang menemukan dan menyimpannya, walaupun tidak semua. Ada beberapa tahun yang hilang dan kurang runut. Selanjutnya, akan kami rawat dan perbaiki untuk kemudian disediakan tempat terbaik untuk trofi,” ucap Ferry ketika ditemui di kantor Persija.

Mengumpulkan barang rongsokan yang sudah lama teronggok di gudang hingga tercerai-berai, memang butuh kerja ekstra. Namun, setidaknya itulah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk membuktikan bahwa Persija Jakarta memang pernah mengalami masa kejayaan dan merajai berbagai turnamen di masa lalu.

Secara materiil, piala-piala masa lalu Persija Jakarta memang tak ada nilainya. Hanya barang-barang rongsokan yang sudah usang. Namun secara historis, logam-logam yang menjadi saksi sejarah itu tak bisa dinilai dengan nominal. Bagi setiap klub sepak bola, piala juara adalah memoriabilia paling berharga. Seharusnya juga bagi Persija Jakarta.

Jadi, ada di mana saja piala-piala masa lalu Persija Jakarta itu?

Comments
Loading...