KOLOM: Football is Coming Home Hanya Urusan Waktu

Football5Star.com, Indonesia – Football is coming home. Slogan itulah yang teringat ketika melihat empat klub Inggris memastikan diri melangkah ke final Liga Champions dan Liga Europa musim ini. Bagaimanapun, dua trofi kejuaraan antarklub Eropa dipastikan berada di Inggris dan bisa jadi motivasi untuk menularkannya ke timnas Inggris.

Slogan football is coming home sejatinya adalah motivasi untuk menuntaskan kerinduan publik sepak bola Inggris akan prestasi fenomenal. Sejak Piala Dunia 1966 yang tak akan dimenangi bila VAR sudah diberlakukan, trofi juara jadi barang langka.

Football is coming home sudah terjadi berkat dominasi di final Liga Champions dan Liga Europa.

Musim ini, football is coming home bisa dikatakan terwujud. Tentu dalam lingkup yang lebih sempit, yakni kejuaraan antarklub Eropa. Empat klub Inggris akan tampil pada final dua ajang antarklub Benua Biru itu. Liverpool dan Tottenham Hotspur di Liga Champions. Chelsea dan Arsenal di Liga Europa.

Menguasai final Liga Champions dan Liga Europa adalah hal luar biasa. Itu sejarah baru di persepakbolaan Eropa. Sebelum ini, Spanyol hanya mampu mengirimkan tiga wakil ke final pada 2013-14 dan 2015-16. Patut dicatat pula, Inggris adalah satu-satunya yang meloloskan semua wakilnya dari fase grup Liga Champions.

Bukan Semata karena Uang

Awam tentu dengan mudah mengatakan, dominasi Inggris di kancah antarklub Eropa musim ini tak terlepas dari kondisi keuangan yang luar biasa. Berkat nilai hak siar yang sangat besar, pendapatan klub yang terdegradasi dari Premier League saja bahkan bisa melebihi pendapatan klub teras Eropa dari negara lain.

Modal besar tak mampu membuat PSG berprestasi di Eropa.
as.com

Akan tetapi, rasanya terlalu naif jika selalu mengaitkan keberhasilan sebuah klub dengan uang. Tak bisa dimungkiri, uang memang modal besar untuk juara. Namun, bila ukurannya itu, seharusnya kita melihat Paris Saint-Germain dan Manchester City yang mendominasi Eropa.

Dari empat tim yang lolos ke final ajang antarklub Eropa musim ini, Tottenham adalah contoh konkret soal peran uang tersebut. Sekadar mengingatkan, The Lilywhites adalah satu-satunya klub yang tak mengeluarkan uang pada bursa transfer musim ini.

Lalu, tengok pula status pemain termahal Spurs saat ini. Dia adalah Davinson Sanchez yang dibeli dari Ajax pada musim 2017-18 dengan dana 36 juta pounds. Itu setengah dari harga Kepa Arrizabalaga, kiper Chelsea, dan hanya 38 persen dari uang yang dikeluarkan Manchester United untuk mendatangkan Paul Pogba pada 2016-17.

Faktor uang memang tetap tak bisa dilepaskan dari keberhasilan klub-klub Inggris di Liga Champions dan Liga Europa musim ini. Namun, setidaknya ada faktor lain yang patut diperhitungkan dan jadi pelajaran bagi klub-klub lain.

Comments
Loading...