Frederic Kanoute: Striker Ganas yang Berdakwah Lewat Sepak Bola

Football5star.com, Indonesia – Sebagai olahraga universal, banyak yang menjadikan sepak bola lebih dari sekadar permainan. Ada yang menjadikan sepak bola sebagai identitas diri, simbol perjuangan, hingga mengubah nasib agar lebih bermakna di masa depan.

Begitu pula yang dilakukan Frederic Kanoute dalam 20 tahun karier panjangnya di lapangan hijau. Jika tiga hal di atas dikerucutkan menjadi satu, maka, sepak bola bagi sang striker tak bedanya jalan dakwah untuk menyebar kebaikan dan pesan damai.

Di balik sisi antagonis di lapangan, Frederic Kanoute menyimpan sebongkah kebaikan yang disebarkan lewat sepak bola. Sudah menjadi rahasia umum jika dia adalah muslim yang taat. Bahkan mungkin terlanjur taat.

Dia tidak cuma sekadar sujud syukur ketika mencetak gol, atau membentang kedua tangan untuk berdoa sebelum pertandingan. Kanoute lebih dari itu. Ketika banyak orang hanya bisa berbicara, dia langsung melakukan aksi nyata. Ketika banyak orang memilih diam demi sebuah nama baik, dia bersuara lantang demi kebenaran.

Peduli Palestina dan Upaya Kembalikan Islam di Andalusia

Yang paling lekat dalam ingatan soal sisi kemanusiaan Kanoute adalah momen saat Sevilla menjamu Deportivo La Coruna di ajang Copa del Rey Januari 2009. Ia membuat dunia terpana ketika mencetak gol. Bukan soal seberapa cantik gol yang dia buat, tapi bagaimana dia merayakan gol tersebut.

Dengan sengaja pemain asal Mali membuka jerseynya. Di dalam jersey tersebut ia memakai kaos hitam bertuliskan dukungan terhadap Palestina yang saat itu tengah merana karena gempuran Israel.

Dario AS

Aksinya itu kemudian berbuah kartu kuning dari wasit. Dia juga harus membayar 4 ribu euro karena menyuarakan aspirasi politik di sepak bola.

Suara Kanoute terkait kebenaran juga memaksanya harus berhadapan lagi dengan Komisi Disiplin Liga Spanyol. Bagaimana tidak, dia menutup sponsor Sevilla yang ada di bagian dada jersey tim.

Alasannya, Sevilla ketika itu disponsori oleh sebuah rumah judi terkemuka Eropa. Bagi sang bomber, hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip yang dianutnya dalam islam.

Pemandangan itu tidak hanya terjadi di satu pertandingan, tapi juga di beberapa pertandingan. Pada akhirnya, pihak klub memberikan jersey khusus pada sang pemain dengan menghilangkan tulisan sponsor di bagian dada.

Namun apa daya, cara tersebut tidak menyelesaikan masalah. Pihak sponsor keberatan dengan kebijakan tersebut dan bersikeras semua pemain harus memakai jersey yang sama. Situasi ini pun menjadi rumit hingga memaksa Kanoute, Sevilla, dan pihak sponsor melakukan perundingan panjang.

Bermain untuk Sevilla ternyata merupakan berkah tersendiri untuk pemain kelahiran Prancis. Darah islam yang kental dan ketaatannya dalam beribadah menyatu dengan sejarah panjang kota Sevilla.

Untuk diketahui, klub yang bermarkas di Ramon Sanchez Pijzuan berada di kota Andalusia. Pada zaman nabi, Andalusia adalah pusat penyebaran islam di Eropa. Di sana pula berdiri kerajaan islam terbesar selama delapan abad.

Hingga saat ini masih banyak peninggalan-peninggalan islam di Sevilla. Hal itu pula yang coba dibangun kembali oleh Kanoute selama berada di sana.

frederic kanoute-sevilla
BBC

Beberapa tahun lalu, dia pernah menyumbang 700 ribu euro untuk membeli sebuah mesjid bersejarah di sana. Keputusannya untuk merogoh kocek sangat dalam bukan tanpa alasan. Mesjid tersebut terancam dijual karena sewa lahan telah jatuh tempo.

Mantan pemain Lyon juga tercatat pernah merenovasi beberapa mesjid di Sevilla dan membentuk kelompok muslim Afrika di sana. Dia juga sempat mengisi ceramah di beberapa pertemuan dengan tokoh islam yang ada di Spanyol.

Kepedulian Kanoute tidak cuma karena statusnya sebagai pemain Sevilla. Ketika hengkang dan pensiun, ia cukup sering berkunjung ke Sevilla dan bersilaturahmi dengan orang-orang di sana.

Sebagaimana sepak bola yang menyatukan perbedaan, Frederic Kanoute menjadikan islam sebagai media pemersatu manusia di seluruh dunia. Dia bukan hanya membangun sepak bolanya, tapi juga memelopori islam yang tetap bisa bersanding di antara perbedaan yang mengelilingi.

2 Kali Nyaris Hancur Gara-Gara Jermaine Defoe

Nama Frederic Kanoute pertama kali berkibar saat membela West Ham United 2000 silam. Memang kedatangannya tidak langsung melambungkan namanya. Ia harus berjuang menembus skuat utama West Ham ketika itu.

Akan tetapi, permasalahan Kanoute bukan cuma adaptasi, tapi juga bentuk tubuh yang dianggap tidak proporsional untuk bermain di kompetisi sekeras Liga Inggris. Tidak sedikit pula yang skeptis dengannya karena tinggi yang menjulang tidak didukung dengan berat badan proporsional.

Bentuk fisik ini bahkan membuatnya menjadi olok-olok pemain West Ham lainnya. Pertama kali muncul di pemusatan latihan di Chadwell Heath, London, ia selalu jadi sasaran candaan pemain lain, terutama oleh Steve Lomas.

Di lapangan, kendati punya sentuhan maut dan lihai menggulirkan umpan terobosan, ia adalah pemain yang lamban dan mudah terjatuh. Namun, hal tersebut bukan jadi masalah untuk Harry Redknapp, pelatih The Hammers ketika itu.

Ia datang disaat yang tepat. West Ham baru saja memperkenalkan talenta-talenta muda potensial seperti Michael Carrick, Joe Cole, dan Frank Lampard. Untuk urusan pengalaman, dia bisa belajar banyak dari Trevor Sinclair hingga Paulo Di Canio.

Ketika West Ham ditinggal salah satu bintangnya, Paulo Wanchope, tidak ada kekhawatiran sama sekali dalam diri Harry Redknapp. Baginya, kehadiran Frederic Kanoute merupakan alasan logis dia tidak mendatangkan striker baru.

Kanoute kemudian menjadi andalan di lini depan. Berduet dengan Paolo Di Canio yang meledak-ledak, sisi kalem bomber Mali benar-benar memberi keseimbangan dalam permainan tim.

Produktivitas golnya pun meningkat drastis. Dua musim berturut-turut dia menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan torehan 11 gol.

Frederick Kanoute tidak hanya mahir dalam mencetak gol. Untuk urusan melayani rekan setim pun dia menjadi nomor satu. Dia pernah membuat hat-trick assist saat West Ham mengalahkan Manchester City, juga brace hattrick ketika membawa The Hammers mengalahkan Chelsea 2-1.

Getty Images

Akan tetapi, cerita indah Kanoute di Boleyn Groud berakhir antiklimaks 2003 silam. Kemunculan bintang muda, Jermain Defoe, mengubah takdir striker Mali itu. Ia mulai terlupakan ketika Defoe promosi ke tim utama.

Jermain Defoe yang punya kecepatan, tendangan keras, dan mampu bermain di berbagai posisi di lini depan membuat West Ham menyingkirkan Kanoute. Situasi kian runyam saat ia mengalami cedera hamsting yang memaksanya absen empat bulan.

Sadar dengan masa depan yang mulai muram di London Timur, Frederick Kanoute hijrah ke London Utara. Di sana ada Tottenham Hotspur yang lebih menjanjikan.

Bersama Tottenham, ia kembali menjadi striker andalan. Walau perolehan golnya menurun, pemain kelahiran 2 September 1977 punya tugas lain di sana. Ia bukan hanya ditugaskan sebagai juru gedor, tapi juga membuka ruang dan memberi umpan untuk pemain lain.

Dalam dua tahun keberadaannya di White Hart Lane, dirinya sukses mengoleksi 21 gol dari 71 pertandingan. Namun, Kanoute yang mulai nyaman kembali mendapat cobaan. Dan lagi-lagi cobaan berasal dari orang yang sama, yaitu Jermain Defoe.

Ya, Defoe datang semusim setelah Kanoute. Statusnya sebagai anak asli Inggris membuat sang pemain diuntungkan. Ia lebih mudah dicintai fan dan juga manajemen klub. Dengan sekejap pula dia bisa menarik perhatian pelatih ketika itu, Martin Jol.

Dan akhirnya, untuk kedua kali Kanoute tersingkir setelah kedatangan Defoe. Akhir musim 2004-2005 ia memutuskan hijrah ke Spanyol untuk memperkuat Sevilla.

Dilema Dua Negara

Masalah yang dialami Kanoute selama di Inggris bukan Jermain Defoe saja. Ada masalah lain yang lebih kompleks dan menyita banyak energi. Yaitu negara.

Frederic Kanoute memang lahir dan besar di Prancis. Tapi ia tidak bisa menghindar dari darah Mali yang mengalir dalam tubuhnya. Kedua orang tuanya berasal dari Mali dan berimigran ke Prancis.

Saat remaja, ia sudah lalu-lalang masuk timnas Prancis berbagai kelompok umur. Ketika memasuki usia matang, dirinya sadar bukan Prancis lah negaranya. Ia kemudian memutuskan untuk mengabdi ke negeri leluhur, Mali .

Afro Soccer District

Piala Afrika 2004 jadi ajang debut pemain jebolan akademi Olympique Lyon. Dan siapa sangka, di turnamen internasional pertamanya ia langsung menggoreskan tinta emas. Bayangkan saja, ia sukses menjadi top skorer turnamen dengan empat gol dan membawa negaranya ke perempat final.

Akan tetapi, kecemerlangan Kanoute di Piala Afrika 2004 menyisakan masalah pelik di Spurs. Pelatihnya saat itu, David Pleat, tak menghendaki sang bomber pulang kampung. Maklum saja, gelaran Piala Afrika dilangsungkan pada tengah kompetisi Eropa.

Ketika Kanoute dengan yakin pulang kampung, David Pleat melepas kepergiannya dengan amarah yang tak terkendali. “Dia berusia 26 tahun, dia seorang lelaki, dia punya pandangannya sendiri. Saya tidak tahu di mana Mali. Saya harus bertanya pada seseorang,” tegasnya seperti dilansir These Football Times.

“Kami mengontraknya sebagai pemain internasional Prancis. Kami tidak mengontraknya sebagai pemain Mali. Itulah masalnya,” sambung David Pleat.

Amukan Pleat ketika itu juga didasari oleh peran penting pemainnya tersebut selama di White Hart Lane. Sebelum berangkat ke Tunisia, striker berpostur 192 cm sempat membukukan hat-trick ke gawang Crystal Palace.

Mendapat sindiran keras dari pelatihnya di Tottenham, Kanoute dengan santai menjawab bahwa keputusannya memilih Mali karena panggilan hati. Tujuan dia membela negara leluhur pun cukup mulia, yaitu memajukan sepak bola Mali.

Philanthropy Age

“Sejujurnya saya tidak menyesal memilih bermain untuk Mali karena saya melihat gambaran yang lebih besar. Saya telah menjadi penggemar sepak bola Afrika dan saya ingin membawa sesuatu kembali ke Mali dan perpartisipasi dalam pengembangan sepak bola mereka,” katanya kepada Gulf News.

“Dengan cara itu apa yang saya bawa ke Prancis sangatlah terbatas. Hari ini ketika saya kembali ke Mlai, saya diterima dengan tangan terbuka. Dan saya rasa saya tidak akan mendapatkannya di Prancis,” ia menambahkan.

“Bermain untuk Prancis akan memberi saya lebih banyak kesempatan bermain untuk klub yang lebih besar, tapi membantu sepak bola menjadi lebih baik di Mali adalah yang terbaik bagi saya,” tutupnya.

Dalam lapangan, prestasi Frederic Kanoute memang tak semegah legenda lainnya. Tapi untuk urusan kehidupan banyak orang, ia adalah contoh nyata bahwa sepak bola bukan sekadar permainan selama 90 menit. Olehnya pula, sepak bola menjadi ladang dakwah.