Garrincha, Si Malaikat Berkaki Bengkok yang Berakhir Tragis

Football5star.com, Indonesia – Menyebut nama pesepak bola Brasil yang layak dianggap legenda sangat banyak. Mulai dari Pele, Zico, Bebeto, hingga satu nama yang layak juga dikedepankan, Francisco dos Santo alias Garrincha, si Malaikat berkaki bengkok yang berasal dari kawasan Favela, Pau Grande, Rio De Janeiro, Brasil.

Brasilia saat Garrincha lahir merupakan negara berkembang. Masyarakat Brasil saat itu terdesak dalam kondisi krisis ekonomi. Bagi yang pernah menonton film City of God tentu bisa membayangkan bagaimana negara ini saat Garrincha lahir dan tumbuh besar.

getty images

Apalagi ia lahir di kawasan Pau Grande yang disebut banyak orang Brasil sebagai kawasan suram dan penduduknya acapkali bersinggungan dengan tindakan kriminal. Mengutip dari buku The Country of Football: Politics, Popular Culture, and the Beautiful Game in Brazil karya Paulo Roberto Ribeiro Fontes, kawasan ini seperti daerah yang hidup segan, mati pun tak mau.

“Sebelumnya daerah ini merupakan kawasan untuk para pekerja tekstik. Perkebunan kapas yang kemudian berubah menjadi kawasan lesu tempat para mantan pekerja buruh tekstil menghabiskan sisa hidupnya,” tulis Paulo Roberto.

Memilih Sepak Bola

Garrincha sedari kecil mengalami masa suram yang kemudian ia kembali rasakan di sisa akhir hidupnya. Ayahnya seorang alkoholik. Ia terlahir dengan kondisi disabilitas. Garrincha memiliki tulang belakang yang cacat, kaki kanan yang menekuk ke luar dan kaki kiri lebih pendek enam sentimeter lebih pendek, serta melengkung ke dalam.

Sepak bola kemudian memang jadi salah satu pilihan bagi anak mud Brasil saat itu. Pilihan lainnya tentu saja masuk ke dalam kelompok kriminal. Garrincha memilih untuk menekuni sepak bola dengan segala keterbatasannya. Pilihan tersebut tak keliru.

Caranya mengelola si kulit bundar bersama tim lokal Pau Grande dikagumi pelatih Botafogo. Ia kemudian disodori kontrak pada 1953. Aksi Garrincha bersama Botafogo membuat terkesan Nilton Santos, mantan pemain yang kemudian menjadi pemandu bakat pemain muda Brasil.

getty images

Skill Garrincha menggocek bola saat itu disebut publik Brasil sebagai cara tak lazim. Ia pun mendapat julukan Anjo de Pernas Tortas atau Malaikat dengan Kaki Bengkok. Panggilan Garrincha sendiri didapatnya setelah ia bermain untuk tim lokal Cruzeiro do Sul FC. Garrincha sendiri berarti Burung Kecil.

Dua tahun setelah bermain untuk Botafogo, ia masuk ke skuat timnas Brasil. Namun hidupnya berubah 180 derajat. Sosok Garrincha bukan lagi anak muda disabilitas dari kawasan kumuh. Kemampuannya mencetak gol dan skillnya di lapangan membuat ia mendapat sorotan banyak pihak.

Garrincha mulai hidup dengan bergelimang harta. Sejak saat itu, Garrincha makin tak bisa lepas dari sebotol Cachaça, sejenis bir lokal Brasil. Ia terus menenggak Cachaca hampir setiap hari. Sejak awal, Nilson Santos sudah beratus kali memperingkatkan Garrincha untuk berhenti dengan hobinya menenggak alkohol.

Akhir tragis Si Malaikat Berkaki Bengkok

Dikutip dari laporan “The People’s Joy” Vanishes karya José Sergio Leite Lopes, Garrincha menghabiskan masa tuanya tinggal di sebuah rumah sewa yang dikontrak oleh federasi sepak bola Brasil. Sebelumnya, ia tinggal bekas bangunan pabrik tekstil di kawasan Bangu, pinggiran kota Rio de Janiero.

“Dia berusia 49 tahun. Dia mulai karier sepak bola di usai yang terlambat. Ia tak berhenti minum di bar-bar lokal di kawasan tersebut. Dari hari Minggu hingga ke hari Minggu lagi,” tulis Leite Lopes.

Dikisahkan oleh Leite Lopes, saat ia pulang dari bar lokal, Garrincha sudah merasakan sakit di bagian jantungnya. Sang istri Angelita Martinez saat itu langsung meminta bantuan kepada mantan istri Garrincha, Elza Soares. Perempuan yang meninggalkan Garrincha karena mendapat kekerasan dalam rumah tangga.

globoesporte

Sebelum menikah dengan Elza dan Angelita, Garrincha sempat menikah dengan Nari Marques yang seorang pekerja pabrik tekstil di Pau Grande. Namun berpisah satu tahun sebelum Garrincha gagal total bersama timnas Brasil di Piala Dunia 1966.

“Soares kemudian mengantarkan Garrincha ke ambulan yang membawanya ke klinik terdekat. Kondisinya saat itu tak sadarkan diri. Tiga hari sebelumnya, ia sempat di bawa ke Sanatorio Dr. Eiras di daerah Botafogo.”

Yang tak kalah miris kemudian, saat berada di klinik tersebut, petugas medis mencantumkan nama Garrincha dengan tulisan Manuel da Silva bukan Manuel Francosco dos Santos, nama aslinya.

“Dia memang berada di titik terendah dalam hidupnya setelah Piala Dunia 1958 dan 1962. Ketika itu, ia dikenal publik sebagai pendamping Pele yang sepadan. Namun si anonim Manuel da Silva dirawat di klinik dalam keadaan koma alkholik dan tak mendapat perawatan medis khusus. Ia ditemukan meninggal dunia jam 6 pada 20 Oktober 1983,” papar Leite Lopes.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More