FEATURE: Gelora yang Belum Padam Dari Tambaksari

Banner Footbal Live Star-Football5star

Football5star.com, Indonesia – Menapak tilas sejarah Persebaya Surabaya tak akan lepas dari sebuah bangunan multifungsi yang berlokasi di Kecamatan Tambaksari. Stadion bernama  Gelora 10 November (G10N) itu memang menjadi tempat sakral sekaligus saksi bisu jatuh dan bangunnya tim kebanggaan arek-arek Suroboyo.

Sejak dibuka pada 1951, bangunan berkapasitas 35.000 penonton itu sudah dijadikan markas untuk Bajul Ijo -julukan Persebaya. Sekadar informasi, stadion yang dahulu bernama Lapangan Tambaksari tersebut tergabung ke dalam satu kompleks. Terhitung ada tiga lapangan yang terdapat di dalam area yang cukup luas itu.
Stadion Tambaksari
f5s

Lapangan Tambaksari masih punya nama lain, yakni Lapangan A. Tidak jauh dari situ, ada Lapangan B yang lebih dikenal dengan nama Lapangan Karanggayam. Terakhir yakni Lapangan C yang kini berubah fungsi menjadi gelanggang remaja. Meski kini sudah tak lagi digunakan sebagai kandang Bajul Ijo, gelora stadion yang dibangun untuk keperluan PON Jawa Timur 1968 tersebut tetap terpancar.

Salah seorang Bonita (Bonek Wanita) bernama Kiki, yang sempat ditemui Football5star, Sabtu (25/8) terpanggil kenangannya ketika nama Stadion Tambaksari disebut. Sebuah kenangan pahit saat kesempatan perdana menyaksikan langsung pertandingan di stadion, tapi tak lantas menyurutkan langkahnya untuk terus mendukung Persebaya dari tribun.

“Pengalaman yang paling membekas bagi saya ketika pertama kali menonton pertandingan di stadion yaitu ponsel hilang. Tapi justru tidak membuat saya kapok dan ingin kembali lagi,” kata Kiki.

Kiki membuktikan ucapannya dengan kembali lagi ke Tambaksari untuk menyaksikan aksi Persebaya lainnya. Hingga sampai pada pertandingan “perpisahan” melawan Persija Jakarta pada 3 Juni 2012 silam. Lagi-lagi, yang dialami adalah kejadian tak menyenangkan.

“Jadi saat itu adalah pertandingan terakhir Persebaya menggunakan Tambaksari, melawan Persija. Waktu itu rusuh dan sempat terkena gas air mata. Saat itu memang kondisinya lumayan kacau sehingga polisi terpaksa menembakkan gas air mata ke arah saya dan teman-teman,” timpal Kiki.

Suka dan duka memang banyak dialami Bonek dan Bonita dalam mendukung Persebaya di Stadion Tambaksari. Namun, stadion yang resmi dibuka pada 1951 itu tetap saja meninggalkan kenangan tak terlupakan bagi mereka. Sebuah sejarah yang suatu saat mungkin akan menjadi cerita kepada anak hingga cucu.

Tidak sedikit pula yang menyayangkan keputusan Persebaya untuk hijrah dari tempat bersejarah itu. Salah satunya pemerhati sejarah Surabaya dan Persebaya, Dhion Prasetya. Dia agak menyayangkan tim favoritnya harus angkat kaki dari Tambaksari karena faktor teknis. Kapasitas yang sudah tak lagi mencukupi membuat mereka harus minggir ke Gelora Bung Tomo.

“Terlalu banyak kenangan di tempat ini baik yang bagus mau pun jelek, senang atau sedih. Kalau bisa memang terus main di sini. Tapi, ada alasan tertentu yang membuat tidak boleh dan kami berusaha memahaminya,” urai Dhion.

Namun, mau tidak mau, suka tidak suka, Persebaya sebagai klub profesional tentu tak ingin terjebak dalam nostalgia sejarah. Epos yang dihadirkan Stadion Tambaksari tak membuat mereka lupa, bahwa sepak bola modern memerlukan fasilitas yang lebih baik sebagai komoditas. Terlebih, aturan yang dibuat otoritas liga di Indonesia pun cukup ketat soal stadion.

Stadion Tambaksari memang kini tinggal sekadar kenangan. Beragam aktivitas keolahragaan pun mulai sunyi. Namun, semangat yang ditularkan tetap menggelora di dalam diri arek-arek Suroboyo, khususnya Bonek dan Persebaya.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More