Gerardo Martino: Tangani Barcelona adalah Masa Terburuk Saya

Football5Star.com, Indonesia – Menangani Barcelona, klub yang kerap disebut-sebut yang terbaik di dunia, adalah hal luar biasa. Namun, bagi Gerardo Martino, hal itu tak berlaku. Dia justru mengakui masa-masa menangani El Barca adalah periode terburuk dalam kariernya sebagai pelatih.

Gerardo Martino punya anggapan demikian karena satu hal. Dia merasa polesan taktiknya terhadap Lionel Messi cs. tak diterima banyak pihak. Padahal, dia justru merasa polesannya itulah yang akan menyempurnakan permainan Barcelona.

“Dari sisi hasil, itu bukanlah tahun yang buruk. Kami meraih juara (Piala Super Spanyol) dan lolos ke final (Copa del Rey). Namun, di Barcelona, hal terpenting adalah seberapa banyak gelar yang diraih,” kata Gerardo Martino seperti dikutip Football5Star.com dari Infobae.

Kemenangan 2-1 atas Real Madrid dinilai Martino sebagai titik awal kekecewaannya.
rte.ie

Meskipun demikian, Martino menegaskan, bukan hal itu yang membuat tahun itu terasa sangat buruk. “Itu jadi tahun terburuk saya karena kontribusi saya sebagai pelatih dimulai dan diakhiri dengan manajemen tim,” kata pelatih yang kini menangani timnas Meksiko itu.”

Martino lantas mengungkapkan, putusannya memberikan polesan berbeda terhadap permainan Barcelona justru jadi bumerang. Hal itu, menurut dia, terjadi saat Messi cs. menang 2-1 atas Real Madrid dalam El Clasico yang berlangsung di Camp Nou.

“Gol kedua dicetak dengan berlari ke daerah pertahanan lawan. Di Barcelona, hal itu hanya dilakukan ketika permainan sudah macet. Namun, saya paham bahwa jika ada hal yang dapat ditambahkan kepada tim ini, itu tidak harus mencegah mereka berlari,” urai Martino lagi.

Pelatih asal Argentina itu mengungkapkan, gelombang ketidaksukaan langsung menerjang. Pada keesokan hari setelah laga El Clasico itu, media-media massa justru lebih sibuk membahas taktiknya ketimbang membahas kemenangan yang diraih El Barca.

Anehnya, hal serupa tidak terjadi ketika Luis Enrique menerapkan hal serupa dan berbuah treble winners. “Kecepatan akan membuat Barcelona lebih komplet. Ketika tak dapat mendominasi tim lawan, akan lebih baik mundur dan menyerang dengan kecepatan. Itulah yang mereka lakukan tahun berikutnya bersama Luis Enrique,” kata dia lagi.

Gagal Total

Gerardo Martino merasa polesan yang diberikan kepada Barcelona tak mendapatkan apresiasi.
gq.com.mx

Ini bukan kali pertama Martino memandang buruk periode kepelatihannya di Barcelona. Pada 2016, dia mengakui kiprahnya di klub kebanggaan masyarakat Katalonia itu adalah sebuah kegagalan total.

“Jika Barcelona bermain dengan gaya mainnya dan tak memenangi gelar, itu adalah kegagalan. Namun, kami tidak menang dan tak bermain baik pula,” ucap Martino kepada Majalah Panenka.

Gerardo Martino lantas mengungkapkan, dirinya menghadapi masalah besar di Barcelona. Psike para pemain tidak dalam kondisi prima setelah kematian Tito Villanova. “Kami sangat menderita oleh hal-hal di luar olahraga yang datang bersamaan,” kata dia.

Gerardo Martino hanya semusim menangani Barcelona, yakni pada 2013-14. El Barca finis sebagai runner-up LaLiga di belakang Atletico Madrid, kalah di final Copa del Rey dari Real Madrid dengan skor 1-2, dan meraih gelar juara Piala Super Spanyol dengan keunggulan gol tandang. Adapun di Liga Champions, El Barca dihentikan Atletico Madrid pada perempat final.