Giuseppe Meazza, Pemersatu 2 Warna Kota Milan di San Siro

Football5star.com, Indonesia – Bagi Milanisti, kandang mereka adalah San Siro. Menurut Interisti, stadion itu bernama Giuseppe Meazza. Perbedaan itu memang hanya pada penamaannya saja. Tapi bangunan megah nan sakral itu hanya satu dan sama-sama dimiliki AC Milan dan Inter Milan.

Tidak ada yang salah dengan dua nama tersebut. Orang-orang masih umum menyebutnya San Siro karena stadion memang terletak di distrik bernama San Siro. Sementara Giuseppe Meazza diambil sebagai nama stadion untuk menghormati jasa legenda terbesar kota Milan.

Giuseppe Meazza lahir 23 Agustus 1910 di kota Milan. Ia adalah Milanisti sejati. Dan tentu saja impiannya bisa memperkuat I Rossoneri. Sayang, kesempatan pertamanya bertepuk sebelah tangan.

Pinterest

Meazza yang ketika itu baru 16 tahun gagal masuk AC Milan. Trial yang dijalani tidak sesuai rencana. Ia ditolak Il Diavolo Rosso.

Setahun berselang, tepatnya pada 1927 Meazza mencoba lagi peruntungannya. Kali ini dia mencoba di Inter Milan. Di klub rival, namanya diperhitungkan dan langsung meraih debutnya pada tahun tersebut.

Bagi banyak pemain bola, debut seperti Meazza adalah impian. Bagaimana tidak, dia langsung memborong dua gol hari itu. Padahal usianya baru menginjak 17 tahun. Tak pelak, julukan Il Ballila, atau lelaki kecil, langsung tersemat dalam dirinya.

sempreinter

Gazzetta dello Sport memuji debut Meazza. Cerdas, segar, cepat. Hanya tiga kata itu yang mereka gambarkan untuk si bomber belia.

Seperti dikutip Football5star dari These Football Times, sang bomber langsung tancap gas pada musim pertama. Dia sukses menggelontorkan 31 gol Serie A. Gelontoran golnya kemudian sejalan dengan trofi yang dipersembahkan untuk Inter Milan.

Meazza sukses memenangkan scudetto pertamanya 1930 silam, dia juga menyabet gelar Capocannoniere. Torehan serupa dia buat delapan tahun kemudian. Total, sang striker tiga kali mengangkat scudetto dalam kariernya.

Liar di Dalam dan Luar Lapangan

Giuseppe Meazza pemain yang unik. Di lapangan, dia seperti atlet yang taat peraturan, tidur teratur, dan menjalani semua yang diperintahkan. Nyatanya, dia adalah penggemar dunia malam.

Di luar lapangan Meazza tak kalah liar dengan di dalam lapangan. Pesonanya telah meluluhkan banyak wanita. Cukup sering dia menghabiskan malam dengan wanita yang berbeda-beda, bahkan pernah dua sekaligus dalam satu malam.

Bukan cuma wanita. Legenda asli kota Milan juga akrab dengan kehidupan diskotik yang kian larut kian benderang. Di sana dia bukan hanya untuk minum-minum semata, tapi juga mengasah bakat lain di panggung dansa.

Ya, dia adalah pedansa ulung. Tango adalah tarian favorit Il Ballila. Di lantai dansa, kakinya tidak kalah lincah saat menggiring bola di lapangan. These Football Times menyebut sekali pun kehidupannya kurang teratur, ia bisa menjaga ketajamannya di lapangan berkat tarian tango yang selalu diasahnya hampir saban malam.

culture

Meazza adalah pemain yang cemerlang. Dia sendiri sadar dengan kemampuannya itu. Tingkat percaya diri yang dimiliki, walau kadang suka berlebihan, selalu dia buktikan.

Jelang pertandingan melawan Juventus, dia menerima tantangan Giampiero Combi, kiper Juve yang juga rekan Meazza di timnas Italia. Combi bertaruh bahwa sang bomber takkan mampu mencetak gol salto seperti yang dibuat saat keduanya berlatih bersama tim nasional.

Meazza menerima taruhan itu. Tak ada satu orang pun yang tahu jika bintang Inter Milan dan Juventus itu bertaruh. Dan benar saja, sang bomber membuktikan keyakinannya.

Hari itu, dia mencetak dua gol untuk kemenangan Inter. Hebatnya lagi, salah satu gol dia lesakkan lewat tendangan salto. La Beneamata menang, Meazza menang. Di akhir laga, Combi menghampiri rekan timnasnya itu, menjabat tangannya dan memberi selamat.

Kejayaan Bersama Gli Azzurri dan Karier Singkat di AC Milan

Kebintangan Giuseppe Meazza di tingkat klub tak memudar kala dirinya membela Italia. Piala Dunia edisi kedua pada 1934, ia langsung menorehkan tinta emas. Bermain di negara sendiri dia sukses mencetak dua gol sepanjang turnamen.

Italia sukses merengkuh Piala Dunia pertamanya. Adapun Meazza terpilih sebagai pemain terbaik. Banyak yang beranggapan bahwa kemenangan Italia dinodai oleh campur tangan Benito Mussolini.

Terlepas dari itu, Gli Azzurri, bagaimana pun juga adalah tim kuat. Selain Il Ballila, mereka punya Silvio Piola, Giovanni Ferrari, dan Giampiero Combi.  Jangan lupakan pula sosok Vittorio Pozzo sebagai peramu taktik.

fifa

Empat tahun kemudian Gli Azzurri benar-benar membuktikan bahwa Piala Dunia 1934 bukan sebuah kebetulan dan bukan semata-mata menang karena Benito Mussolini. Di Prancis 1938 mereka kembali berjaya.

Masih bersama Vittorio Pozzo, Gli Azzurri juara dunia lagi. Yang lebih membanggakan, Giuseppe Meazza lah yang mengangkat trofi Piala Dunia kedua. Ya, tahun itu dia ditunjuk sebagai kapten oleh sang maestro.

Bisa dibilang, penunjukan Meazza sebagai kapten menjadi kebanggan tersendiri. Sebab skuat Italia punya dinamika yang sangat berbeda dengan Inter Milan dan dia mendapat kehormatan sebagai kapten tim nasional.

Usai dari Prancis, Il Ballila kembali merumput bersama Inter. Namun, kondisinya sudah tidak seperti dulu lagi. Ia mulai diganggu rentetan cedera. Ini pula yang membuatnya hengkang pada 1940 dan menggapai impian untuk berseragam AC Milan.

Cedera benar-benar mempengaruhi permainannya di AC Milan. Bagaimana tidak, selama dua musim di sana dia hanya mampu menggelontorkan 11 gol dari 42 penampilan.

Setelah itu dia pindah lagi ke tim raksasa Utara lainnya, Juventus. Tapi di sana namanya juga tidak lebih baik hingga akhirnya pindah lagi ke Varese, Atalanta, sampai akhirnya pulang ke Inter pada 1945.

pinterest

Giuseppe Meazza pensiun setahun kemudian. Menggoreskan tinta emas dengan 276 gol, tiga scudetto dan dua gelar Piala Dunia. Tak bisa dibantah lagi, dia adalah ikon Italia.

Anggapan ini tidak berlebihan. Selain prestasi yang berbicara, pengaruhnya dalam tim sangatlah kental. Dia adalah satu-satunya pemain yang diizinkan merokok di ruang ganti.  

Reputasi besar yang dimiliki sudah abadi di San Siro. Ya, tempat di mana dia belajar, tumbuh hingga melegenda, sampai kembali pulang untuk mengakhiri apa yang sudah dia mulai, sudah menyematkan namanya, stadion Giuseppe Meazza.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More