Harry Kewel, Cinta Jadi Benci di Leeds United dan Misteri Istanbul

Football5star.com, Indonesia – Harry Kewell merupakan salah satu bintang paling terang dari Australia. Seperti sudah menjadi suratan takdir, Inggris menjadi tempat di mana ia menggapai impian.

Dia paling lama memperkuat Leeds United. Tapi baru bisa memenangkan gelar kala berkostum Liverpool.

Walau begitu, sampai sekarang ceritanya bersama Leeds United tidak pernah usai. Di sana dia menemukan cinta dari para suporter. Dan di sana juga dia menanam benih kebencian.

Sejak 1995, Kewell sudah mengadu nasib ke Inggris. Tujuannya pun langsung ke Leeds United, klub yang sudah mendekatinya sejak setahun sebelumnya.

pinterest

Datang tanpa biaya transfer sepeserpun, sang wonderkid lebih banyak menonton daripada beraksi di lapangan. Maklum saja, usianya kala itu baru menyentuh 17 tahun. Dua kali bermain, tanpa gol dan tanpa assist, dia belum jadi apa-apa.

Perjuangan belum berakhir. Tapi penderitaannya juga terus berlanjut. Musim berikutnya bisa dibilang lebih buruk karena hanya sekali dia dimainkan oleh Howard Wilkinson.

Memasuki tahun ketiga, peruntungannya berubah drastis. Makin mengenal lingkungan di Yorkshire, ditambah kedewasaan dalam bermain membuat Kewell mulai diperhitungkan.

Akan tetapi, dua hal tersebut mungkin tidak berarti apa-apa jika Howard Wilkinson yang masih menjadi nakhoda. Ya, dewi fortuna mendekati Kewell ketika George Graham mengambil alih tim.

Kepimpinan George Graham seakan jadi angin surga untuk winger kelahiran Sidney, Australia. Musim 1997-1998 dia langsung diturunkan 29 kali dan mencatatkan lima gol.

Hanya berstatus sebagai pemain pengganti pada tiga pertandingan awal, Kewell melahap 26 laga lainnya sebagai starter. Gol pertama ia bukukan ke gawang Newcastle United di pekan ke-11 Premier League.

Kewell tidak sukses sendirian musim itu. Dia turut melambungkan The Whites di papan klasemen. Setelah berada di luar 10 besar dua musim sebelumnya, musim 1997-1998 klub asal Yorkshire menembus lima besar.

kyrosports

Usaha Kewell tidak sia-sia. Setelah berjuang tanpa kepastian selama dua tahun, dia akhirnya meraih apa yang dicita-citakan. Performa apiknya musim tersebut pun mendapat balasan setimpal dari penghuni tribun Elland Road.

Harry Kewell jadi salah satu pemain yang dicintai suporter. Akselerasi di lapangan, kecepatan berlari dan akurasi tendangan kaki kiri membuat fan selalu mengelu-elukan namanya.  

Terlepas dari nihilnya trofi yang dipersembahkan untuk Leeds United, Kewell selalu menghadirkan daya magis di lapangan. Liukan maut dari sisi kiri, hentakan keras dengan kaki kidal sudah lebih dari cukup untuk fan mencintainya.

Setelah musim 1997-1998, Kewell jadi sosok tak tergantikan di sisi sayap. Pun ketika kursi pelatih berpindah ke tangan David O’Leary. Dia justru makin liar karena dimainkan di beberapa posisi seperti sayap kiri, second striker, hingga gelandang serang.

Total mencatatkan 225 penampilan bersama Leeds dan mengoleksi 57 gol serta 10 assist. Bersama Leeds dia mencapai apa yang sukar dilakukan pemain Australia kebanyakan ketika itu. Dan bersamanya pula The Whites kembali manggung di Liga Champions.

Hantu Cedera dan Misteri Keajaiban di Istanbul

Tampil mempesona selama delapan tahun di Leeds United, nama pemain kelahiran 22 September 1978 mulai dibicarakan di bursa transfer. Liverpool yang butuh pelari kencang di sektor sayap untuk menerjemahkan keinginan Gerard Houllier datang memberi tawaran.

The Whites tak mampu menahan mahar 10 juta pounds dari The Reds. Mereka butuh uang tersebut untuk menutupi utang yang mulai menggerogoti.

Kewell juga tak punya alasan untuk tidak menerima pinangan Liverpool. Bukan apa-apa. Sejak kecil dia adalah Kopites. Pahlawannya di sepak bola tidak lain dan tidak bukan Kenny Dalglish.

Dari sisi profesionalitas, dia butuh Liverpool untuk mencapai level tertinggi. Sayang, apa yang dialami di Anfield berbanding terbalik dengan masa-masanya di Elland Road.

Ketika pada dua musim perdana di Leeds ia lebih sering menghangati bangku cadangan, tiga musim pertama di Liverpool dirinya langsung tampil memukau. Sisanya, namanya lebih sering tak terdaftar dalam tim.

Bukan karena kedatangan Luis Garcia atau pemain baru lainnya. Melainkan cedera hamstring yang mulai menjadi kebiasaan baru selama berada di Anfield.

Cedera ini pula yang membuat trofi Liga Champions yang dia raih terasa hambar. Di stadion Attaturk, 2005 silam Kewell tampil sebagai starter. Harapan Rafael Benitez cukup besar padanya saat itu.

Rafael Benitez ingin pria asli Sidney memanfaatkan lubang di sisi kanan pertahanan AC Milan yang kerap ditinggal Cafu untuk membantu serangan. Sayang, harapan tidak sesuai kenyataan.

liverpoolecho

Kewell tampil di bawah performa terbaik. Disebutkan bahwa dia bermain membawa rasa sakit karena hamstring yang belum pulih total.

Benitez kemudian menariknya keluar sebelum babak pertama berakhir. Tapi belakangan diketahui bahwa Kewell tidak cedera. Seperti dikutip Football5star dari Joe, pemain kidal minta diganti karena merasa dirinya sudah kehilangan gairah bermain.

Bagi Kewell, malam di Istanbul yang dirayakan gegap gempita oleh seluruh skuat dan fan tidak pernah dia rasakan. Menurutnya, itu adalah malam yang mengerikan. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang dirasakan selama 23 menit berada di lapangan.

“Secara pribadi itu adalah mimpi buruk, malam yang mengerikan. Anda mencoba bahagia untuk tim. tapi ketika Anda kembali ke hotel, semua selesai. Tidak ada perasaan apa-apa,” ungkapnya sepertid dikutip Football5star dari Joe.

Sejak keanehannya di Istanbul, Harry Kewell tak pernah benar-benar kembali. Cedera serta kepercayaan diri yang mulai pudar membuatnya makin terpuruk.

Selama di Liverpool sudah lebih dari satu kali dia memikirkan gantung sepatu. “Saya hampir berhenti bermain sepak bola beberapa kali saat masih di Liverpool. Hanya istri, manajer, dan sahabat dekat saya yang tahu itu,” imbuh sang winger.

Jatuh bangun melawan cedera, sang pemain terus didukung Rafa Benitez. Ketika ia pulih sang pelatih selalu memainkannya. Sayang, mental Kewell sudah kepalang jatuh. Ia gagal bangkit di tahun-tahun terakhirnya membela klub idola.

Menyulut Kebencian Fan Leeds United

Setelah 13 tahun di Inggris, pemain jebolan akademi Marconi Stallions pindah ke Turki. Ia mencoba bangkit dengan Galatasaray.

Upanya berhasil. Bersama Galatasaray Kewell menemukan kebahagiaan baru. Torehan golnya selama dua musim di sana lebih banyak dari yang ia buat saat berada di Liverpool selama lima musim.

Dari 91 penampilan Kewell membukukan 34 gol dan 17 assist. Bandingkan engan 16 gol dan 11 assist yang dibikin dalam 139 laga di Anfield.

Akan tetapi, di sudut Istanbul yang lain itu Harry Kewell menebar benih kebencian untuk orang-orang yang mencintainya. Pindah ke Galatasaray menjadikannya musuh nomor satu fan Leeds United.

express

Fan punya alasan kuat mengapa mereka sangat membenci Galatasaray. Cerita bermula pada 2000 silam kala kedua klub bertemu di semifinal Piala UEFA.

Leg pertama yang berlangsung di Istanbul diakhiri cerita muram. The Whites bukan hanya kalah 0-2, mereka juga harus menerima kenyataan ada dua suporternya yang tak pernah pulang.

Pada pertandingan di stadion Ali Sami Yen itu, fan Galatasaray dan Leeds terlibat bentrokan hebat. Bentrok yang sudah terjadi sebelum laga berlangsung kian memanas saat pertandingan telah berakhir.

Di luar stadion, keadaan makin diluar kendali. Nahas, kerusuhan memakan korban. Dua pendukung Leeds United tewas karena ditikam suporter The Aslan.

Dan pada malam mengerikan itu, Harry Kewell dimainkan David O’Leary selama 90 menit. Dia merasakan kesedihan itu, dia tahu kemarahan suporter dan sudah khatam betapa bencinya mereka pada Galatasaray.

Lalu, delapan tahun setelah itu, dia malah menandatangani kontrak dua tahun di Galatasaray. Fan Leeds jelas tidak terima. Mereka mengecam keras Kewell.

Satu keputusan fatal sang legenda telah mengubah cinta yang dijaga fan Leeds United selama 13 tahun menjadi benci yang masih terasa sampai sekarang.

Terlepas dari kesialan yang kerap membelenggunya, pemain yang pensiun pada 2014 di Melbourne City tetaplah legenda besar Australia. Bersama Mark Viduka, Lucas Neil, Mark Schwarzer, serta Marc Bresciano, dia adalah generasi emas Australia.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More