Hitam Putih Legenda Ali Karimi, Maradona Asia di Tanah Jerman

Football5star.com, Indonesia – Iran adalah salah satu kekuataan sepak bola Asia. Negeri yang dahulu dikenal dengan nama Persia tersebut memiliki banyak talenta terbaik lapangan hijau, salah satunya adalah Ali Karimi. Pemain kelahiran Karaj 41 tahun lalu itu juga sering dijuluki sebagai Maradona Asia.

Karier sepak bola pemain bernama lengkap Mohammad Ali Karimi Pashaki dimulai saat bermain di akademi Naft Tehran pada 1990. Satu tahun di akademi yang berlokasi di ibu kota Iran tersebut, Karimi melanjutkan ilmu sepak bolanya di Saipa dan Fath Tehran. Di akademi terakhirnya inilah, Karimi mendapat kontrak profesional pertamanya.

Sayang Fath Tehran saat itu tak menyadari potensi besar Karimi. Bergabung sejak 1996 hingga 1998, Karimi tak mendapat kesempatan untuk menunjukkan bakat terbaiknya. Pada 1998, ia direkrut salah satu klub terbaik Iran, Persepolis. Selain bergabung ke Persepolis, Karimi pun di tahun 1998 dipanggil tim nasional Iran.

Talenta dan ketajaman Karimi sebagai seorang gelandang serang mulai menyita publik Iran saat ia bergabung ke Persepolis. Empat musim berseragam Persepolis, Karimi catatkan 11 gol dari 42 penampilan. Catatan impresif ini membuatnya direkrut klub terbesar UEA, Al Ahli.

Menariknya, sebelum bergabung ke Al Ahli, jalan Karimi untuk berkarier di Eropa hampir terbuka. Saat ikut Persepolis ke pra musim di Eropa, klub Italia, Perugia sempat tertarik untuk meminangnya. Baru pada 2005, jalan Karimi untuk merantau ke tanah biru Eropa terwujud. Tak tanggung-tanggung, raksasa tanah Jerman, Bayer Munich yang datangkan Karimi.

Karimi jadi orang Iran ketiga yang bermain untuk Bayern. Sebelum Die Roten sempat dibela oleh dua orang Iran lainnya, Ali Daei dan Vahid Hashemian. Awal mula ketertarikan Bayern pada Karimi tak lepas dari laga Iran vs Jerman pada Oktober 2004. Pada laga persahabatan yang berlangsung di Azadi Stadium tersebut, Karimi bermain sangat impresif.

Salah satu media ternama Iran, Kicker bahkan menobatkan Karimi sebagai man of the match pada laga yang dimenang Jerman 2-0 tersebut.

Hitam Putih Ali Karimi

Berkarier di Bayern, Karimi tunjukkan bakat terbaiknya. Ia adalah gelandang serang serba bisa yang juga bisa di-plot sebagai seorang penyerang. Ia perebut bola, agresif, dan memiliki stamina luar biasa untuk ukuran pemain Asia.

Karimi juga dikenal sebagai pengatur ritme pertandingan dan salah satu keunggulan terbaiknya adalah kemampuan menemukan ruang kosong di antara kawalan ketat pemain lawan. Kelebihan ini yang membuat Karimi cukup mudah untuk beradaptasi dengan sepak bola Jerman.

Bersama Bayern, Karimi mempersembahkan dua gelar, juara Bundesliga 2005-06 dan DFB Pokal di musim yang sama. Namun di 2007, ia malah memutuskan kembali berkarier di sepak bola Asia dengan begrabung ke Qatar SC. Padahal karier Karimi di Eropa masih cukup terbuka untuknya.

Hitam Putih Legenda Ali Karimi, Maradona Asia yang Tanah Jerman
kikcer

Sempat kembali ke Jerman dengan membela Schalke 04 dan memberikan gelar DFB Pokal 2010-11, Karimi sepertinya home sick dan memilih untuk menerukan karier di Persepolis.

Di luar kehebatannya sebagai gelandang serang, hampir mirip dengan Diego Maradona, Karimi pun selalu dikelilingi hal berbau kontroversial. Pada 12 Agustus 2010 misalnya, Karimi ketahuan tidak menjalankan ibadah puasa saat membela tim asal Iran, Steel Azin. Hal ini menjadi sangat kontroversial di Iran sebagai negara Islam.

Publik Iran menganggapnya melanggar aturan tim dan norma agama. Bukannya meminta maaf, Karimi memilih untuk mengatakan bahwa dirinya masih seorang muslim dan merasa tindakannya tersebut tak menyalahi aturan.

“Aku ini seorang muslim dan masih percaya dengan norma-norma Agama.” ucap Karimi. Pernyataan Karimi ini membuat publik Steel Azin ramai-ramai menolak kehadiran Karimi.

Tak cukup disitu, saat membela Iran di babak kualifikasi Piala Dunia 2010, Karimi dengan sengaja menggunakan ban kapten berwarna hijau. Bagi publik Iran hal ini menunjukkan dukungan Karimi kepada tokoh oposisi politik, Hossein Mousavi.

Hal ini membuat publik Iran membencinya. Padahal pada 2008, ia sempat didepak dari tim nasional Iran lantaran menyuarakan kritik pedas kepada federasi sepak bola Iran. Ia menyebut Iran pada 2008 adalah tim nasional terlemah dalam kurun waktu 10 tahun.

Selain itu, ia juga menyebut bahwa manajemen klub di Iran adah orang yang tak tahu sepak bola. Pada 2014, Karimi memutuskan untuk pensiun. Ia lantas melanjutkan kariernya sebagai seorang pelatih.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More