Hugo Sanchez: Sandiwara Transfer Atletico dan Real Madrid

Football5star, Indonesia – Sepak bola industri seperti sekarang membuat bursa transfer selalu menitik beratkan pada angka yang kian menyilaukan mata. Istilah ‘ada uang ada barang’ begitu berharga saat negosiasi dilakukan

Sudah tak terhitung pemain yang masuk dan pergi hanya karena nominal yang tak mampu ditolak. Tak terhitung pula berapa fan yang harus meratapi kepergian pemain kesayangannya karena klub tak punya kuasa untuk menolak kehebatan uang yang sudah dijanjikan.

Panasnya geliat transfer saat ini ternyata tidak kalah dengan apa yang terjadi di masa lampau. Walau uang tidak terlalu bicara banyak, tapi kelihaian klub dalam mencari celah untuk menggaet pemain yang diinginkan mampu mencuri perhatian, bahkan sampai membuat rival gigit jari.

Dalam dua dekade terakhir, Real Madrid terkenal dengan kehebatannya mendatangkan pemain bintang. Terbukti, Los Galacticos berjilid-jilid berhasil mereka bentuk. Zinedine Zidane, Luis Figo, Ronaldo, hingga Cristiano Ronaldo serta Gareth Bale datang ke Santiago Bernabeu dengan rekor transfer terbaru.

Akan tetapi, jauh sebelum itu terjadi, gaya transfer Real Madrid sempat mengejutkan tanah Matador. Tidak main-main, hal ini melibatkan saudara muda mereka, Atletico Madrid.

Diario AS

Dekade 80-an, Real Madrid dan Atletico Madrid terlibat negosiasi sengit. Tujuannya adalah untuk meminang pemain andalan Los Rojiblancos ketika itu, Hugo Sanchez.

Tahun 1985 Atletico Madrid dibuat dilema oleh Real Madrid. Si Putih datang membawa penawaran yang sulit ditolak. Satu sisi mereka ingin melepas pemain terbaiknya guna menyeimbangkan keuangan klub. Satu sisi lainnya mereka tidak ingin membuat para penggemar murka karena mengizinkan Hugo Sanchez membelot ke rival. Jelang bursa transfer ditutup, keadaan makin buruk karena Barcelona juga datang ingin meminang.

Tidak memungkinannya Atletico melepas langsung Sanchez ke Santiago Bernabeu membuat mereka memutuskan memulangkan sang bomber ke klub lamanya di Meksiko, Pumas Unam pada 4 Juli 1985. Cara ini terbilang jitu karena fan tidak ada yang menyadari bahwa ini hanya kamuflase manajemen untuk melepas sang pemain ke pusat kota.

Dan benar saja, hanya berselang dua pekan, Hugo Sanchez akhirnya diresmikan sebagai pemain baru Real Madrid. sekitar 50 ribu suporter sudah menanti kedatangannya di Santiago Bernabeu ketika itu.

Media yang berbasis di Barcelona, Catalan Sport, menyebutkan bahwa Atletico ‘cuci tangan’ karena telah membohongi fansnya. Di sisi lain, fan menganggap Hugo Sanchez tak layaknya seorang judas dengan pindah secara diam-diam.

Tak ada cinta yang tersisa dalam benak suporter kendati di musim sebelumnya Sanchez membawa klub juara Copa del Rey dan dinobatkan sebagai top skorer LaLiga. Beberapa jam setelah diperkenalkan di Santiago Bernabeu, jersey Atletico bertuliskan namanya dibakar sekelompok fan, tepat di depan stadion Vicente Calderon.

Melegenda Bersama Madrid, Biasa Saja di Meksiko

Bagi penggemar Real Madrid, Hugo Sanchez adalah salah satu legenda terbesar mereka. Gelontoran gol sampai trofi juara yang diberikan membuat fan selalu menempatkannya sebagai sosok yang pantas di kenang.

Sejak menginjakkan kakinya di Santiago Bernabeu 1985 silam, Sanchez menjelma jadi sosok tak tergantikan di lini depan. Bersama legenda lain seperti Emiliano Butragueno, ia mendulang banyak gol di sana.

Marca

Tujuh tahun bermukim di Valdebebas, ia empat kali terpilih sebagai top skorer LaLiga. Capaiannya pada 1989-1990 jadi yang terbaik karena mampu mengoleksi 38 gol dalam semusim. Ini jadi perolehan gol terbanyak sepanjang sejarah LaLiga dalam semusim.

Berstatus sebagai pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang sejarah Real Madrid dengan 189 gol, Sanchez mampu memberikan gelimang gelar. Total ia sukses mengangkat 10 trofi, termasuk lima gelar LaLiga secara beruntun.

Keberhasilan Sanchez di ibu kota Spanyol berasal dari ketekunannya dalam berlatih. Naluri tinggi untuk mencetak gol bukan semata-mata tujuannya dalam bermain. Ia adalah striker yang menghibur ribuan pasang mata lewat aksi-aksi tak terduga. Dan salah satu yang paling spektakuler ketika ia mencetak gol melawan Logrones 1985 silam.

“Ketika seorang pemain mencetak gol seperti itu, wasit harus menghentikan permainan dan segelas sampanye harus ditawarkan pada 80 ribu penonton untuk kembali menikmati gol luar biasa itu,” ucap pelatihnya di El Real saat itu, Leo Beenhakker seperti dilansir These Football Times.

Sayang, semua yang diraih bersama Los Blancos tidak serta merta membuatnya dielu-elukan publik Meksiko. Pria yang kini berusia 61 tahun dianggap lebih mementingkan karier di klub dibanding negara.

Conservapedia

Publik Meksiko bahkan mengasumsikannya sebagai orang luar. Bagaimana tidak, dalam 11 tahun berkarier di Spanyol, ia hanya mampu mengukir tujuh caps bersama tim nasional, termasuk empat pertandingan di Piala Dunia 1986 yang berlangsung di Meksiko.

Banyak orang yang mempertanyakan motivasinya berseragam hijau timnas. Anggapan ini tampak makin nyata karena setelah meninggalkan LaLiga, ia baru hilir mudik memperkuat negara. Total, Sanchez telah melakoni 58 caps dan mencatatkan 29 gol.

Walau kerap dicibir publiknya sendiri, Hugo Sanchez tetaplah simbol negara. Ia menunjukkan pada dunia bahwa Meksiko negara dengan talenta luar biasa yang pantas dihormati.

Anomali Hubungan Hugo Sanchez dan Emilio Butragueno

Goalden Times

Hugo Sanchez tidak berlari sendiri dalam meraih kesuksesan bersama Real Madrid. Dia berbagi tempat dengan pujaan Castilla, Emiliano Butragueno. Kendati mereka gagal mengangkat Piala Champions, keduanya selalu melakukan hal-hal istimewa di lapangan.

Duet Emilio Butragueno dan Hugo Sanchez disebut-sebut sebagai duet terbaik abad 19. Punya tipe permainan yang sangat berbeda, mereka saling mengisi satu sama lain.

Nama Butragueno lebih dulu harum karena berasal dari akademi klub. Eranya dulu juga dikenal dengan sebutan Quinta del Buitre karena dia muncul dengan empat pemain top lainnya seperti Manolo Sanchis, Rafael Martin Vazquez, Michel, dan Miguel Pardeza.

Hampir tidak ada pemain yang bisa menggeser kelima pemain ini. Baru ketika Sanchez datang komposisi tim berubah. Miguel Pardeza memutuskan hengkang ke Real Zaragoza. Posisi kosong pun otomatis menjadi milik pemain yang baru didatangkan dari Atletico Madrid itu.

Kedatangan Leo Beenhakker sebagai pelatih El Real pada 1986 berdampak luar biasa pada duet ini. Semusim berselang, seiring dengan pensiunnya Jorge Valdano, lini depan jadi milik Butragueno dan Sanchez.

Fakta mencengangkan muncul selama tujuh tahun kebersamaan mereka di Santiago Bernabeu. Dalam kurun waktu tersebut, 43 persen gol Madrid dicetak oleh kedua pemain ini.

Catatan luar biasa itu membuat banyak pihak berdecak kagum, tak terkecuali legenda Barcelona, Hristo Stoichkov. Bahkan baginya, kesuksesan Madrid yang meraih tiga trofi Liga Champions selama diperkuat Cristiano Ronaldo tidak ada apa-apanya dibanding era Butragueno dan Sanchez.

“Tim mereka saat itu selalu bermain bagus dan mereka menang sangat banyak. Keduanya membentuk tim yang luar biasa, bahkan lebih baik dari skuat saat ini yang sudah memenangkan tiga gelar Liga Champions dalam lima musim,” tegas Stoickhov kepada The Athletic.

Namun, siapa sangka jika harmonisasi permainan mereka hanya dibangun di lapangan saja. Ya, Butragueno dan tidak benar-benar berteman dengan Sanchez. Pertemanan mereka tak pernah berlanjut ke luar lapangan.

Telemundo Deportes

“Saya tidak punya hubungan dengan Hugo di luar lapangan. Tapi saya juga tidak punya masalah dengan dia, juga tidak ada kecemburuan antara kami. Hubungan kami yang paling intim hanya terjadi di lapangan,” kata Butragueno.

Kendati tidak berteman dan sempat berpisah pada 1992 silam, mereka akhirnya disatukan lagi oleh klub Meksiko, Atletico Celaya. Butragueno yang mulai tersingkir dari tim utama Madrid seiring kemunculan Raul Gonzalez memutuskan untuk menyeberang benua.

Tahun 1995 Butragueno bermain di Liga Meksiko bersama Atletico Celaya. Dan dua tahun berselang dia kembali bersatu dengan Sanchez. Mereka akhirnya memutuskan pensiun 1998 silam.

Baik saat memperkuat Real Madrid maupun Atletico Celaya, kedua pemain ini adalah mimpi buruk bagi pertahanan lawan. Punya jenis permainan yang berbeda, mereka memiliki keinginan dan kemampuan yang sama untuk menang dan saling mempengaruhi kariernya satu sama lain.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More