Inkonsistensi Liverpool Dianggap Jadi Suatu Hal Yang Wajar

Liverpool masih tampil naik turun di bawah asuhan Juergen Klopp. Inkonsistensi The Reds itu dianggap oleh mantan pemainnya, John Barnes, sebagai suatu hal yang wajar.

Liverpool sudah dua laga tidak pernah meraih kemenangan. Mereka baru saja kalah dan menelan kekalahan. Hasil imbang didapat saat melakoni pertandingan melawan Manchester United di Liga Champions. Satu kekalahan didapat saat berhadapan dengan Southampton.

Kekalahan dari Soton itu membuat geleng-geleng kepala. Sudah unggul dua gol, Liverpool akhirnya kalah dengan skor akhir 2-3. Gol-gol Soton dicetak oleh Sadio Mane (dua gol) dan Graziano Pelle.

Eks penggawa Liverpool, John Barnes menilai inkonsistesi Si Merah itu merupakan hal yang wajar. Apalagi, Klopp baru masuk ke Liverpool di tengah musim. Dia menggantikan Brendan Rodgers yang dipecat karena dinilai tampil kurang memuaskan.

Klopp tampak masih belum bisa menampilkan strategi seperti saat masih menuai kesuksesan seperti di Borussia Dortmund. Bersama Die Borussen, Klopp pernah menjuarai Liga Jerema dan mencapai babak final Liga Champions.

“Leicester merupakan tim paling konsisten, yang tak biasa. Ini merupakan gejala di Premier League, inkonsistensi dari tim besar. Kedua, Liverpool bisa dimengerti. Dari sudut pandang Liverpool, hal itu karena Juergen Klopp datang di saat yang tak ideal untuk setiap manajer,” kata Barnes di Soccerway.

“Tentu saja manajer ingin bekerja bersama tim di saat pramusim, ketika Anda mempunyai empat sampai enam pekan untuk mengimplementasikan gaya bermain Anda, strategi Anda, jadi para pemain mengerti itu,” tambah pemain sayap kiri yang pernah memperkuat klub asal Merseyside itu selama satu dekade dari rentang waktu 1987-1997 itu.

Comments are closed.