Ivan Zamorano: Pemain Agung yang Percaya Takhayul

Football5star.com, Indonesia – Di Amerika Latin, Cile adalah salah satu kuda hitam di dunia sepak bola. Tapi untuk kancah dunia mereka belum mampu bicara lebih banyak dibanding negara tetangga lain seperti Brasil, Argentina, atau bahkan Uruguay.

Kendati masih kalah saing dengan Brasil, Argentina, maupun Uruguay, Cile tak pernah kehabisan stok pemain bintang. Saat ini saja negara beribukotakan Santiago masih dihuni para generasi emasnya seperti Arturo Vidal, Alexis Sanchez, Mauricio Isla, Gary Medel, atau pun Claudio Bravo.

Akan tetapi, para pemain ini bukanlah era emas pertama Cile. Jauh sebelum kehadiran mereka, negara yang memiliki warna kebesaran merah itu sudah lebih dulu memiliki pemain-pemain top semisal Hugo Rubio, Marcelo Salas, Carlos Caszely, dan Ivan Zamorano.

Goal

Dari keempat nama tersebut, Ivan Zamorano jadi salah satu yang paling mencolok. Perjalanan kariernya pun mendukung Zamorano untuk menjadi pemain paling berpengaruh di Cile.

Ivan Zamorano berasal dari keluarga biasa. Dia tidak didukung kekuatan finansial keluarga untuk sekadar membeli sepatu bola. Keadaan mantan pemain Inter Milan saat itu makin buruk dengan situasi politik Cile yang mencekam.

“Kami berjuang secara finansial. Saya membantu keluarga dengan melakukan pekerjaan sambilan seperti menyuci mobil, jendela, apa pun itu agar saya bisa dibayar. Kami akan menggunakan uang itu untuk membeli makan,” kata Zamorano kepada Marca.

“Saya hanya ingin bermain sepak bola, tidak ada yang lebih penting. Saya akan bermain selama mungkin di taman dan di jalanan bersama teman-teman. Ayah saya akan datang mencari saya ketika hari mulai gelap karena daerah saya tidak terlalu aman. Tapi saya senang. Saya punya masa kecil yang bahagia dan keluarga saya mendorong saya untuk bermain bola. Mereka tahu saya berbakat,” imbuhnya.

Pada media 80-an Cile dilanda perang sipil akibat ketamakan pemerintahan Augusto Pinochet. Ia memimpin negara secara brutal. Kediktatorannya mewabah hingga dunia sepak bola yang membuat perkembangan Si Kulit Bundar  di sana jalan di tempat.

Akibatnya, Cile yang saat itu masih diperkuat pemain-pemain bintang seperti Jorge Aravena, Carlos Reinoso, harus mengubur impian untuk tampil di Piala Dunia 1986 di Meksiko dan 1990 di Italia.

Peluang kembali datang untuk Cile empat tahun berselang saat mereka selangkah lagi menuju Amerika Serikat untuk Piala Dunia 1994. Namun, mimpi kembali kandas karena kebodohan kiper Roberto Rojas. Saat melakoni laga hidup mati melawan Brasil, ia pura-pura cedera hingga membuat negaranya didiskualifikasi.

sport defteri

Setelah masa-masa kelam tersebut, Cile akhirnya menuju era baru yang lebih bermartabat. Junta militer Augusto Pincohet runtuh, Roberto Rojas pun dikeluarkan dari tim nasional. Dua situasi ini akhirnya disempurnakan dengan makin matangnya Ivan Zamorano.

Puncak dari pengaruh Zamorano pada Cile terjadi pada laga terakhir babak kualifikasi Piala Dunia 1998. Menghadapi Bolivia di laga hidup mati, ia sukses membawa negaranya menang meyakinkan 3-0. Hasil ini sekaligus menjadikan La Roja sebagai negara terakhir dari Amerika Latin yang lolos ke Prancis. Ini sekaligus jadi Piala Dunia pertama sang bintang dan timnas Cile setelah absen di tiga edisi sebelumnya.

Penganut Takhayul dan Penggila Nomor 9

Unsur klenik memang tak bisa dipisahkan dari seorang pesepak bola. Sudah banyak dari mereka yang melakukan hal-hal aneh yang dipercaya bisa membawa keberuntungan.

Cara ini juga digunakan Ivan Zamorano selama masih bermain. Walau begitu, kepercayaan sang legenda pada hal-hal yang tidak masuk akal terjadi karena keadaan yang sedikit memaksa.

Ya, pada 1996 silam, Zamorano mengalami cedera di pergelangan tangan. Ia kemudian dilarang dokter untuk bermain bola selama beberapa bulan karena bisa membuat cederanya makin parah.

Namun, pemain berjuluk Bam-Bam tidak ingin hanya menjadi pesakitan. Ia merasa dirinya masih kuat berlari dan berduel di lapangan. Dokter yang tidak punya pilihan selain menuruti keinginannya akhirnya menemukan cara alternatif.

Ia memberi Zamorano pelindung tangan. Ajaibnya, cara ini langsung berbuah manis. Pada laga pertamanya menggunakan wrist tape, Bam-Bam langsung mencetak hat-trick.

Apa yang kemudian terjadi sudah bisa ditebak. Sejak saat itu Bam-Bam tak pernah melepas pelindung tangan dari tangan kanannya itu. Bahkan ketika cederanya pulih pun, ia tetap menggunakan pelindung tangan berwarna putih tersebut. Menurutnya, itu bukan sekadar pembawa keberuntungan, tapi juga penambah percaya diri di lapangan.

“Orang-orang mengira saya masih cedera selama ini karena tetap memakai wrist tape itu. Tapi saya tegaskan bahwa saya baik-baik saja dan saya tidak akan melepaskannya selama berada di lapangan. Ini adalah identitas baru saya,” kata Zamorano seperti dilansir Marca.

en cancha

Jika sudah cinta, susah untuk seseorang meninggalkannya. Ungkapan ini juga layak disematkan pada Zamorano. Kepercayaannya pada pelindung tangan andalan bukan satu-satunya hal yang dia pertahankan.

Ada pula nomor punggung yang selalu ia kenakan, di mana pun dia berada. Bam-Bam adalah penyuka nomor sembilan. Pilihannya ini juga selaras dengan posisinya sebagai striker mematikan.

Baik saat memperkuat Colo-Colo, Real Madrid, timnas Cile, dan Inter Milan, ia tak pernah mau dipisahkan dengan nomor sembilan. Ujian kemudian datang ketika Inter saat itu mendatangkan Ronaldo 1997 silam, tepat setahun setelah kedatangannya.

Seperti halnya Bam-Bam, Ronaldo juga pemegang nomor sembilan. Presiden Inter saat itu, Massimo Moratti juga sudah menjanjikan nomor sembilan untuk legenda Brasil.

Di sisi lain, Bam-Bam dibuat nelangsa dengan keadaan. Ia tak mau nomor kecintaannya diambil si anak baru. Tapi dia juga tidak ingin membuat gaduh tim dengan menolak memberikan nomor tersebut.

Pada akhirnya, Zamorano mengalah. Tapi dia tidak pernah benar-benar meninggalkan nomor andalannya itu. Kegilaannya pula yang akhirnya membuat dia memilih nomor tak wajar, yaitu 1+8, yang kalau dijumlahkan menjadi sembilan. Sampai saat ini, Ivan Zamorano jadi satu-satunya pemain yang menggunakan kombinasi nomor seperti itu.

Pasangan Emas Zamorano-Marcelo Salas

Kehabatan Ivan Zamorano mungkin tidak akan terasa seperti sekarang jika tidak ada Marcelo Salas di sisinya. Kendati mereka tidak pernah bermain bersama di satu klub, kerja sama keduanya tak pernah pudar ketika sudah berseragam La Roja.

Jika dilihat dari latar belakang, Zamorano dan Salas jelas berbeda. Bam-Bam berasal dari keluarga sederhana. Untuk bermain bola saja, dia harus membagi waktu dengan bekerja untuk menopang ekonomi keluarga.

Sedangkan Salas berasal dari keluarga berada. Ayahnya adalah pengusaha yang cukup terpandang di daerah Atamaca. Meskipun dunia mereka sangat berbeda, mereka punya satu kesamaan sejak usia dini. Yakni kemampuan dan perjuangan untuk meraih sukses dengan cara sendiri.

these football times

Perbedaan tidak hanya terjadi dari latar belakang kehidupan. Tapi juga tipe permainan. Sama-sama menempati posisi sebagai striker utama, Zamorano adalah pemain yang gigih mempertahankan dan merebut bola. Dia juga punya lompatan tinggi hingga dikenal punya sundulan mematikan sekali pun lawan yang dihadapi punya postur lebih tinggi darinya.

Adapun Salas sosok striker yang mengandalkan kecepatan dan penempatan posisi jempolan. Kekuatan kaki kiri dan kanan yang sama baiknya juga jadi kelebihan lain pemain asal Temuco.

Duet Zamorano dan Salas berawal pada 1994, tepat di tahun pertama mantan pemain Lazio mengenyam seragam tim nasional. Keduanya sukses mencetak gol saat menghadapi Argentina pada laga persahabatan. Ketika itu Bam-Bam mencetak dua gol dan El Matador mengoleksi satu gol saat kedua tim bermain imbang 3-3.

Setelah itu, dunia menyadari bahwa dua ujung tombak ini bisa bermain bersama dalam satu lapangan. Maret 1995 melawan Meksiko, Zamorano menjadi pelayan untuk gol kemenangan yang dicetak Salas.

Kehebatan mereka terus berlanjut hingga kualifikasi Piala Dunia 1998. Zamorano dan Salas kembali terlibat dalam gol Cile saat menghancurkan Ekuador 4-1. Mantan pemain Real Madrid kembali mencetak dua gol kala itu dan eks bintang River Plate memborong satu gol serta satu assist untuk sang rekan.

Tak henti-hentinya mencetak gol, dua bintang ini pun sukses memastikan satu tempat untuk Cile di putaran final Piala Dunia Prancis. Lebih hebat lagi, mereka keluar sebagai top skorer kualifikasi zona CONMEBOl dengan mencetak 11 gol dan 12 gol.

Kebersamaan dua legenda ini akhirnya berakhir 2002 silam. Cile yang gagal lolos ke Piala Dunia membuat Ivan Zamorano mengakhiri pengabdiannya untuk negara. Sedangkan Salas yang lebih muda masih terus berseragam La Roja hingga enam tahun setelahnya.

Terlepas dari akhir karier yang tak begitu gemilang, era Zamorano dan Salas telah mengilhami generasi baru Cile untuk terus bermimpi. Sampai saat ini Zamorano adalah salah satu pencetak gol terbanyak Real Madrid. Dan Salas merupakan pemain Cile tersukses di Italia.

Berjasa untuk negara, keduanya juga bersinar di Eropa. Keduanya punya tekat yang kuat untuk menjadi yang terbaik yang mereka bisa. Dan dengan Ivan Zamorano dan Marcelo Salas ada dalam satu tim, sebuah kemustahilan bisa berubah jadi sebuah kemungkinan.

CileIvan ZamoranoLegendaLegenda Internasional