Jari Litmanen: Raja Finlandia yang Melampaui Ayah dan Ibunya

Football5star.com, Indonesia – Bukan rahasia lagi jika benua Eropa melahirkan banyak talenta luar biasa di dunia sepak bola. Tapi anggapan tersebut bisa jadi pengecualian untuk negara-negara yang terletak di Eropa Utara. Salah satunya Finlandia.

Finlandia, sebagaimana negara Nordik lainnya, tidak terlalu kuat dalam hal sepak bola. Maklum saja, Si Kulit Bundar hanya menjadi olahraga ketiga di sana setelah hoki maupun balapan jet darat Formula 1.

Bisa dihitung pula para pemain terkenal yang berasal dari Finlandia. Sekarang yang paling kesohor hanyalah striker milik Norwich City, Teemu Pukki. Sebelumnya terdapat pula nama-nama familiar seperti Mikael Forssell, Sami Hyypia, maupun Jussi Jaskalainen.

Akan tetapi, mereka semua mungkin tak pernah bisa mencapai level legenda terbesar negara, Jari Litmanen. Punya caps terbanyak bersama timnas dengan 136 penampilan, Litmanen merupakan pemain Finlandia pertama yang sukses merengkuh trofi Liga Champions.

Ia meraihnya ketika memperkuat Ajax Amsterdam pada 1994-1995 silam. Butuh waktu 10 tahun untuk Finlandia membawa pemainnya lagi ke puncak kejayaan Eropa saat Sammy Hyypia memenangkan Si Kuping Besar bersama Liverpool.

Berbicara soal Jari Litmanen, kehebatan pemain yang satu ini memang tak bisa dilepaskan dari darah sepak bola yang mengalir dalam nadinya. Baik ayah maupun ibunya adalah seorang pesepak bola.

Lebih hebat lagi, keduanya sama-sama memperkuat timnas Finlandia dan FC Lahti pada waktu yang bersamaan. Sang ayah, Olavi, dikenal sebagai legenda Lahti karena hanya memperkuat klub tersebut sepanjang kariernya.

jari litmanen-HS
HS

Seperti halnya ayah dan ibu, Litmanen juga mengawali karier dari Lahti. Bersama klub kota kelahiran pula dia menggoreskan debut di tingkat profesional 1990 silam. Tepat pada usia yang baru menginjak 16 tahun.

Litmanen sepertinya tidak ingin terlalu lama bermukim di kampung halaman. Ia tidak seperti orang-orang Finlandia yang egaliter dan tidak banyak menuntut dengan apa yang sudah digenggam.

Dia ingin keluar dari tanah kelahiran. Mencari gengsi dan tantangan yang takkan pernah ia raih jika tetap bertahan di Finlandia.

Hanya dua tahun setelah merasakan debut di tingkat profesional dan sempat memperkuat beberapa klub besar seperti HJK Helsinki dan MYPA, pemain yang akrab disapa Liti pindah ke Ajax.

Pergulatan Liti di Belanda dilalui penuh liku. Bukan perkara mudah untuknya bisa beradaptasi di kota metropolis yang hiruk pikuk seperti Amsterdam. Maklum saja, kampung halamannya di Lahti jauh dari pusat kota dan dikenal sebagai salah satu kota paling tenang di Finlandia.

Usianya yang baru menginjak 18 tahun membuat Liti lebih sering duduk di bangku cadangan. Situasi makin parah karena pelatih Louis van Gaal tak begitu senang dengan kehadirannya di tim. Imbasnya, pemain bernama lengkap Jari Olavi Litmanen terpaksa berjuang dari tim cadangan selama semusim.

Kondisi ini memang tak lepas dari keberadaan Dennis Bergkamp yang punya posisi sama dengan Litmanen. Sebagai produk asli Ajax, tidak ada alasan untuk Van Gaal mencadangkan Bergkamp.

Tak Diinginkan Van Gaal, tapi Direkomendasi Fisioterapis

Cobaan Jari Litmanen di Ajax bukan hanya adaptasi kehidupan saja. Tapi juga bagaimana cara dia meyakinkan pelatihnya, Louis van Gaal. De Telegraaf melansir bahwa Van Gaal tidak suka dengan gaya permainan sang gelandang yang stylish dan tak mau mengejar bola seperti Litmanen.

Hal ini pula yang membuat Liti tetap jadi pilihan kedua di awal musim 1993. Ketika Dennis Bergkamp mengalami cedera lutut pun, Van Gaal lebih memilih Martijn Reuser yang lebih muda.

Litmanen pasrah dengan pilihan sang pelatih, Pintu keluar Amsterdam Arena pun sudah mulai tumbuh di benaknya. Tapi ada jalan lain yang dibuka oleh fisioterapis klub saat itu.

Sang fisioterapis lah yang meyakinkan Van Gaal bahwa bintang Finlandia lebih cocok menggantikan peran Bergkamp. Pelatih eksentrik itu akhirnya memberi kesempatan untuk Liti tampil. Dengan catatan, dia harus melakukan apa yang Van Gaal inginkan.

Hasilnya luar biasa. Liti jadi pemain yang punya jelajah paling tinggi di Ajax ketika itu. Menjadi penghubung antara lini belakang dan depan, ia menjelma sebagai konduktor tim. Dia berubah dari pemain yang sebelumnya cenderung defensif menjadi pemain yang lebih menyerang.

jari litmanen-hufvudstadsbladet
hufvudstadsbladet

Sekali pun tidak diberkati kecepatan tinggi, juga kekuatan mumpuni untuk melakukan duel dengan pemain lain, Litmanen tumbuh dengan naluri dan rasa percaya dirinya. Kelebihan ini pula yang akhirnya membuat posisi Liti tak tergantikan sebagai nomor 10 Ajax.

Puncak kejayaan pemain berjuluk Merlin terjadi pasa musim 1994-1995. Ia memenangkan segalanya bersama klub ibu kota Belanda. Liga Champions, Eredevisie, dan Piala Super Belanda sukses diraih.

Menjalani musim tanpa sekali pun tersentuh kekalahan, Litmanen jadi nyawa permainan De Amsterdamers. Menorehkan 27 gol di semua kompetisi, ia jadi pemain tengah paling produktif ketika itu.

Pemain kelahiran 20 Februari 1971 silam tak kehilangan sentuhan magis semusim berikutnya. Walau gagal mempertahankan status sebagai raja Eropa, ia keluar sebagai top skorer Liga Champions.

Ia mencetak sembilan gol sepanjang turnamen. Membawa Ajax menembus final keduanya secara beruntun, Liti sukses mengukir sejarah. Dia jadi satu-satunya pemain Finlandia sampai saat ini yang masuk tiga besar ballon d’or 1996.

Hantu Cedera dan Kegagalan Setelahnya

Jari Litmanen sepertinya hanya didaulat untuk besar bersama Ajax. Di klub lain yang ia bela setelahnya, sang legenda kehilangan taji sebenarnya.

Misteri pun muncul dengan kegagalan yang menyertainya di Barcelona dan Liverpool. Ia mengalami serangkaian cedera di sana. Mulai dari cedera lutut kambuhan, hingga masalah hamstring yang meredupkan kariernya dalam gemerlap LaLiga serta Premier League.

Masalahnya, tujuh tahun memperkuat Ajax Amsterdam, Liti jarang diterpa cedera. Bahkan ia pernah tak tersentuh cedera dalam dua musim kompetisi. Tapi apa yang terjadi ketika dia dibawa Louis van Gaal ke Barcelona memunculkan tanda tanya.

Atraktifnya LaLiga membuat bulan madu Litmanen dan Van Gaal tak berjalan sempurna. Praktis, dua musim di Camp Nou ia hanya mampu mencatatkan 32 penampilan.

Petualangan berlanjut ke Inggris yang lebih keras. Liverpool yang sedang memulai era baru bersama Gerard Houllier datang untuk mengembalikan kepercayaan dirinya.

Ia disambut dengan sebutan pemain kelas dunia oleh Houllier. Tapi sekali lagi, masalah kebugaran menghantuinya. Houllier pula yang kemudian menegaskan bahwa bintang Finlandia itu mustahil dimainkan selama 90 menit.

Walau begitu, ceritanya berjalan lebih baik di Liverpool. Tidak hanya catatan penampilan dan jumlah gol yang lebih membanggakan dari Barcelona, dia juga sukses mempersembahkan dua gelar Piala Liga dan Piala FA saat berkostum The Reds.

jari litmanen-daily mail
Daily Mail

Kendati terus bermasalah dengan cedera, kehadiran Jari Litmanen tetap jadi daya tarik tersendiri untuk penduduk Liverpool. Salah satunya adalah pemuda 16 tahun yang kemudian menjelma sebagai legenda Inggris, Wayne Rooney.

Permainan dinamis Liti membuat Rooney muda bertanya-tanya. “Saya bingung pertama kali melihatnya. Bagaimana bisa Jari membuat ruang untuk dirinya sendiri di tengah? Tidak ada yang bisa mengganggunya dan itu sangat luar biasa,” katanya seperti dikutip The Athletic.

“Dia adalah pemain yang paling sering saya tonton. Jari membuat pertandingan seolah-olah menjadi miliknya dan hanya dia yang tahu kapan gol akan tercipta,” sambung Rooney.

Kegagalan akhirnya memaksa Litmanen kembali ke Ajax pada 2002. Tapi di era kedua, cerita sudah berbeda untuknya. Dengan usia yang mulai senja, ia kembali jadi pesakitan.

Cedera pula yang kemudian membuat Liti berpindah-pindah klub, mulai pulang ke FC Lahti, Hansa Rostock, Malmo, Fulham, hingga memutuskan gantung sepatu bersama HJK Helsinki 2012 silam.

Hantu cedera yang meredupkan sinarnya masih terus dia kenang hingga sekarang. “Saya membentuk diri jadi pemain besar selama bertahun-tahun, tapi kemudian hancur hanya dalam hitungan bulan,” kata Jari Litmanen seperti dikutip Football5star dari These Football Times.

jari litmanen-tage ronnqvist
tage ronnqvist

Bagaimana pun juga, Litmanen adalah jenis gelandang khusus, seorang yang lahir dari teori liberal kontra-intuitifnya Johan Cruyff. Dia bukan playmaker yang mempertontonkan keindahan, dia justru antitesis dari keindahan itu. Tapi dia adalah pemain tampil dengan penuh ketenangan, dan terkenal brilian.

Lahir di negara yang selalu mengagug-agungkan olahraga hoki es, Litmanen sukses mengilhami anak-anak muda Finaldia untuk meninggalkan dinginnya es demi sebuah kehangatan di rumput hijau.

Atas dampak yang telah dia tinggalkan, dan segala inspirasi yang ia wariskan, membuat sosok Jari Litmanen abadi dalam sebuah patung yang berdiri gagah di kota kelahirannya, Lahti. Patung bernama Kuningas (Jari sang raja) jadi bukti betapa agungnya dia.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More