Jelang Liga 1 2020: Kerasnya Kompetisi Pelatih Lokal dan Impor

Football5star.com, Indonesia – Liga 1 2020 akan bergulir tak kurang dari sepekan lagi. Semua tim telah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Semua pelatih pun telah mematangkan persiapan guna menerapkan skema andalan.

Sebagaimana Liga 1 edisi-edisi sebelumnya, pelatih adalah posisi yang sangat riskan. Salah sedikit saja, karier jadi taruhannya. Tidak mampu membuat manajemen atau suporter senang, pemecatan bisa mereka rasakan kapan saja.

Untuk Liga 1 2020 nanti, tekanan untuk para pelatih tak kunjung padam. Bahkan bisa dibilang makin menghantui mereka yang sudah kepalang dibebankan target menjulang.

Indra/F5S

Kendati demikian, situasi seperti itu tidak menciutkan nyali para peramu taktik ini. Mereka siap memberikan yang terbaik dan menjawab semua pertanyaan dengan hasil gemilang di lapangan.

Pertaruhan tidak hanya terasa antara pelatih dan manjemen saja, dari sisi pribadi seorang pelatih, persaingan antara mereka juga tak kalah pentingnya. Ya, mereka akan mempertaruhkan gengsinya di kompetisi level tertinggi Indonesia.

Persaingan Pelatih Lokal dan Impor

Pelatih lokal tentu ingin menunjukkan taji dan membuktikan diri bahwa mereka bisa lebih baik dari pelatih asing. Dan musim ini, nama-nama nakhoda terbaik Indonesia tetap jadi pusat perhatian.

Nama-nama beken seperti Aji Santoso, Nil Maizar, Rahmad Darmawan, Djajang Nurjaman yang kembali berkompetisi. Dari keempat nama tersebut, hanya Rahmad Darmawan yang berganti klub dari musim lalu.

Setelah gagal menjaga konsistensi Tira Persikabo di paruh kedua Liga 1 2019, ia kini hadir sebagai pelatih Madura United. Tugas pertamanya pun tak begitu mengecewakan dengan membawa tim berjuluk Sapi Kerap ke semifinal Piala Gubernur Jatim 2020.

Aji Santoso senang melihat Makan Konate bangkit pada laga Persebaya Surabaya vs Madura United.
persebaya.id

Selain mereka, ada beberapa nama baru yang unjuk gigi. Mereka adalah Hendri Susilo, Joko Susilo, serta Widodo C Putro. Untuk urusan jam terbang, ketiganya tentu tak perlu diragukan lagi.

Hendri Susilo pernah membesut Persisam Putra Samarinda dan berguru pada pelatih legendaris Indonesia, Benny Dollo. Kini ia datang dengan panji Persiraja Banda Aceh yang dibawa promosi ke kasta tertinggi Indonesia untuk pertama kali dalam 17 tahun terakhir.

Berkat tangan dinginnya pula Persiraja mencatatkan rekor sempurna di kandang. Bayangkan saja, klub asal Aceh memenangkan seluruh pertandingan kandangnya di Liga 2 musim lalu.

Satu nama lain yang pantang dianggap enteng tentu saja Widodo C Putro. Ya, dia adalah legenda hidup Indonesia. Karier melatihnya pun sangat mentereng, terutama ketika menukangi Bali United selama dua musim.

Kendati musim lalu terlempar ke Liga 2, Widodo tak kehilangan sentuhan magis. Terbukti, ia mampu membawa Persita Tangerang promosi ke Liga 1 pertamanya.

Nama-nama tersebut akan kembali berhadapan dengan pelatih impor yang sudah terkenal di sepak bola Indonesia. Sudah cukup sering mereka menghadapi Jackson F Thiago, Mario Gomez, Robert Alberts, maupun Stefano Cugurra Teco.

Tapi musim ini, tugas para pelatih lokal bertambah dengan kedatangan pelatih luar yang baru menginjakkan kakinya di Indonesia. Sebut saja Paul Munster, Edson Tavares, Dragan Djukanovic, Sergio Farias, Igor Kriuschenko, maupun Bojan Hodak.

Untuk dua nama pertama tentu tidak begitu asing di telinga. Sudah sejak paruh kedua musim lalu Paul Munster menukangi Bhayangkara FC. Tuahnya langsung terasa dengan membawa Bhayangkara melejit dari papan tengah ke papan atas Liga 1 2019.

Begitu pula dengan Edson Tavares yang pertengahan musim datang untuk menyelamatkan Persija Jakarta dari keterpurukan. Kali ini ia akan membangun timnya sendiri di Borneo FC.

Robert Alberts - Persib Bandung - Launching - @persib_official 2
@persib_official

Jika dilihat dari komposisi pelatih di atas, ada 11 pelatih asing di Liga 1 2020 mendatang. Jumlah ini sama dengan apa yang terjadi pada awal musim Liga 1 2018 lalu.

Sementara itu, sejak era Liga 1, kompetisi di tahun 2017 bisa dibilang sebagai pembuktian pelatih-pelatih lokal di level tertinggi. Bagaimana tidak, ada 10 pelatih asli Indonesia yang menukangi klub Liga 1, berbanding delapan pelatih yang merupakan produk impor.

Akan tetapi, satu catatan yang pasti adalah belum ada pelatih Indonesia yang mampu mengangkat trofi Liga 1. Ya, sejak era Liga 1 digulirkan 2017 lalu, para pelatih asing lah juaranya.

Sebut saja Simon McMenemy bersama Bhayangkara FC dan Stefano Cugurra Teco di Persija jakarta dan Bali United. Maka tak ayal, tujuh pelatih lokal tahun ini akan berjuang mati-matian untuk jadi pelatih asli Indonesia pertama yang menjadi raja di negeri sendiri.

Potensi Pecat-Memecat Pelatih

Seperti yang sudah disinggung di atas, kata “pecat” akan terus menghantui 18 pelatih sepanjang Liga 1 2020 bergulir. Baik itu pelatih lokal maupun pelatih luar, ancaman tersebut terlihat nyata di depan mata.

Tidak ada yang bisa menjamin kedudukan mereka sebagai pelatih. Jika terus menuai hasil buruk, pemutusan kontrak ganjarannya.

Madura United adalah klub yang di era Liga 1 selalu memecat pelatih. Mulai dari Gomes de Oliviera yang dipecat dua kali, hingga Dejan Antonic. Tim-tim besar yang mempekerjakan pelatih jempolan juga tak luput dari masalah tersebut.

Madura United - Dejan Antonic - PSS Sleman - @MaduraUnitedFC
instagram.com/MaduraUnitedFC

Kita tahu bagaimana terpuruknya Persib Bandung di Liga 1 2017 memaksa mereka membebastugaskan pelatih asli Jawa Barat, Djajang Nurjaman. Memori indah ketika membawa Maung Bandung juara Liga Indonesia 2014 sama sekali tak berbekas saat dia gagal meningkatkan performa tim di Liga 1 edisi pertama.

Apa yang dilakukan Persija Jakarta musim lalu lebih parah lagi. Tak tanggung-tanggung, dalam semusim, mereka mempekerjakan tiga pelatih. Uniknya, ketiga pelatih tersebut adalah pelatih impor seperti Ivan Kolev, Julio Banuelos, dan Edson Tavares. Dengan tren seperti itu, kemungkinan seorang pelatih dipecat akan segera kita dengar.

Terlepas dari contoh di atas, masih ada klub yang mempekerjakan satu pelatih dalam semusim. Lihat saja sepak terjang PSM Makassar yang di era Liga 1 belum pernah memecat pelatih di tengah jalan.

Robert Alberts berada di Stadion Andi Mattalata selama dua musim. Dalam dua musim itu ia sukses membawa PSM bersaing menuju tangga juara. Sedangkan musim lalu, Darije Kalezic tetap dipertahankan hingga musim berakhir kendati tim tercecer ke posisi ke-11

Lalu, apakah hal tersebut jadi pertanda Bojan Hodak akan aman dari tren pemecatan ala Liga 1? Tentu saja tidak. Bisa dibilang manajemen PSM Makassar takkan sesabar musim-musim sebelumnya. Dua kali bersaing untuk juara, bisa dipastikan Munafri Arifudin tidak ingin timnya terlempar lagi dari lima besar.

Menanti Hat-trick Stefano Cugurra Teco

Satu nama yang kiprahnya ditunggu pada Liga 1 2020 adalah Stefano Cugurra Teco. Dia adalah pelatih tersukses di era Liga 1. Selama dua musim beruntun ia mengangkat trofi dengan dua klub berbeda.

Bahkan musim lalu torehannya sangatlah luar biasa. Memastikan juara liga bersama Bali United ketika kompetisi masih menyisakan enam pertandingan lagi.

Musim ini, Bali United makin kokoh dengan hadirnya muka-muka baru seperti Nadeo Argawinata, Gavin Kwan Adsit, ataupun Hariono. Dua pemain ini akan menularkan semangat juang dan pengalaman untuk membantu Serdadu Tridatu mempertahankan gelar.

Stefano Cugurra Teco menorehkan rekor sebagai pelatih pertama yang menjuarai Liga Indonesia beruntun bersama klub berbeda.
baliutd.com

Tampil hampir tanpa celah musim lalu, Bali dipercaya kembali jadi favorit juara musim ini dengan masuknya pemain-pemain baru yang dibutuhkan. Apalagi keberadaan Teco juga akan jadi faktor yang sangat menentukan.

Pelatih asal Brasil memang spesialis papan atas. Saat pertama kali bertugas di Persija Jakarta 2017 lalu, ia juga membawa klub ibu kota berada di empat besar. Dan setahun berselang dengan komposisi pemain yang tidak banyak berubah, dia berhasil mengakhiri penantian juara Macan Kemayoran selama 17 tahun.

Tren seperti itu kemungkinan besar akan terjadi lagi musim ini. Memiliki skuat yang makin sempurna, ditambah finansial klub yang sangat mumpuni, hat-trick juara Teco menjadi sebuah keniscayaan.