Joko Driyono dari Jurnalis hingga Masuk Hotel Prodeo

Football5star.com, Indonesia – Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (23/7/2019) menjatuhkan hukuman 1 tahun 6 bulan kepada mantan plt Ketua Umum (Ketum) PSSI, Joko Driyono atas kasus pengerusakan barang bukti.

Keputusan ini menjadi lembaran hitam bagi rekam jejak seorang Joko Driyono di belantika sepak bola tanah air. Vonis terhadap pria yang akrab disapa Jokdri ini tentu jadi pukulan bagi federasi sepak bola Indonesia (PSSI).

Jokdri jadi sosok kedua setelah Nurdin Halid yang merasakan dinginnya jeruji besi karena masalah hukum. Perjalanan Jokdri hingga sempat menjadi orang nomor satu di sepak bola nasional sangat panjang.

Ia mengawali kariernya selama beberapa tahun menjadi seorang jurnalis olahraga. Ia kemudian mendapat kesempatan untuk menjadi manajer untuk klub Pelita Krakatau Steel.

Sekedar informasi, klub yang berjuluk The Volcano tersebut merupakan klub yang dibangun oleh Nirwan Bakrie. Awalnya klub ini bernama Pelita Jaya kemudian menjadi Pelita Solo.

Dua tahun (2000 hingga 2002) bermarkas di Stadion Manahan Solo, pada 2002 kedekatan Nirwan Bakrie dengan bisnis baja membuat klub ini kemudian berganti nama menjadi Pelita Krakatau Steel. Nama ini bertahan dari 2002 hingga 2006.

Joko Driyono seperti dikutip dari bolasport, pada awal 1990-an memang mendapat tawaran untuk bergabung di PSSI. Awalnya menjadi seorang anggota biasa, Jokdri akhirnya bisa mendapatkan posisi strategis.

Pria kelahiran Ngawi ini tercatat pernah menjabat sebagai CEO PT Liga (Operator ISL), Sekjen PSSI, Wakil Ketua, hingga terakhir menjadi plt Ketum PSSI di era Edy Rahmayadi.

Kasus mafia bola

Mencuatnya kasus mafia pengaturan skor di Liga Indonesia membuat Jokdri jadi sasaran tembak. Saat Satgas Antimafia Bola dibentuk olek kepolisian, Jokdri pada awal Januari 2019 sempat diperiksa.

Sayangnya pemeriksaan Jokdri yang sedianya tanggal 18 Januari 2019 harus tertunda. Jokdri tak bisa memenuhi panggilan satgas karena alasan kongres PSSI di Bali.

Satgas Antimafia Bola menetapkan Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, sebagai tersangka kasus pengaturan skor.

“Berhubung besok (19 Januari 2019) terbang ke Bali untuk kongres, saya pun mengajukan penjadwalan ulang pemeriksaan,” kata Jokdri.

Sementara itu, Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo membenarkan adanya penjadwalan ulang yang diminta oleh Jokdri. “Satgas Anti Mafia Bola sudah mendapat surat resmi dari PSSI untuk saudara Joko, waketum PSSI, dia minta pengunduran tanggal 24 Januari,” ucap Dedi.

Jokdri pun pada akhirnya diperiksa oleh Satgas Antimafia Bola. Pada pemeriksaan keempat pada Maret 2019 lalu, ia diperiksa sampai 13 jam. Pada dua pemeriksaan sebelumnya, Jokdri diperiksa selama 20 jam.

Tak berselang lama dari pemeriksaan keempat, kepolisian akhirnya pada 25 Maret 2019 menetapkan Jokdri sebagai tersangka kasus pengrusakan barang bukti.

“Saudara JD diperiksa tadi pukul 10.00 WIB, lalu kami gelar perkara sekitar pukul 14.00 WIB, setelah itu kami lakukan penahanan terhadap yang bersangkutan,” ujar Kepala Satgas Antimafia Bola Polri Brigadir Jenderal Hendro Pandowo saat itu.

Kasus hukum lain?

Publik saat itu belum puas dengan status tersangka di kasus itu saja. Pihak kepolisian sendiri lewat Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, Jokdri bisa berpotensi menjadi tersangka kasus pengaturan skor.

“Ya betul, indikasi sangat kuat ke situ [menjadi tersangka dalam kasus pengaturan skor],” ujar kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri.

Gusti Randa Joko Driyono Bukan Jadi Tersangka Pengaturan Skor Iwan Budianto - PSSI

Tim Satgas Antimafia Bola juga akan sesegara mungkin memeriksa aliran dana Jokdri. Pihak kepolisian kabarnya sudah mendapat surat dari PPATK untuk melakukan penyelidikan lebih jauh aliran dana Jokdri.

“Sudah ada surat dari PPATK, tentunya itu perlu pembuktian yang mendalam juga dengan beberapa dokumen yang saat ini sudah disita oleh satgas. Itu akan dianalisa lagi,” ujar Brigjen Dedi Prasetyo.

Setelah ditetapkan tersangka di kasus pengerusakan barang bukti dan menjadi beberapa kali sidang, mantan jurnalis olahraga ini harus mendekam di hotel prodeo selama 1 tahun 6 bulan atau 1 tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum.

Comments
Loading...