Kabar Terbaru Dino Baggio, Buangan Juventus yang Gemilang di Parma

Football5Star.com, Indonesia – Pada era 1990-an, Dino Baggio termasuk salah satu gelandang terbaik di Italia. Namun, gara-gara namanya, dia selalu berada di bawah bayang-bayang Roberto Baggio. Apalagi saat sama-sama membela Juventus dan timnas Italia. Sampai-sampai dia disebut sebagai Baggio 2.

Ada banyak kisah menarik yang dialami Dino Baggio selama aktif sebagai pemain. Salah satunya adalah kisah pendepakannya dari Juventus pada 1994. Kala itu, dia merasa dikerjai oleh trio petinggi I Bianconeri saat itu: Luciano Moggi, Antonio Giraudo, dan Roberto Bettega.

Dino Baggio gagal bergabung dengan AC Milan karena dibuang Juventus ke Parma.
Getty Images

“Juve menjual saya ke Parma tanpa memberitahukan itu kepada saya terlebih dahulu. Saya sebenarnya mendapatkan tawaran dari AC MIlan. (Fabio) Capello ingin saya menemani (Demetrio) Albertini di lini tengah. Saya menyukai rencana itu,” urai Baggio seperti dikutip Football5Star.com dari Virgilio Sport.

Gara-gara itu, Dino Baggio sempat tak menikmati masa-masanya di Parma. Namun, perlahan tapi pasti, cinta tumbuh. Apalagi setelah dia meraih sukses di klub itu dengan antara lain mengalahkan Juventus di final Piala UEFA (sekarang Liga Europa, Red.)

“Sekarang, saya mengenang tahun-tahun itu sebagai yang terindah dalam karier saya. Tidak mungkin tak merasa baik di sana. Kami kala itu sangat kuat. Kami tak meraih Sucetto hanya karena tahun-tahun itu memang sulit bersaing dengan Juventus karena banyak alasan,” kata dia kepada La Gazzetta dello Sport.

Kembali ke Sepak Bola

Dino Baggio resmi gantung sepatu pada 2006. Klub terakhirnya adalah Triestina. Setelah itu, dia sempat menjadi pelatih tim muda Padova, lalu agak menjauh dari sepak bola. Berkat pengaruh istrinya, Maria Teresa Mattei, dia sempat menjajal dunia teater.

Akan tetapi, garis hidupnya memang sepak bola. Pada 2016, Dino Baggio menerima tawaran Marzio Brombal menangani para talenta muda di Montebelluna. Dia mengaku tertantang untuk mencetak pemain-pemain tangguh.

Dino Baggio saat tim U-15 Montebelluna beruji tanding dengan Parma pada 2018.
parmacalcio1913.com

“Sekarang, saya melatih tim U-17 Montebelluna. Saya menemukan kembali gairah mendidik anak-anak muda. Mereka harus paham bahwa tak ada yang dapat diraih tanpa pengorbanan. Hari-hari ini, saya seperti berbicara dengan para zombie. Mereka berpikir bisa melesat hanya dengan memakai sepatu CR7,” ujar pria yang kini berumur 48 tahun tersebut.

Dino Baggio mengaku sangat senang dengan perannya saat ini. Fokusnya bukanlah merebut trofi, melainkan menyiapkan pemain-pemain yang mampu “naik kelas”.

“Mendidik anak-anak muda itu indah. Melihat perkembangan mereka selama dua tahun sangatlah mengesankan, lebih dari sebuah kemenangan. Bukan hanya dari aspek teknik dan taktik, melainkan juga aspek karakter,” ungkap pemain yang juga sempat membela Lazio dan Inter Milan tersebut.

Alessandro dan Leonardo Baggio kini membela Monza.
venetogol.it

Pada tahun lalu, tepatnya April 2019, Dino Baggio sempat mendapat pukulan keras. Marzio Brombal yang menjadi presiden di klubnya, Montebelluna, meninggal dunia secara mendadak. Namun, hal itu tak menyurutkan langkahnya. Dia tetap tekun mengasah talenta-talenta muda.

Januari silam, secara pribadi, Dino Baggio dapat berbangga hati. Dua anak kandungnya, Alessandro dan Leonardo, “lulus” dari Montebelluna. Keduanya direkrut memperkuat tim junior Monza, klub yang sekarang dimiliki Silvio Berlusconi, eks bos besar AC Milan.