Kabar Terbaru Fabio Grosso, Pahlawan Italia 2006

Football5Star.com, Indonesia – “Non ci credo! (Saya tidak percaya!)” teriak Fabio Grosso saat mencetak gol pada menit ke-119 pada laga semi final Piala Dunia 2006. Grosso sebenarnya memiliki karier yang biasa saja selama bermain di klub. Bahkan 5 tahun sebelum Piala Dunia 2006, Grosso hanyalah pemain dari klub Serie C

Grosso memulai kariernya di usia 18 tahun saat dia menjadi bagian dari skuad utama Renato Curi, klub divisi 5 Liga Italia (Eccellenza) pada tahun 1995. Performa baiknya sebagai sayap kiri dan gelandang serang membuat dia berhasil membawa klubnya lolos ke Serie D pada tahun 1998.

Karena performanya itu dia langsung naik satu tingkat karena dia direkrut oleh klub Serie C2, Chieti di tahun yang sama. Bermain sebagai gelandang serang, performa Grosso di Chieti diperhatikan oleh scout dari Perugia yang pada saat itu bermain di Serie A. Dia akhirnya direkrut pada Juli 2001. Barulah pada musim keduanya di Perugia, dia dipasang di posisi bek kiri oleh pelatih Serse Cosmi dan terus bermain pada posisi itu sepanjang sisa kariernya.

@soycalcio_

Kejutan terjadi pada Januari 2004 ketika dia pindah ke tim Serie B, Palermo. Tapi Grosso hanya bermain setengah musim saja di Serie B karena Palermo berhasil promosi ke Serie A dengan status juara.

Selama dua musim di Serie A bersama Palermo, Grosso menjadi pemain inti dan berhasil membawa tim asal Sisilia itu finis di posisi 8 besar selama dua musim beruntun. Hal itulah yang menjadikan dia bersama 3 pemain Palermo lainnya dipanggil oleh Marcelo Lippi untuk memperkuat Italia di Piala Dunia 2006.

Piala Dunia 2006

Fabio Grosso sebenarnya bukan pemain starter di posisi bek kiri, melainkan Gianluca Zambrotta. Tetapi, Zambrotta mengalami cedera ringan saat latihan dan Grosso bermain di laga pertama melawan Ghana.

Grosso akhirnya dicadangkan saat laga melawan Amerika Serikat. Tapi performa buruk bek kanan Cristian Zaccardo pada laga itu (sekaligus mencetak gol bunuh diri) membuat Zambrotta di geser ke posisi kanan dan Grosso bermain di sisi kiri pada laga selanjutnya.

Pada babak 16 besar, Grosso menjadi pahlawan ketika tusukannya dari sisi kiri berhasil membuatnya dilanggar oleh Lucas Neill pada menit ke-92. Francesco Totti berhasil mencetak gol dan merubah keadaan menjadi 1-0.

Pada laga semi final melawan tuan rumah Jerman, Grosso mencetak gol pada menit ke-119 ketika tendangan melengkungnya masuk ke gawang Jens Lehmann. Puncaknya pada saat di laga final melawan Prancis, Grosso menjadi algojo penalti terakhir saat babak adu penalti dan membawa Italia menjadi juara dunia untuk ke-4 kalinya.

Kariernya Setelah Piala Dunia dan Kabarnya Saat Ini

Performanya setelah Piala Dunia membuat dia akhirnya memperkuat tim raksasa, Inter. Tapi dia hanya bermain di sana selama satu musim saja karena banyaknya pemain dengan posisi bek kiri saat itu. Tapi dia tetap bisa bermain 23 laga di Serie A dan mencetak dua gol dan membawa Inter Scudetto.

Fox Sports

Dia pindah ke Lyon pada 2007 dan memenangkan Ligue 1 pada musim pertamanya. Dia kembali ke Italia dan memperkuat Juventus pada 2009. Di usianya yang sudah tidak muda lagi dan sudah tak dipanggil oleh Lippi ke Piala Dunia 2010. Grosso memutuskan untuk pensiun pada 2012 di Juventus setelah dia hanya memainkan dua laga saja.

Setelah pensiun, Grosso mencoba peruntungannya dengan menjadi pelatih. Tapi kariernya sebagai pelatih tidak sebaik kariernya sebagai pemain, bahkan bisa dibilang sangat buruk.

Grosso pertama kali melatih Juventus Primavera sejak 2014-2017. Prestasinya biasa saja. Dia hanya bisa memenangkan Piala Viareggio di tahun 2016. Tapi dia selalu gagal juara di Liga atau Coppa Italia Primavera. Di UEFA Youth League bahkan dia tak pernah lolos dari babak grup.

Daily Mail

Dia akhirnya bisa melatih klub profesional, Bari, yang pada saat itu bermain di Serie B pada 2017. Grosso hanya bisa membawa Bari finis di posisi ke-7. Pada 2018, dia ditunjuk menjadi pelatih Hellas Verona yang baru terdegradasi ke Serie B. Tapi dia dipecat sebelum musim berakhir karena performa buruk klub.

Pada musim ini Grosso untuk pertama kalinya melatih klub Serie A, Brescia pada November untuk menggantikan Eugonio Corini. Tapi kariernya menangani Sandro Tonali dan Mario Balotelli sangat singkat. Dia dipecat setelah hanya memimpin 3 pertandingan. Ketiganya berakhir dengan kekalahan dan tanpa sekalipun mencetak gol.

Saat ini Fabio Grosso masih berstatus pelatih free agent. Dengan rekor buruknya sebagai pelatih, nampaknya akan sulit baginya untuk melatih klub Serie A paling tidak untuk saat ini.

Fabio GrossoInter MilanItaliaJuventusKabar TerbaruLyonPerugiaPiala Dunia 2006