Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pemain Ini Telat Buktikan Kehebatannya

Football5star.com, Indonesia – Tidak terhitung jumlahnya para pemain yang membuktikan kehebatannya ketika masih belia. Pele, Kaka, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Jadon Sancho, hingga Erling Haaland, adalah segelintir pemain yang menunjukkan talenta luar biasa saat usianya belum genap 20 tahun.

Pele, Kaka, Lionel Messi, dan Cristiano Ronaldo bahkan tampil konsisten ketika sudah berusia di atas kepala tiga. Namun, tidak semua pemain bisa seberuntung mereka.

Tidak sedikit pula pemain-pemain yang baru membuktikan kehebatannya ketika sudah memasuki usia matang. Mereka pun terbukti mampu meraih trofi baik atas namanya sendiri atau pun untuk klub.

Football5star telah merangkum lima pemain yang baru membuktikan kehebatannya saat memasuki usia senja:

  • Luca Toni
zimbio.com

Italia adalah rumah bagi striker-striker hebat. Mulai dari Alessandro Altobelli, Paolo Rossi, Christian Vieri, Alessandro Del Piero, hingga Filippo Inzaghi. Setelah era mereka berlalu, Gli Azzurri kembali memiliki striker ganas dalam diri Luca Toni.

Kendati begitu, usia Luca Toni sejatinya tak jauh berbeda dari Alessandro Del Piero maupun Inzaghi. Bahkan ia sempat satu tim dengan mereka ketika membawa timnas Italia juara Piala Dunia 2006.

Bedanya, Luca Toni baru bersinar ketika sudah menginjak usia 27 tahun. Padahal ia telah menjadi pemain profesional sejak berumur 17 tahun dengan memperkuat Modena. Tapi, baru ketika berseragam Fiorentina namanya mencuat.

Bersama Fiorentina ia dua kali menjadi top skorer Serie A. Torehan tersebut akhirnya membawanya memperkuat raksasa Jerman, Bayern Munich. Banyak yang meragukan kehebatannya 2007 silam. Maklum saja, usianya saat itu sudah menginjak 30 tahun.

Tapi lagi-lagi, Toni membuktikan kualitasnya. Pada tahun pertama di Bundesliga ia langsung menjadi top skorer dengan torehan 24 gol.

  • Dado Prso
pesmitidelcalcio

Kroasia adalah salah satu negara Balkan yang tak pernah berhenti menerbitkan talenta luar biasa. Di balik nama-nama beken seperti Zvonimir Boban, Davor Suker, hingga era Luca Modric kini, ada satu nama lain yang tak boleh dilupakan. Dia adalah Dado Prso.

Tidak seperti Boban, Suker, atau pun Modric yang memperkuat klub besar, Dado Prso lebih sering bermain di klub biasa-biasa saja. Tidak pernah pula ia merasakan kompetisi top Eropa seperti Premier League, Serie A, atau pun LaLiga.

Prso lebih banyak menghabiskan kariernya di Ligue 1 Prancis. Tapi bukan berarti ia menemui kemudahan di sana. Sudah memperkuat AS Monaco sejak 1997, kariernya cukup fluktuatif karena kerap dipinjamkan ke klub lain seperti Stade Raphaelois dan Ajaccio.

Dado Prso baru unjuk gigi pada musim 2002-2003. Padahal usianya sudah menginjak 30 tahun. Tapi jangan ragukan kehebatan pemain Kroasia tersebut. Duetnya dengan Fernando Morientes membuat dia sukses membawa AS Monaco menembus final Liga Champions untuk pertama kalinya.

Tampil luar biasa bersama Monaco, pemain yang sempat menjadi montir itu akhirnya pindah ke Glasgow Rangers setahun kemudian. Dia pun mengakhiri kariernya di raksasa Skotlandia pada 2007 silam.

  • Ian Wright
shoot.com

Siapa yang menyangka jika legenda Arsenal, Ian Wright, harus melalui jalan panjang menuju kesuksesan. Bagaimana tidak, ia sempat ditolak dua klub medioker Inggris, Southend dan Brighton. Padahal usianya ketika itu sudah 21 tahun.

Keputusan Crystal Palace mendatangkannya 1985 silam juga mendapat penolakan dari suporter. Mereka menganggap Wright tidak punya sesuatu yang membanggakan sebelumnya.

Cerita akhirnya berubah ketika paman dari Shaun-Wright Philips bergabung dengan Arsenal  1991 silam. Namun, saat itu dirinya sudah berusia 28 tahun. Walau begitu, di sinilah ia membuktikan talenta sesungguhnya. Tujuh musim bersama The Gunners, ia sukses membukukan 129 gol dan meraih satu trofi Premier League, dua Piala FA, dan satu gelar Piala Liga.

  • Jamie Vardy
@Vardy7

Jamie Vardy bisa dibilang sebagai pesepak bola paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak, ia nyaris putus asa saat berusia 23 tahun. Dia hanya bermain di klub semi pro Inggris seperti Stocksbridge dan Halifax Town, dan disaat bersamaan ia harus bekerja sebagai buruh pabrik untuk menopang hidupnya.

Nasib Vardy kemudian berubah 180 derajat dua tahun kemudian. Ia dibeli Leicester City dari Fleetwood 2012 lalu. Performanya memang tidak langsung mengilap di Stadion King Power. Namun, secara perlahan ia mulai menapaki kesuksesan.

Jamie Vardy baru benar-benar sukses ketika berusia 29 tahun. Saat itu ia sukses mempersembahkan trofi Premier League untuk Leicester City. Pada tahun itu pula dirinya terpilih sebagai pemain terbaik Liga Inggris.

Sempat mengalami naik turun performa, Vardy kembali membuktikan diri sebagai salah satu striker terbaik Inggris sepanjang masa. Musim ini, saat usianya sudah menginjak 33 tahun dia memimpin daftar top skorer Premier League dengan torehan 19 gol.

  • Antonio Di Natale
getty images

Nama terakhir yang telat bersinar adalah Antonio Di Natale. Berbeda dari nama-nama di atas, Di Natale punya pertimbangan sendiri dalam memilih klub. Memang, selama ini ia hanya memperkuat klub-klub semenjana semisal Empoli, Iperzola, Varese, hingga Udinese.

Kendati begitu, bukan berarti sang bomber tidak laku di bursa transfer. Beberapa klub besar seperti AS Roma, Inter Milan, dan Juventus, pernah ingin mendatangkannya. Namun, tawaran menggiurkan tersebut dia tolak.

Pilihan ini tak pelak membuat namanya terus meredup. Tapi Di Natale tidak seperti pemain lain. Ketika kolega yang lain seperti Filippo Inzaghi dan Alessandro Del Piero mulai tenggelam, legenda Udinese justru baru memulai kebintangannya.

Dia menasbihkan diri sebagai top skorer Liga Italia sebanyak dua kali. Lebih hebat lagi, gelar itu didapat ketika dirinya telah berusia 33 dan 35 tahun. Namanya juga masih dipanggil timnas Italia pada Euro 2012 lalu. Padahal saat itu dia telah berumur 35 tahun.  

Antonio Di NataleDidier DrogbaIan WrightJamie VardyKamu Pasti Gak Tahu!Luca Toni